fbpx
Connect with us

Peristiwa

Dampak Kekeringan Meluas, Ribuan Hektare Lahan Pertanian Gagal Panen, Gedangsari Jadi yang Terparah

Published

on

Gedangsari,(pidjar.com)–Musim kemarau yang melanda kabupaten Gunungkirul sejak beberapa bulan lalu, berdampak pada kondisi di sejumlah wilayah mengalami kekeringan parah. Selain masyarakat sulit mendapatkan air bersih, kondisi ini juga berdampak pada lahan pertanian yang mengalami puso atau gagal panen. Hingga awal bulan Juli ini, tercatat hampir 2000 hektare lahan pertanian diprediksi gagal panen. Dari 10 kecamatan yang dilanda kekeringan, Kecamatan Gedangsari menjadi yang terparah mengalami lahan kekeringan dan gagal panen.

Camat Gedangsari, Martono Imam Santoso mengatakan, bedasarkan pendataan yang dilakukan oleh petugas pertanian dengan pemerintah setempat, lahan kekeringan akibat musim kemarau yang melanda Gedangsari mencapai 860 hektare. Sebelumnya, dampak kemarau telah dirasakan masyarakat sejak beberapa bulan lalu dengan sulitnya mendapatkan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kemudian justru disusul dengan lahan yang mengering.

“Bulan Juli ini yang diperkirakan akan cukup berat dampaknya. Kita (Kecamatan) sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kabupaten untuk penangannnya,” ucap Martono Imam Santoso, Senin (01/07/2019).

Menurutnya hampir di seluruh desa yang berada di kecamatan Gedangsari mengalami kekeringan, terlebih letak geografis kecamatan ini yang berada di zona utara dan kondisinya mayoritas pegunungan. Koordinasi dengan Dinas Pertanian Pangan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul akan dilakukan untuk memecahkan permasalahan ini, ehingga dampak kekeringan tidak meluas lagi.

“Sekitar 860 hektare lahan gagal panen, estimasi kerugian 11 miliar dari hitung-hitungan petugas,” kata dia.

Pada pertengahan bulan Juli ini, Pemerintah Kecamatan Gedangsari bekerjasama dengan BPBD Gunungkidul akan segera melakukan dropping air di kawasan utara, seperti Tegalrejo, Sampang, Serut, Watugajah agar dapat mengurangi dampak kekeringan di kawasan ini.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika sebelum musim kemarau tiba pemerintah telah memberikan instruksi pada petani agar tidak menanam tanaman pangan jenis padi, mereka diarahkan menanam palawija. Di kawasan ini pula juga sebagian telah terdapat sumur bor, jika air tidak mengering masyarakat seringkali memanfaatkan air tersebut.

“Tanaman (padi) yang kering hanya digunakan untuk pakan ternak,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, total lahan puso di wilayah Gunungkidul terus meluas. Hingga saat ini lahan yang terdampak kekeringan dan dipastikan puso ada 1.927 hektare. Pihaknya sendiri terus melakukan pendataan terkait dengan lahan pertanian warga yang mengering.

“Terus meluas sebelumnya kan hanya 400 hektare yang puso, tapi pendataan yang dilakukan terus bertambah,” ucarnya.

Adapun wilayah pertanian yang terdampak kekeringan berada di sepuluh kecamatan, diantaranya yakni Kecamatan Semin seluas 505 hektare, Karangmojo 47 hektare, Ngawen 285 hektare, Girisubo 6 hektare, Ponjong seluas 10 hektare. Kemudian kecamatan Patuk 154 hektare, Wonosari 2 hektare, Playen 50 hektare, Gedangsari 860 hektare dan Nglipar seluas 8 hektare. Kerugian petani pun masih terus dilakukan hitung-hitungan oleh petugas.

“Potensi kerugian 1 hektare bisa menghasilkan 4 sampai 5 ton gabah, jika harga 1 kilogramnya 3.700 rupiah, kemungkinan kerugian yang ditanggung petani bisa sampai 28 miliar. Zona utara yang menjadi titik terparah dampak kekeringan yang berujung gagal panen,” papar Raharjo.

Terjadinya lahan puso tidak lepas dengan fenomena anomali cuaca yang terjadi pada saat ini. Di mana musim hujan datang terlambat dan musim kemarau datang seperti biasa sehingga memperpendek masa turun hujan. Hal ini pun berdampak terhadap lahan pertanian warga di musim kedua yang banyak mengering karena minimnya pasokan air.

Menurut dia, selain melakukan pendataan, Dinas Pertanian dan Pangan akan terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi pertanian di Gunungkidul. Salah satu upaya dilakukan dengan memberikan bantuan alat pertanian kepada petani seperti mesin pompa, bantuan benih, mesin tleser, hand traktor hingga mesin perontok jagung.

“Kemarin kami kirim beberapa petugas pendamping di lapangan untuk sekolah iklim. Jadi perhitungan musim pertanian dapat dilakukan mengacu dengan kondisi cuaca, iklim dan lainnya,” tutup dia.

 

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler