fbpx
Connect with us

Politik

Dinamika Politik Pilkada Gunungkidul dan Kekhawatiran Pecahnya Muhammadiyah

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Panasnya iklim politik di Gunungkidul jelang Pilkada yang akan dihelat beberapa bulan lagi memicu kekhawatiran dari jajaran Pimpinan Daerah Pemuda Muhammdiyah (PDPM) Gunungkidul. Dikhawatirkan, konstelasi politik yang terjadi saat ini akan memicu perpecahan di kalangan umat. Adanya potensi politik uang secara masif menjadi dasar kekhawatiran itu. Dengan jumlah anggota yang cukup besar, menjadi sangat wajar apabila kemudian umat Muhammadiyah menjadi sasaran dari para calon yang berkontestasi untuk memperebutkan kursi Gunungkidul 1 dan 2 ini.

Ketua PDPM Gunungkidul, Arif Darmawan tidak memungkiri bahwa saat ini, tema Pilkada menjadi obrolan yang menarik untuk diperbincangkan di tengah masyarakat. Hal itu juga menunjukan bahwa partisipasi masyarakat maupun para kader Muhammadiyah sangat tinggi dalam memaknai demokrasi dalam hal memilih pemimpin wilayah.

Ia berharap bahwa ke depan, di tengah godaan yang cukup besar ini, Muhammadiyah dan seluruh umatnya akan tetap pada jalurnya. Perbedaan pandangan politik yang saat ini terjadi dan mulai muncul, diharapkan tidak menimbulkan perpecahan dan kebingungan di akar rumput.

“Tentu akan sangat bijak manakala perbedaan yang sedikit banyak dirasakaan saat ini tidak menjadi kebingungan jamaah Muhammadiyah di akar rumput. Sebab jamaah kita tidak terbiasa sholat sendiri. Mereka pasti menunggu imam untuk mendapatkan pahala 27 derajat kebaikan dengan berjamaah,” kata Arif, Selasa (18/08/2020).

Diakuinya, saat ini memang terlihat adanya perbedaan pandangan arah politik oleh kelompok tertentu. Namun dirinya optimis, pada menit-menit akhir, suara umat Muhammadiyah akan tetap bulat dan tidak akan terjadi perpecahan.

Berita Lainnya  Pilkada Ditunda, KPU dan Bawaslu Bekukan Ketugasan Sejumlah Formasi

Ia menjelaskan, akar rumput atau jamaah ranting adalah kekuatan jamaah muhammadiyah dan ruhnya adalah pengajian. Ia berpendapat, saat ini akar rumput sedang pada masa gersang sebab intensitas bertemu dengan kyai sangat terbatas. Pada masa pandemi ini, sejumlah kegiatan rutin umat Muhammadiyah seperti misalnya kajian Ahad pagi maupun yang lainnya banyak yang mandheg. Untuk itu, menurutnya jamaah Muhammadiyah perlu mendapat sapaan agar tetap memperkuat karakter kepribadian muhammadiyah.

“Akar rumput butuh disapa, jangan sampai nanti uang politik yang lebih dahulu menyapa mereka. Pragmatisme dan kebutuhan ekonomi yang dirasakan umat selama masa pandemi ini bisa saja membuat jamaah akar rumput kita itu hilang arah,” urainya.

Untuk itu, dirinya meminta agar polarisasi yang dibiarkan tetap landai hingga hingga 6 September mendatang saat pendaftran. Namun sampai saat itu tiba, tidak ada salahnya untuk terus mencermati gerak langkah para calon yang akan berlaga.

“Semua boleh berasumsi namun jangan merasa asumsinya paling benar. Semua boleh menganalisa namun jangan merasa analisanya paling akurat. Semua boleh berpendapat namun jangan merasa pendaptnya harus diterima. Sebab kullu roksin ro’yun dan sikap menghargai harus lebih kita kedepankan. Sebab itulah karakter kepribadian Muhammadiyah,” kata dia.

Arif menambahkan, Muhammadiyah sebenarnya memiliki kekuatan besar dari sudut pandang partai politik dengan kekuatan jamaan pengajiannya. Akan tetapi, ia menegaskan agar tetap kokoh, solid dan tidak terpecah akibat godaan tebar pesona para bakal calon.

“Biarkan saja mereka berebut simpati kita, jangan sampai iming-iming materi, mobil dan lainnya menjadikan kita lupa bahwa Muhammadiyah tidak perlu itu semua. Sebab jiwa muhammdiyah adalah memberi bukan peminta,” imbau Arif.

Arif menilai bahwa menjadi hal yang sangat wajar mana kala pengajian ahad pagi di akar rumput yang di inisiasi tiap cabang menjadi perhatian khusus. Sebab itu menurutnya merupakan ruh Muhammadiyah. Dalam waktu dekat ini, kegiatan kajian Ahad pagi ini akan mulai dilaksanakan di Nglipar serta Piyaman, Kapanewon Wonosari.

Berita Lainnya  Melihat Penderitaan Isti, Gadis Dengan Penyakit Misterius Yang Menggerogoti Kulitnya

“Ruh yang tak hanya di internal persyarikatan, namun bisa juga menjadi ruh gerak dinamis partai politik. Cantik betul Muhammadiyah ini dimata mereka. Tiup kembali ruh Muhammadiyah di ranting dan cabang kita. Jangan sampai ruh itu hilang dan akhirnya mati. Ayo mulai kembali ahad pagi kita. Tapi tetep memperhatikan protokol covid,” terangnya.

Pengaktifan kembali kajian Ahad pagi sendiri merupakan salah satu upaya pihaknya dalam memberikan pembelajaran politik bagi para umat. Dengan membuka komunikasi dengan para Kyai dan pemuka agama, maka kemudian umat akan mendapatkan pencerahan. Harapannya, mereka nantinya bisa memaknai demokrasi secara mendalam demi kepentingan Muhammadiyah secara khusus maupun Gunungkidul secara umum.

Ia bersama dengan sejumlah anggota Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Gunungkidul sendiri terus bergerak dalam mengantisipasi perpecahan yang mungkin terjadi. Pertemuan dengan para Kyai maupun tokoh Muhammadiyah hingga tingkat daerah terus digencarkan.

“Tujuannya jelas adalah untuk mengkonsolidasikan. Jangan sampai Muhammadiyah itu pecah,” pungkasnya.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler