fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Dirjen Kemendikbud: Omong Kosong Pengembangan Pariwisata Tanpa Kebudayaan

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Potensi pariwisata yang ada di Gunungkidul sangat mendongkrak kesejahteraan masyarakat, utamanya di kawasan pesisir yang mana memang memiliki kekayaan pantai nan indah. Namun demikian, boomingnya pariwisata Gunungkidul nampaknya masih belum cukup berdampak bagi masyarakat di kawasan non wisata. Diharapkan, pemerintah mulai mendorong pariwisata melalui kebudayaan yang ada agar para warga yang tinggal di luar kawasan wisata bisa ikut merasakan kesejahteraan.

“Omong kosong jika berbicara wisata tidak bicara budaya. Apa yang mau dijual pariwisata tanpa ada budaya bisa naik kalau bahan-bahan budayanya ditampilkan untuk mendorong pariwisata,” ujar Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, Nadjamuddin Ramli ketika menghadiri seminar di komplek Setda Gunungkidul, Rabu (14/08/2019).

Nadjamuddin sendiri telah mendengar bahwa di Gunungkidul memiliki berbagai macam kebudayaan diantaranya seperti tradisi rasulan dan nyadran. Menurutnya, jika pemerintah serius mengelola kebudayaan yang ada, maka akan berdampak positif terhadap masyarakat luas.

“Saya kira jika ada festival rasulan, setiap tahun setiap hari jadi akan menjadi penggerak investasi. Di situ, usaha kecil menengah akan ikut bergeliat, maka akan berdampak kepada masyarakat,” terang dia.

Festival yang dimaksud yakni setiap tahunnya di setiap desa menggelar festival. Sehingga jika sudah menjadi agenda rutin, industri di masyarakat akan ikut berkembang.

Berita Lainnya  Proyeksikan JJLS Jadi Jalur Indah, Pemerintah Tangkal Menjamurnya Pembangunan Warung-warung Liar

“Nanti ada yang buat pernak pernik, baju untuk kegiatan festival dan semacamnya,” kata dia.

Selain itu, penting adanya perhatian kepada para pelaku budaya. Ia mengambil contoh, saat ini kebudayaan hanya sebagai salah satu kegiatan pelengkap.

Dalam artian, banyak kegiatan kebudayaan semacam tari digunakan untuk membuka dan menutup acara semata. Hal tersebut menjadi salah satu contoh bahwa kegiatan kebudayaan belum dikelola secara maksimal.

“Hal ini juga perlu menjadi perhatian pimpinan daerahnya, bupati atau wali kota. Sekarang pelaku seni hanya tampil di awal dan akhir acara bahkan mereka kadang lupa diberi uang transport,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, mengingat pentingnya kebudayaan, pemkab perlu memberikan wadah atau lokasi bagi para pelaku seni. Semisal di taman yang ada di Wonosari memberikan spot khusus bagi para pelaku seni.

Berita Lainnya  Wow, Tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan di Gunungkidul Capai Rp 11,1 Miliar

“Semisal di Taman Kuliner, diadakan pertunjukan atau ada pelaku seni lukis misal. Mereka menempati berkreasi disitu kan bisa menjadi pendapatan mereka ketika ada pengunjung yang bersimpati memberikan uang,” terang dia.

Untuk itu, menurutnya sangat perlu penganggaran untuk kegiatan kebudayaan. Sehingga nantinya, kegiatan kebudayaan dan kearifan lokal yang ada itu mampu menggerakan sektor pariwisata.

“Tanpa honor, mereka juga butuh penyemangat. Birokrasi bergerak itu jika ada anggaran. Temen-temen di pendidikan sibuk dengan berbagai kegiatan karena anggaran. Kemudian di kebudayaan hanya diam, main catur ya karena tidak ada anggaran,” tutup Nadjamuddin.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler