fbpx
Connect with us

Peristiwa

Drama Panas Pilkades Bunder, Dari Aksi Demo Hingga Mundurnya Ketua Panitia

Diterbitkan

pada tanggal

Patuk, (pidjar.com)–Panasnya suasana Pilkades Bunder, Kecamatan Patuk yang dimulai saat proses pendaftaran lalu akhirnya menuai gerakan dari masyarakat. Pada Selasa (10/08/2019) pagi tadi, puluhan warga masyarakat pendukung salah satu bakal calon Kepala Desa Bunder menggeruduk Balai Desa Bunder. Warga memprotes Panitia Pilkades Bunder yang telah mencoret salah satu bakal calon, Ngadiyat. Mantan Dukuh ini dinyatakan gugur dalam seleksi administrasi yang terpaksa dilakukan lantaran adanya 6 pendaftar dalam Pilkades Bunder.

Ngadiyat dinyatakan gugur panitia oleh panitia setelah kalah bersaing dalam seleksi administrasi dengan 5 kandidat lainnya. Perolehan nilai menduduki urutan buncit. Dengan keputusan ini, Ngadiyat untuk sementara tersingkir dan tidak berhak untuk mengikuti tahapan selanjutnya dari Pilkades Bunder.

Hasil penilaian dari Panitia Pilkades inilah yang kemudian menuai masalah. Ngadiyat yang selama 9 tahun menjabat Dukuh Widoro Wetan hingga pada 2016 silam ini merasa seharusnya pengalamannya sebagai mantan dukuh tersebut bisa menjadi penentu kelolosannya. Dalam penilaian yang dilakukan oleh panitia, hal tersebut memang tak dihitung lantaran ketika proses pendaftaran, Ngadiyat tidak bisa menunjukkan SK asli pengangkatannya. Alhasil kemudian ia terdepak dari Pilkades Bunder.

Hal ini langsung membuat Ngadiyat dan pendukungnya meradang. Merasa ada ketidakadilan, mereka lantas memutuskan untuk menggelar aksi demonstrasi di Balai Desa Bunder.

Berita Lainnya  Berkat Gelang Mote, Mayat Mengapung di Perairan Jungwok Berhasil Dikenali

“Saya merasa dizolimi, saya juga tidak bisa membendung masyarakat untuk melakukan aksi. Saya warga negara dan pernah mengabdi tapi pengabdian saya tidak ada nilainya,” ungkap Ngadiyat kesal kepada pidjar.com di sela-sela aksi.

Ngadiyat dan pendukungnya dalam aksi demonstrasi ini berniat untuk meminta keterangan yang menjadi alasan Ngadiyat dinyatakan gugur dan tidak bisa mengikuti kontestasi Pemilihan Kepala Desa Bunder.

“Tadi kami mendatangi Balai desa untuk meminta keadilan, masyarakat menjadi saksi bahwa saya itu dulu dukuh,” tegasnya.

Dalam aksi ini, massa menuntut pengumuman hasil seleksi Calon Kades Bunder yang telah ditempel oleh panitia di Balai Desa dibatalkan. Keputusan ini dinilai bermasalah dan tidak sesuai dengan aturan. Selanjutnya pihak Ngadiyat akan melayangkan nota keberatan kepada Pemdes Bunder, panitia dan pengawas Kecamatan Patuk.

“Sesuai dengan aturan, kami tunggu itikad pada enam hari kalender terhitung dari hari ini. Jika tidak, kami akan mengambil langkah hukum,” tandas dia.

Sementara itu, Sekdes Bunder, Sidik saat dikonfirmasi memilih untuk irit berkomentar. Ia justru mengaku saat ini sedang tidak enak badan sehingga tidak bisa memberikan banyak keterangan. Ia hanya menjelaskan bahwa dalam proses pendaftaran, Ngadiyat memang dianggap tidak pernah menjadi Dukuh. Keputusan ini diambil lantaran yang bersangkutan tidak bisa menunjukkan SK asli dari pengangkatannya.

Berita Lainnya  Uji Coba Kotak Suara, Disiram Air dan Diduduki Pun Tidak Rusak

“Saat yang bersangkutan meminta legalisir tidak bisa menunjukkan SK aslinya sehingga kami tidak bisa serta merta membubuhkan tanda tangan. Sesuai prosedur, memang harus menunjukkan SK Aslinya,” terang Sidik.

Adapun buntut dari panasnya Pilkades Bunder ini cukup panjang. Ketua Panitia Pilkades Bunder, Slamet Wibowo bahkan sampai memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Sementara anggota panitia yang lainnya pun memilih bungkam enggan memberi komentar.

Terpisah, PJ Kepala Desa Bunder, Sukemi memaparkan, meski sudah diumumkan, hasil seleksi berkas administrasi Pilkades Bunder ini belumlah final. Sesuai dengan tahapan yang ada, baru 13 Oktober mendatang penetapan Calon Kepala Desa.

“Sebelum tanggal 13 (Oktober), siapapun yang melayangkan keberatan terhadap putusan kami persilahkan,” pungkas Sukemi.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler