fbpx
Connect with us

Sosial

Dukung Penuh Anak Jadi Dalang Cilik, Yoseph Rela Rogoh Kocek Ratusan Juta Untuk Beli Wayang

Published

on

Playen,(pidjar.com)–Minggu (03/01/2021) pagi, rumah Daneswara Satya Swandaru (9) yang berada di Nogosari I (03/01), Kalurahan Bandung, Kapanewon Playen cukup sepi. Hanya saja di ruang tamunya terdapat dua peti yang berukuran lumayan besar. Di dalam peti tersebut, terdapat banyak wayang yang berjejeran. Terlihat pula backdrop warna putih dengan gawang ukiran kayu. Tak jauh dari mini panggung pagelaran wayang itu, juga terdapat dua set gamelan.

Pagi tadi, anak laki-laki yang memiliki postur mungil putra pasangan Yoseph Harjanto dan Ratna Tri Wijayanti tengah berlatih memainkan wayang Werkudoro. Anak yang kini duduk di kelas 3 SD Kanisius Wonosari ini mengaku begitu mencintai wayang sejak duduk di usia TK.

“Sering main di rumah akung, sama akung disetelin DVD pementasan wayang. Saya senang sama tokoh Werkudoro,” kata Danes yang juga cucu dari wartawan senior, Bambang Purwanto tersebut.

Danes mengaku, awal mula ketertarikannya dengan Wekudoro lantaran tipikalnya sebagai manusia jujur, setia, lugu namun pemberani. Tak puas hanya sekedar menonton, Danes lantas berniat untuk ikut menirukan dalang-dalang dalam memainkan wayang. Ia meminta ayahnya untuk dibelikan wayang.

“Saya dibelikan wayang, kemudian sering memainkannya,” ucapnya.

Danes sendiri cukup beruntung lantaran kedua orang tuanya mendukung penuh kecintaannya pada budaya wayang. Sang ayah kemudian melatih bakat Danes ke sanggar pedalangan Pengalasan Wiladeg pimpinan dalang Ki Slamet Hariyadi. Bakat Danes kian terasah dan saat ini sudah sangat mahir memainkan wayang.

Prestasi demi prestasi pun terus ditorehkan oleh dalang cilik ini. Tak tanggung-tanggung, Danes sudah tiga belas kali pentas dan bahkan dua kali memenangi lomba festival dalang cilik Gunungkidul yang diselenggarakan Kundha Kabudhayan atau Dinas Kebudayaan Gunungkidul.

“Saya matur sama bapak, kalau anak-anak sekarang lebih suka gadget, khawatir saya besok di masa depan kalau mau nanggap wayang harus sama orang luar negeri,” ujar Danes.

Ia sendiri mengaku begitu mengagumi dalang Bayu Aji dari Solo. Ki Bayu Aji diakui menjadi salah satu patronnya dalam mempelajari seni pewayangan.

Meski usianya masih sangat muda, namun kecintaan Danes terhadap wayang sangat besar. Ia berharap seni wayang yang penuh filosofi tersebut tak lekang dimakan zaman.

“Ya ada kerisauan, teman-teman lebih suka main gadget padahal wayang ini budaya asli Indonesia,” ucap dia.

Sementara itu, sang ayah, Yoseph, yang ditemui pidjar.com mendukung penuh hobi maupun cita-cita sang anak untuk menjadi dalang. Ia bahkan rela merogoh kocek cukup dalam untuk membelikan Danes puluhan karakter wayang. Dengan bahan kulit asli, memang harga wayang cukup mahal. Yoseph lantas memutar otak.

Ia sendiri kurang puas jika hanya membeli wayang dalam bentuk jadi. Selain karena harganya yang cukup mahal, kualitas wayang sendiri seringkali tak sesuai dengan harapannya. Juga dengan rupa fisiknya, ia nilai kurang maksimal sehingga sering mendapat protes dari Danes.

Yoseph juga ingin memberikan pemahaman kepada Danes bahwa wayang bukan hanya apa yang ditampilkan di panggung. Akan tetapi di dalamnya juga ada seni pahat, seni ukir, seni lukis, teatrikal dan suara. Sehingga ia selalu menekankan proses membuat wayang kepada putra semata wayangnya tersebut. Selama ini, ia sudah menghabiskan kurang lebih 100 juta rupiah untuk membeli wayang.

“Saya beli lembaran kulit kerbau, biasanya untuk tokoh kecil-kecil itu satu lembar bisa buat 10 sampai 11 tokoh wayang, njlimet tapi puas, harganya satu lembar juga cuma Rp. 1,5juta,” papar Yoseph, saat mendampingi Danes berlatih.

Mula-mula ia bawa kulit kerbau ke tukang pahat untuk dipahat. Baru kemudian digambar dan diukir, untuk terakhir dijemur sekitar dua bulan agar warna cat nantinya awet dan tidak mudah luntur.

“Biasanya satu periode membuat wayang ini membutuhkan waktu lebih dari setengah tahun. Biasanya dijemur makin lama makin bagus untuk keawetan warnanya,” jelas dia.

“Harganya memang lumayan bisa Rp. 800 ribu sampai Rp. 4 juta 500 ribu untuk satu wayang. Kalau satu set satu peti bisa sampai Rp 450 juta. Makanya ini saya juga putar otak biar hemat,” ucap dia.

Ia selalu memberi pesan kepada Danes agar di setiap pertunjukkan atau festival untuk tidak mempedulikan kejuaraan. Ia hanya ingin Danes selalu memenangkan hati penontonnya.

“Anaknya ini memang cinta sekali dengan wayang, sampai setiap harinya selalu bermain di mini panggung yang kami buatkan, nggak kenal capek apalagi lapar,” ujar Yoseph.

Tak seperti bocah laki-laki lainnya yang banyak bermain senapan atau pedang mainan, Danes seakan tak mempedulikan mainan itu. Setiap harinya, ia justru asyik untuk bermain dengan koleksi wayang-wayang miliknya. Baik berlatih, ataupun sekedar memandang saja.

“Saya cukup kaget dengan minat besar Danes terhadap wayang. Kalau saya sendiri sama istri dan mbah-mbahnya tidak ada latar belakang seni pedalangan,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler