fbpx
Connect with us

Sosial

Proyek CSR Spamdus Yang Sempat Diresmikan Kakanwil BRI Mangkrak, Warga Banyumanik Gigit Jari

Diterbitkan

pada

BDG

Semanu, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Harapan 48 Kepala Keluarga warga Padukuhan Banyumanik, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu untuk mendapatkan limpahan air bersih dari program Spamdus (Sistem penyediaan air minum dusun) yang dibiayai Bank BRI Wonosari urung terwujud hingga saat ini. Padahal, sejak bulan Desember 2018, pembangunan jaringan air minum tersebut sudah dinyatakan selesai. Bahkan proyek tersebut telah diresmikan langsung oleh Kepala Kanwil BRI DIY.

Sebagai gambaran, sudah bertahun-tahun warga Banyumanik selalu dilanda kekeringan terutaman setiap musim kemarau melanda. Di lokasi tersebut, memang tidak ada sumber mata air yang bisa diambil warga untuk memenuhi hajad hidupnya. Sumber air konon berada ratusan meter di bawah tanah dan untuk mengangkatnya butuh teknologi pompa air dan jaringan perpipaan yang memadai. Jadi selama musim kemarau berlangsung, selama ini warga Banyumanik harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli air dari mobil tangki swasta yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah per tangki. Tak jarang warga harus menjual ternak sekedar untuk membeli air bersih.

“Dan itu sudah berlangsung sejak dulu, maka kami lantas berupaya mencari bantuan untuk lepas dari masalah klasik ini. Pihak Geo Fisika IPB pun kita datangkan untuk mendeteksi keberadaan sumber air di bawah bumi Banyumanik,” cerita Giyanto, Dukuh Banyumanik.

Selanjutnya Giyanto memaparkan, setelah dilakukan pemetaan Geo Fisika IPB dan diyakini ada sumber air dibawah tanah, maka pada tahun 2018 dirinya bersama warga mengajukan permohonan pembangunan jaringan pengangkatan air bersih untuk wilayahnya kepada pemerintah. Proposal warga tersebut kemudian mendapatkan tindak lanjut dari Bank BRI Wonosari. Artinya pihak Bank BRI menggunakan dana CSR (Corporate Social Responsibility) bertajuk BRI Peduli tahun 2018 untuk membangun jaringan air minum di wilayah tersebut.

“Dari hasil pemetaan Geo Fisika IPB sudah menentukan titik di mana sumber mata air yang siap diangkat ada di kedalaman 130 meter di bawah tanah. Namun Pak Warto selaku rekanan yang ditunjuk Bank BRI justru menentukan titik sendiri, entah atas dasar alasan apa,” lanjutnya.

Pada titik yang ditentukan sendiri itulah kemudian rekanan yang ditunjuk melakukan pengeboran ke dalam tanah. Hasilnya hingga kedalaman lebih kurang 80 meter tak juga ditemukan sumber air. Pompa air yang disiapkan menarik air dari dalam tanah hanya keluar desis angin tanpa setetes pun air mengalir keatas. Padahal di sisi lain, rekanan juga sudah membangun 1 bak penampungan air berkapasitas 5000 liter serta jaringan perpipaan yang siap mengalirkan air ke rumah-rumah warga.

Berita Lainnya  Digerogoti Sel Kanker, Ngatirah Terbaring Lemah di Atas Lincak

“Nah pada saat itu kabarnya rekanan tersebut dikejar-kejar pihak BRI Wonosari yang menyatakan bahwa program itu harus segera diselesaikan lantaran akan diresmikan Kepala Kanwil Bank BRI DIY. Maka lalu kita akal-akalan dengan membeli air satu tangki untuk memenuhi bak penampungan. Jadi wajar saja saat diresmikan program ini bulan Desember 2018 kemarin, air mengucur deras,” papar Giyanto.

Sialnya, seusai acara peresmian tersebut, sang rekanan justru menghentikan semua aktivitas pengeboran yang dilakukannya. Padahal angkanya masih di kisaran kedalaman 80 an meter, yang artinya masih jauh dari kedalaman 130 meter seperti yang digariskan Geo Fisika IPB. Di sisi lain, sang rekanan juga masih punya pekerjaan menambah 1 lagi bak penampungan air kapasitas 5000 liter, mesin pompa air lengkap dengan panel kelistrikannya.

Berita Lainnya  Geramnya Sumiyati Tanahnya Dipasang Plakat Lelang Meski Tak Pernah Merasa Punya Hutang

“Saat itu rekanan kemudian pamit alasannya sudah habis uang banyak untuk ngebor namun airnya tidak kunjung keluar. Dia berjanji akan menyelesaikan program ini saat musim penghujan. Laah musim penghujan kemarin program ini tidak juga dilanjutkan. Akhirnya kami yang terkatung-katung dan dirugikan lantaran masyarakat tidak bisa menikmati hasil dari pembangunan jaringan air minum tersebut. Saya sampai malu setiap saat ditanya warga kapan program mangkrak itu akan selesai,” keluh Giyanto.

Senada dengan Dukuh Banyumanik, Suhadi, Kepala Desa Pacarejo menyayangkan pihak rekanan maupun CSR yang terkesan tidak bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan tersebut. Berulangkali pihaknya bersama Muspika Semanu menanyakan permasalahan tersebut kepada Bank BRI ataupun kontraktor, namun jawabannya selalu mengambang dan tidak ada kepastian. Padahal warga sangat menanti-nantikan program tersebut bisa mengentaskan permasalahan kekeringan di wilayahnya.

“Memang dulu Pak Warto pernah usul yang dibangun Spamdus itu wilayah Dengok atau Pacing, tapi saya tolak. Soalnya yang sangat membutuhkan air itu warga Piyuyon dan Banyumanik. Apalagi yang mengajukan proposal kan warga Banyumanik, jadi tidak bisa seenaknya dialihkan tempatnya,” jelas Suhadi.

Terpisah, saat dikonfirmasi, Warto selaku rekanan Bank BRI Wonosari yang mengerjakan program Spamdus Banyumanik mengaku siap bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan tersebut.

“Sampai kapanpun saya siap menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai tersebut. Namun mau bagaimana lagi, wong belum serupiah pun saya menerima dana untuk menyelesaikan pekerjaan itu,” kata Warto.

Lebih lanjut Warto menjelaskan, lantaran kendala biaya maka dirinya untuk sementara waktu menghentikan pekerjaan pengeboran di Banyumanik sekaligus mencari solusi untuk menemukan sumber air lain yang dapat dialirkan ke Banyumanik.

Berita Lainnya  Keluyuran Saat Jam Pelajaran Sejumlah Siswa Terjaring Razia Polisi

Sementara itu, salah seorang pejabat Bank BRI Wonosari yang mengurusi CSR, Ndari membenarkan bahwa pekerjaan pembangunan sarana air bersih di Banyumanik merupakan proyek pembangunan dari BRI yang diberikan kepada masyarakat. Dana yang digunakan untuk program pembangunan penyediaan air bersih untuk masyarakat setempat adalah senilai kurang lebih 120 juta. Ia pun tidak menampik jika pembangunan tersebut molor dari target sebelumnya yang telah disepakati.

“Untuk proses pembangunannya sendiri kami serahkan ke rekanan. Target awal adalah akhir April selesai, namun sekarang justru ada sedikit permasalahan. Di mana ada komplain dari warga,” ucapnya.

Menurut dia, saat ini dari BRI telah berkoordinasi dengan pihak rekanan untuk segera menyelesaikan permasalahan dan keluhan yang terjadi. Dari petugas bank sendiri juga telah melakukan peninjauan kondisi di lapangan, dan benar adanya jika proyek penyedia air bersih itu tidak mengeluarkan air sebagaimana yang diharapkan.

“Ada pertanggungjawaban dari pihak rekanan. Sepertinya sedang dibahas oleh rekanan, dukuh dan kepala desa,” imbuh dia.

Sejauh ini, untuk penyelesaian masalah yang terjadi pihak rekanan memberikan opsi dua alternatif, di mana air akan diambilkan dari sumber yang berbeda yang jaraknya berdekatan, yakni dari padukuhan Piyuyon dan padukuhan lainnya. Untuk sekarang, dari rekanan pun masih menunggu jawaban dari pihak desa dan dukuh.

“Ini mau dikroscek apakah sudah ada keputusan atau belum. Jika sudah deal semua langsung dikerjakan, biar semua enak dan tidak berlarut-larut. Untuk target secepatnya selesai,” ujarnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler