fbpx
Connect with us

Sosial

Dukungan Warga Untuk Tim SAR Sterilkan Pantai, Dari Rutin Kirimkan Makanan Hingga Rajin Beri Informasi

Published

on

Girisubo, (pidjar.com)–Tiga bulan lebih Tim Search and Rescue disibukkan dengan upaya menghalau para wisatawan yang hendak berwisata di masa PPKM. Tak sedikit pula bagian dari aparat penegakkan hukum dalam mendisiplinkan protokol kesehatan harus berbenturan dengan masyarakat pelaku wisata karena tak sedikit pula yang nekat menjadi joki penunjuk jalan alternatif wisata dengan tarif tertentu.

Misalnya saja Tim SAR Wilayah I Gunungkidul. Dalam mengamankan sekitar 40 kilometer garis pantai yang menjadi wilayah ketugasan mereka, pengawasan di jalur retribusi pada hari kerja dibagi menjadi dua shift, yakni shift pertama pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB, kemudian shift kedua pada pukul 16.00 WIB hingga 00.00 WIB. Berbeda dengan saat libur akhir pekan atau libur nasional, mereka melekat menjaga pos retribusi selama 24 jam.

Di awal PPKM, di mana eskalasi kasus covid19 harian di Gunungkidul melonjak derastis, ketugasan mereka bertambah. Selain menghalau wisatawan, mereka juga turut serta membantu pemulasaraan jenazah covid hingga memakamkan. Mereka juga cukup dilelahkan dengan banyaknya oknum masyarakat yang menjadi joki-joki berbayar mengantar wisatawan melalui jalur tikus.

Adalah Sunu Handoko Bayu Sagara. Pria berusia 36 tahun tersebut kini menjadi Koordinator SAR Linmas Wilayah I Gunungkidul. Selama masa PPKM ini, ia menyadari anggotanya berada di tingkat stres yang cukup tinggi. Selain lelah, mereka juga harus secara tegas menghalau masyarakat yang menjadi oknum joki.

“Awalnya untuk menghadapi ini agar tidak ada benturan, kami ajak komunikasi kepada masyarakat yang terbukti menjadi oknum joki. Hingga akhirnya mereka merasa pekewuh sendiri, cukup dua bulan saja oknum joki di sini beroperasi, kini sudah tidak lagi melakukan aktivitas itu,” ucap pria yang akrab dipanggil Sunu ini kepada pidjar.com, Sabtu (09/10/2021).

Sunu menambahkan, melalui pendekatan semacam ini, akhirnya perspektif warga masyarakat dalam menghadapi masa PPKM ini berubah. Mereka yang sebagian besar sebagai pelaku wisata ini mendukung langkah aparat khususnya Tim SAR dalam menyeterilkan pantai sebelum pemerintah pusat membuka wisata di Gunungkidul.

“Jalan tikus banyak sekali di sini sedangkan personil kami terbatas, tidak mungkin semua jalur bisa kami awasi. Saat ini warga secara kooperatif melaporkan kepada kami jika mendapati wisatawan yang nekat ke melewati jalur tikus, saat itu pula kami segera datang untuk menghalau,” jelas Sunu.

Menurut Sunu, salah satu pantai yang mendapatkan perhatian dari jajarannya adalah di kawasan Pantai Sedahan. Di lokasi pantai tersebut, banyak sekali jalur tikus. Warga di lokasi tersebut cukup koorperatif untuk melaporkan wisatawan yang berhasil masuk kawasan pantai.

“Begitu dikabari pasti kami datang. Kami mengapresiasi warga masyarakat yang turut membantu kami dalam menyukseskan PPKM ini,” terang dia.

Selain membantu menghalau wisatawan, warga di Kapanewon Tepus dan Girisubo di mana lokasi ketugasan Tim SAR Wilayah I juga tak jarang mengantar makanan selama mereka menunggu TPR untuk menghalau wisatawan. Sehingga untuk teh, makan malam camilan sarapan hingga buah buahan di kala berjaga sudah dicukupkan oleh warga. Keselarasan Tim SAR dan juga warga pelaku wisata ini membuat wilayah ketugasannya cenderung kondusif.

“Jadi saat ini sudah tidak ada konflik, mereka lebih mempersiapkan sarana dan syarat bagaimana jika pantai bisa kembali di buka,” pungkasnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler