fbpx
Connect with us

Sosial

Getirnya Pasangan Ini Melihat Dua Putri Cantiknya Alami Kembar Siam

Published

on

Semin,(pidjar.com)–Malam telah larut, namun suara tangisan bayi terus terdengar dari kediaman Eka Handayani (26) dan Ari Sahyana (27) warga Padukuhan Pabregan, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin. Alhasil, baik Eka maupun Ari juga tak bisa beristirahat dengan tenang. Mereka berusaha menenangkan kedua bayi mereka yang terus menangis.

Suara tangisan tersebut berasal dari dua orang bayi yang baru berusia 4 bulan, Meyka Sahyana dan Meysa Sahyana. Tak seperti bayi-bayi kembar kebanyakan, Meyka dan Meysa memang memiliki situasi khusus. Keduanya adalah bayi yang mempunyai kelainan yaitu kembar dempet.

Kepada pidjar.com, sang ibu, Eka Handayani mengungkapkan bahwa situasi semacam ini memang terjadi setiap malam. Kedua putri kecilnya tersebut tak bisa tertidur nyenyak secara bersamaan. Jika Meyka tertidur, maka Meysa tidak bisa tidur dan menangis. Sebaliknya, jika Meysa tertidur, maka Meysa terbangun dan menangis.

“Jadi kami harus bergantian untuk tidak tidur dan menjaga anak kami,” ucap Eka, Selasa (25/09/2018) siang.

Eka mengungkapkan, hal semacam ini tentunya membuatnya tak tenang beristirahat. Namun hal ini terbayar sudah jika melihat senyum ceria mengembang dari kedua putrinya. Meski harus merasakan kelainan dan sakit yang terus mendera, akan tetapi Meyka dan Meysa sama sekali tidak rewel.

Meski begitu, ia memungkiri bahwa terus memendam perasaan iba dan bersedih hati ketika melihat kondisi anaknya. Sejak lahir, kedua bayi ini mulai dari bagian dada hingga perut berdempetan. Memiliki 4 tangan dengan jari yang lengkap, sedangkan untuk bagian kaki, dua kakinya normal dan 2 kali lainnya berdempetan namun tetap 2 tulang. Ia merasa sedih saat harus menyadari kedua putri cantiknya tidak bisa beraktifitas normal layaknya anak-anak lainnya.

“Kata dokter, usus besarnya hanya satu. Sehingga proses pembuangan hanya bisa dilakukan satu bayi,” terangnya.

Kedua bayi kembar ini merupakan anak kedua dari pasangan Eka dan Ari. Putra pertama mereka dalam kondisi normal dan saat ini telah berusia 4 tahun. Saat masa awal kehamilan Meyka dan Meysa, Eka mengaku tak ada hal ganjil yang dirasakannya. Ia secara rutin memeriksakan diri dan mengecek kehamilannya. Menginjak umur kehamilan 5 bulan, ia mulai merasakan ada yang tidak beres. Bayi dalam kandungannya dirasa tidak aktif. Kejanggalan tersebut juga dirasakan oleh bidan yang menanganinya ketika memeriksakan diri ke Puskesmas. Ia lantas diarahkan untuk melakukan USG mengingat bayi yang dikandungnya terlalu besar.

Ketika melakukan USG di sebuah rumah sakit di Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, barulah ia kaget setelah mendapati bayi yang dikandungnya ternyata mengalami kembar siam di mana bayinya dempat pada bagian tubuh dengan 2 kepala.

“Walaupun kaget, tapi saya tetap menganggap ini sebagai rezeki dari Allah yang harus saya jaga. Sejak itu, saya semakin rajin menjaga kesehatan, termasuk memeriksakan diri secara rutin dan makan makanan bergizi,” lanjutnya.

Pada tanggal 14 Mei 2018 lalu, kedua putri mungil yang berparas cantik, bersih putih itu lahir dengan bantuan operasi dokter di RS Sardjito. Perasaan sedih, haru, senang dan cemas bercampur aduk menjadi satu dalam hati Eka, Ari dan keluarga. Meski mereka juga harus menatapi jika dua putri kecilnya yang baru saya membuka mata di dunia dalam kondisi kembar siam.

“Perasaan ya campur aduk terlebih perasaan seorang ibu. Tapi saya tetap bersyukur, anak saya sampai sekarang tumbuh dengan baik dulu lahir dengan berat 3,5 kilogram, saat ini sudah 6,5 kilogram. Alhamudillah,” tambahnya.

Sebagai seorang ibu tentunya Eka memiliki keinginan untuk melakukan operasi pemisahan dua tubuh putri kecilnya itu. Namun demikian, ia cukup tertegun jika harus memikirkan biaya yang harus ditanggungnya. Lantaran hal itulah, sampai sekarang ini, dia belum berkonsultasi kembali dengan dokter di RS Sardjito terkait hal tersebut. Ia sadar jika biaya yang dibutuhkan untuk melakukan operasi pemisahan. Puluhan bahkan mencapai ratusan tentu harus disiapkan jika nantinya operasi tersebut tidak tercover BPJS. Ketika melahirkan anaknya dengan operasi caesar, biaya yang harus dikeluarkan memang mencapai 120 juta. Beruntung kemudian biaya ini tercover dengan BPJS Kesehatan yang dimiliki oleh Eka.

“Seperti ini kondisinya. Rencana pembedahan pasti ada, mudah-mudahan lah dipermudah segala sesuatunya. Dulu pernah dikasih tahu oleh dokter kalau kurang dari 6 bulan takutnya terjadi pendarahan, karena operasi yang dilakukan merupakan operasi besar,” tegas dia.

Meysa dan Meyka, dua bayi yang mengalami kembar dempat (Foto by Arista Putri)

Sementara Ari, sang suami sekaligus juga ayah dari Meysa dan Meyka memaparkan, ia memang sama sekali tak membayangkan apabila nantinya biaya operasi harus ditanggungnya. Ia sendiri hanya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik tenun di Sukoharjo, Jawa Tengah. Gajinya selama ini hanya cukup untuk menopang kehidupan sehari-hari keluarganya. Sampai sekarang pun, ia masih menumpang di rumah mertua.

Di rumah yang tak begitu besar tersebut, ia tinggal bersama dengan mertua serta anggota keluarga lainnya yang berjumlah 8 orang. Tak ada yang terlihat mewah dari rumah tersebut. Lantainya pun masih tanah dan sebagian plester yang ditutup dengan karpet jaman dahulu. Perabotan yang ada pun tidak ada yang mencolok. Di ruang tamu tepat depan pintu, berjajar kursi kayu. Kemudian di sisi barat terdapat sebuah tempat tidur untuk mengistirahatkan badan. Masuk ke sebuah ruangan untuk bersantai dan menonton acara tv.

“Saya dulu sempat tinggal di tanah kelahiran saya di Jawa Barat bersama istri. Namun karena himpitan ekonomi, kami kemudian pulang ke Gunungkidul,” terangnya.

Disinggung mengenai bantuan dari pemerintah atau lainnya, Ari dengan terus terang mengungkapkan hingga saat ini belum ada bantuan yang masuk. Misalnya saja bantuan dari instansi yang terkait kesehatan selama kehamilannya hingga kondisi kedua putrinya seperti ini, dirinya baru sekali mendapat bantuan snack ibu hamil.

Padahal di sisi lain, kondisi bayi yang seperti ini sebenarnya membutuhkan penanganan kesehatan khusus.

“Sampai sekarang belum ada perhatian baik dari pemerintah atau dari perangkat desa. Dengan kondisi ekonomi semacam ini, tentu kami sangat membutuhkan,” pungkasnya.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler