fbpx
Connect with us

Sosial

Giat Berlatih Dalam Keterbatasan, Atlet Angkat Berat Difabel Gunungkidul Bawa Pulang 6 Emas dan 1 Perak

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Keterbatasan fisik bukanlah kendala dalam mengembangan bakat dan potensi yang dimiliki. Hal itu telah dibuktikan oleh sejumlah penyandang disabilitas di Kabupaten Gunungkidul. Dengan segala keterbatasan fisik mereka, namun kaum ini tetap mampu mengharumkan nama daerah. Mereka telah membuktian kemampuan mereka dalam pengembangkan potensi, salah satunya yakni potensi dalam bidang olahraga. Pada akhir November 2018 lalu, sejumlah atlet disabilitas Gunungkidul berhasil memborong medali 6 medali emas dan 1 perak di ajang Kejurda Paralimpik DIY. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan tentunya.

Dunia olahraga memang seakan tak ada habisnya. Semua orang menyukai olahraga lantaran dianggap ada keasyikan dan tantangan tersendiri. Selain itu, manfaat pada tubuh juga dapat dirasakan oleh para pecinta olahraga. Bagi kaum disabilitas, dari sini dapat digunakan untuk menyalurkan bakat serta menunjukkan pada masyarakat luas jika penyandang keterbatasan fisik juga memiliki kemampuan dan tidak dapat dianggap remeh.

Ketua Perhimpunan Penyandang Disabiltas Indonesia (PPDI) Gunungkidul, Untung Subagyo memaparkan, sejak beberapa tahun belakangan ini, olahraga mulai digandrungi oleh penyandang disabilitas. Sejumlah prestasi di daerah maupun tingkat nasional pernah dikantongi oleh mereka. Namun saat ini, baru satu cabang olahraga yang menunjukkan prestasi cukup membanggakan.

Cabang olahraga angkat berat adalah satu-satunya cabang olahraga yang sejak beberapa tahun ini menjadi penyumbang medali kejuaraan terbaik. Setiap tahunnya para atlet olahraga ini selalu mengantongi medali emas karena kemampuan mereka yang tidak bisa diragukan lagi. Akhir November lalu, kontingen Gunungkidul memborong medali emas 6 dalam ajang Kejurda Paralimpik DIY.

Adalah Sukoco, Sumarwan, Sutini, Sutiyah, Puji Lestari dan Untung Subagyo yang menjadi jawara dan menahbiskan diri menjadi atlet angkat berat terbaik di sektor paralimpik. Sementara Supriyadi, pada kesempatan ini hanya mampu memperoleh medali perak.

“Untuk latihan kita lakukan terus menerus. Kita ingin terus mengasah kemampuan, sehingga bisa lebih dari perolehan ini,” kata Untung Subagyo, Jumat (07/12/2018).

Lebih lanjut ia mengatakan, semakin berkembangnya kemampuan dan perhatian tak sedikit dari kaum disabilitas yang mulai bergabung dan mengasah bakat atau potensi masing-masing membuat geliat olahraga di kalangan kaum disabilitas di Gunungkidul semakin menggembirakan. Beberapa cabang olahraga mulai bangkit dan banyak peminatnya. Dukungan dari pemerintah dan masyarakat lain juga mulai nampak dan membuat semangat kaum disabilitas dalam menunjukkan jati diri mereka semakin muncul.

“Kalau perhatian dari pemerintah ya sudah ada namum masih minim. Mudah-mudahan ya tahun-tahun berikutnya ada peningkatan,” tambah dia.

Untung sendiri sudah sejak tahun 2008 lalu malang melintang di dunia olahraga. Meski geraknya terbatas lantaran kondisi kakinya yang cacat, namun semangatnya begitu luar biasa. Berbagai ajang selalu ia ikuti, medali demi medali terus ia kantongi saat mengikuti ajang kejuaraan. Dipaparkan Untung, para atlet-atlet disabilitas yang berprestasi itu tidak semuanya memiliki kekurangan di kaki, namun ada beragam keterbatasan yang dialami. Adanya berbagai kekurangan ini disebutnya justru menjadi pelecut semangat para atlet dalam berlatih dan berprestasi.

Di balik semangat membara itu, ada sejumlah kendala yang dialami oleh para atlet paralimpik. Adapun kendala yang dihadapi oleh para penyandang disabilitas yakni ruang gerak untuk latihan yang belum maksimal dan memadahi sebagaimana mestinya. Sehingga harus menggunakan lokasi seadanya untuk berlatih meningkatkan kemampuan mereka. Ia berharap perlakuan yang berbeda yang dilakukan oleh masyarakat umum dengan adanya prestasi atau kemampuan lain dapat sedikit demi sedikit bergeser.

Hal senada juga diungkapkan oleh Supriyadi. Atlet angkat berat ini meski baru sejak 2016 lalu terjun di olahraga namun prestasinya cukup gemilang. Tahun 2017 lalu Supriyadi berhasil membawa pulang sebuah medali perak di ajang Kejuaraan Nasional. Meski belum berhasil meraih medali emas, namun berkat usaha dan kegigihannya itu dapat mengharumkan nama Gunungkidul sehingga lebih terkenal lagi.

“Belum lama kok kalau ikut aktif di olahraga, ya karena keterbatasan kami. Tapi Alhamdulillahnya justru berbuah manis,” tambah dia.

Mayoritas atlet disabilitas dari Gunungkidul telah berusia dewasa. Sehingga ada sedikit kendala jika ingin melebarkan sayap, mengingat ada batasan-batasan usia sehingga mereka hanya dapat jalan di tempat berkontribusi di ajang daerah atau ajang terbuka lainnya. Namun demikian tidak menyurutkan semangat mereka dalam membawa nama baik Gunungkidul.

“Kalau yang masih muda sebenarnya juga banyak bermunculan. Itu nanti yang menjadi generasi penerus dan ujung tombak kami,” tutupnya.

Ia berharap, dunia olahraga kaum disabliltas Gunungkidul semakin melejit. Atlet-atlet berprestasi lainnya dapat terfasilitasi dan mampu mengembangkan kemampuan, sehingga tidak ada perbedaan lagi bagi para penyandang disabilitas dengan orang pada umumnya. Kemudian, Gunungkidul juga tidak dikenal hanya dengan pariwisata namun keuletan masyarakatnya dan prestasi yang dimiliki.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler