fbpx
Connect with us

Info Ringan

Guru-Guru Indonesia Yang Mampu Menggugah Keharuan Serta Menginspirasi

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)–Guru bertanggungjawab atas generasi yang nantinya akan membangun negara, melakukan perubahan sosial dan peran lainnya. Tak ayal julukan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” pun melekat pada diri seorang guru. Tak hanya waktu dan pikirannya yang dikorbankan, banyak guru juga mendedikasikan hidupnya demi membentuk siswa atau anak didik yang cerdas dan membawa perubahan positif. Mereka bahkan menginspirasi banyak orang. Seperti beberapa guru inspiratif ini, yang melawan rasa takut serta ragu, berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa. Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa guru inspiratif di Indonesia.

Slamet Riyadi, Guru Asal Salatiga Yang Menjadi Astronot

Slamet Riyadi, demikian ia dipanggil. Guru SMP Negeri 4 Tengaran Satu Atap, Salatiga, Jawa Tengah ini merasa beruntung karena telah menjadi salah satu dari tujuh orang guru yang mengikuti program Honeywell for Educators at Space Academy (HESA).  Ia bersama keenam guru lainnya diberangkatkan ke Space Academy, Antariksa di Hunstville, Alabama, AS. Selama satu pekan ia bersama keenam guru Indonesia melaksanakan serangkaian pembekalan materi ilmu STEM (Sains, Teknologi, Engineering/Teknik, Matematika) dan pelatihan fisik yang diberikan oleh astronot NASA.

Dalam pelatihan tersebut, guru asal Salatiga ini sangat menikmati sekali. Mulai pukul 7 pagi hingga pukul 7 malam, materi yang diberikan oleh HESA sangat menantang, apalagi ia merupakan seorang guru matematika. Ia juga melakukan “simulasi” layaknya seorang astronot sungguhan. Simulasi tersebut dilakukan di suatu wahana khusus dengan gravitasi nol, otomatis mengambang dan bisa berjalan seperti di bulan.

Berita Lainnya  Pubertas Dini Bahayakan Kesehatan Anak?

Ahmad Haris, Guru Yang Rela Menyebrangi Laut Demi Mengajar

atu tahun yang lalu, sempat viral sebuah video yang beredar di media sosial. Video itu menunjukkan sosok laki-laki yang menyebrang lautan sembari memegang tas di atas tubuhnya, agar tas tersebut tidak basah. Ia adalah Ahmad Haris, seorang guru yang mengajar di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di pulau Pura dimana tak ada listrik dan air bersih yang terbilang minim. Ia rela menyebrang lautan demi bisa mengajar dan menemui muridnya. Biasanya ia menggunakan sepeda motor kemudian berlanjut menyebrangi laut dengan kapal menuju sekolah tempat ia mengajar. Namun saat kondisi laut tidak memungkinkan, seperti ombak yang tak menentu hingga membuat kapal tidak bisa dioperasikan, Ahmad pun mau tidak mau harus berenang demi melangsungkan aktivitasnya sebagai guru. Jarak dari rumahnya yang berada di kota menuju sekolah sekitar 30-40 kilometer. Ia membutuhkan waktu satu jam untuk mencapai sekolah tersebut.

Untung, Sang Pengajar Tanpa Lengan

Berita Lainnya  Lima Kesalahan Dalam Berdandan Yang Membuat Wanita Tampak Lebih Tua

Untung meski tanpa lengan tetap semangat mengajar. Ia merupakan seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Ulum Desa Batang-batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.  Para siswa sangat senang diajar oleh Untung. Ia dikenal sebagai sosok guru yang penyabar serta nyaman dalam menyampaikan materi pelajaran dan tidak pernah putus asa mengajar mata pelajaran Agama Islam. Cara mengajarnya l pun seperti guru normal lainnya. Untung juga mampu menulis lafal ayat-ayat Al-Quran di papan tulis. Bahkan, Ia sangat lihai mengoprasikan tombol laptop. Ia menggunakan laptop untuk mendukung pekerjaannya sebagai seorang guru.

Sarwendah Kongtesha Saat Mengajar Murid-Muridnya Di Pulau Adonara

Kisah Sarwendah Kongtesha (dulu 21 tahun) sempat viral pada tahun 2014. Di usia yang masih sangat muda, dia berani meninggalkan kenyamanyan hidupnya di kota Manado untuk menjadi guru di desa kecil di Pulau Adonara. Setelah lulus dari Jurusan Matematika, Universitas Negeri Manado, Sarwendah mendaftar dalam program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) yang diprakarsai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Selama satu tahun, Sarwendah mengabdi mengajar dari pagi hingga petang demi memajukan pendidikan anak-anak di Pulau Adonara.

Klik untuk Komentar

Berita Terpopuler