fbpx
Connect with us

Sosial

Harmoni Apik di Desa Sidoharjo, Pemudik Rela Karantina Diri, Warga Tanggung Kebutuhan Hidup

Diterbitkan

pada tanggal

Tepus,(pidjar.com)–Suasana pagi hari di Balai Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus nampak riuh. Sejumlah perangkat desa dibantu Babhinkamtibmas mulai menata paket sembako yang diambil dari dalam lumbung pangan milik desa setempat. Sembako tersebut akan diberikan kepada masyarakat dari perantauan yang menjalani isolasi mandiri di bangunan milik desa. Isolasi dilakukan selama 14 hari dan dengan adanya bantuan tersebut dapat menjadikan semangat agar para pendatang menaati protokol yang ada.

Paket sembako tersebut berisi 5 kilogram beras, 10 bungkus mie instan, gula pasir, sarden serta teh. Setelah ditata rapi di dalam bagasi mobil, pihak pemerintah desa mulai menuju sebuah posko di wilayah Padukuhan Klepu. Sesampainya di sana, paket sembako diserahkan kepada petugas piket yang berjaga.

Tak jauh dari posko, sekitar 200 meter ada bangunan balai padukuhan yang nampak lengang. Namun ternyata di dalamnya saat ini dihuni oleh dua orang warga yang baru pulang dari wilayah Tangerang.

“Paket itu nanti diserahkan kepada warga kita yang saat ini menjalani isolasi mandiri di balai padukuhan. Hanya ditaruh di depan balai kemudian nanti mereka mengambilnya,” kata Kasi Pemerintahan Desa Sidoharjo, Eka Sulistiana, Selasa (28/04/2020) kemarin.

Sesudah dari posko tersebut, para pamong desa kemudian menuju bangunan PAUD yang berjarak sekitar 500 meter dari balai padukuhan. Ternyata di sana juga digunakan sebagai ruang isolasi bagi pemudik yang pulang dari luar wilayah.

“Sembako yang diberikan juga sama. Paket ini kita berikan seminggu dua kali. Karena perkiraan kita sekali paket ini bisa untuk 4 hari,” kata Sulis.

Ia menjelaskan, secara keseluruhan saat ini ada 9 jiwa yang menjalani isolasi mandiri di tempat berbeda. Menurutnya isolasi mandiri ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya penularan virus Covid-19 yang dibawa oleh para pemudik tersebut. Namun begitu, dirinya menjelaskan bahwa 9 pemudik saat ini dalam kondisi sehat.

“Semua sehat karena juga berkoordiasi dengan puskesmas untuk memantau kesehatan mereka,” terang Sulis.

Dalam langkah ini, menurut dia, seluruh warga di Desa Sidorejo sangat mendukung. Sebab, mereka juga banyak membantu kebutuhan para pendatang yang menjalani isolasi di bangunan-bangunan milik desa itu.

“Ada kasur, tempat tidur, kompor alat masak bahkan tv sementara diberikan untuk memfasilitasi warga yang isolasi itu agar mereka juga tidak bosan. Ini semangat warga, semangat untuk memerangi covid-19. Sehingga kita berharap warga di wilayah kami tidak ada yang tertular virus,” bebernya.

Lebih lanjut dikatakan, sembako yang diberikan sendiri merupakan hasil sumbangan para warga yang mereka kirimkan ke lumbung pangan desa. Pihak desa sebelumnya terinspirasi para pendahulu yang menumpuk bahan pangan untuk nantinya diberikan ke masyarakat saat pageblug tiba.

Selama ini, masyarakat yang berprofesi sebagai petani banyak menyumbangkan beras mereka. Kemudian bagi peternak ayam petelur memberikan telur mereka, pemilik warung menyumbang bahan pangan yang tidak mudah basi lainnya.

“Kalau sekarang ini, kita menjamin agar masyarakat tidak kelaparan, bahan pangan kita penuhi. Ada yang bawa jagung, beras, padi ke lumbung saking semangat mereka. Total sudah ada 1 ton beras, mie instan ada 30 dus, telur ada yang bantu telur 60 kilogram dan ada juga sarden dan gula pasir,” beber dia.

Lumbung pangan desa ini, nantinya juga tidak hanya diberikan kepada warga yang diisolasi. Tetapi masyarakat yang sangat membutuhkan dan mereka tercecer dari jaring pengaman sosial.

“Lumbung pangan ini akan terus berlanjut, tidak hanya saat corona ini saja. Pasti ada yang tercecer dari jaring pengaman sosial, ini tugas kita nanti mekanismenya melalui pak dukuh,” ungkapnya.

Sebagai informasi, di wilayah tersebut ada 131 pemudik masuk ke desa Sidoharjo. Selain yang terbanyak dari Yogyakarta, ada juga beberapa dari Surabaya, Riau dan Jawa Tengah.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler