fbpx
Connect with us

Sosial

Ironi Garam Kanigoro, Kualitas Nomor Satu Tapi Dihargai Super Murah

Diterbitkan

pada tanggal

Saptosari,(pidjar.com)–Kekayaan alam di Kabupaten Gunungkidul memang cukup melimpah. Hamparan pantai dengan air yang bersih tidak hanya menjadi daya tarik wisatawan, namun juga beberapa pantai di Gunungkidul mampu menghasilkan garam. Bukan hanya garam biasa saja, akan tetapi yang dihasilkan garam Gunungkidul adalah garam kwalitas super. Akan tetapi, meski produksi garam melimpah, para petani garam masih kesulitan dalam pemasaran produk mereka.

Seperti dialami oleh Kelompok Garam Dadap Makmur di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari. Sejak 2018 lalu, puluhan petani garam mengolah air laut dari Pantai Dadap Ayam menjadi garam konsumsi. Seperti halnya ciri khas garam Gunungkidul, garam yang dihasilkan oleh warga Kanigoro tersebut berwarna putih bersih.

“Sejak 2018 lalu anggota kita ada 24 orang yang aktif membuat garam,” kata ketua kelompok tani garam, Triyono, Sabtu (13/07/2019).

Ia menjelaskan, di kawasan Pantai Dadap Ayam itu terdapat 75 kotak yang menyerupai terowongan atau kerap disebut tunnel untuk produksi garam. Setiap lima buah tunnel itu mampu menghasilkan 80 sampai 90 kilogram garam grosok.

Berita Lainnya  Warga dan Investor Rebutan Bukit, Pantai Watukodok Kembali Memanas

“Kalau produksi lancar biasanya bisa sampai 500 sampai 700 kilogram garam,” ucapnya.

Banyaknya produksi tersebut didukung oleh fasilitas yang memadai. Sehingga meski musim penghujan tiba, para petani masih tetap bisa berproduksi walauapun membutuhkan waktu yang lebih lama lantaran minimnya sinar matahari.

“Ini kan sudah ada atapnya, jadi kalau hujan tidak jadi masalah sebenarnya, kita bisa terus produksi akan tetapi kalau hujan lebih lama,” ujar dia.

Lokasi pembuatan garam oleh Kelompok Garam Dadap Makmur

Namun begitu, banyaknya produksi garam yang dihasilkan belum mampu menjadi pundi-pundi rupiah bagi para petani. Pasalnya, selama ini mereka masih kesulitan dalam pemasaran produk, sehingga garam lokal itu hanya dibeli oleh masyarakat setempat untuk campuran minum ternak.

“Biasanya dijual dengan harga Rp 2.000 kepada masyarakat setempat. Kalau ada wisatawan yang beli harganya Rp 4.000 per kilogramnya,” jelas dia.

Menurutnya, jika produksi mereka memiliki pasar yang jelas, para petani garam akan mampu memperoleh keuntungan cukup luar biasa. Pasalnya, akses untuk mencapai lokasi tersebut sangatlah mudah karena satu arah dengan Pantai Ngobaran.

Berita Lainnya  Bermunculannya Monyet, Anjing dan Macan Loreng ke Pemukiman Warga, Ini Kata Dinas

“Pakai motor bisa, mobil bisa. Untuk ke sini kan mudah karena hanya di sebelah timur Pantai Ngobaran,” terang dia.

Pihaknya berharap pemerintah mampu turun tangan melihat dan membatu proses pemasaran produk lokal tersebut. Selain itu, para petani juga menginginkan adanya pelatihan pembuatan garam batang. Dengan harapan garam produksi mereka mlebih mampu diterima pasar.

“Untuk pemasaran masih sangat susah, kalau ada pelatihan pembuatan garam batang itu kan bisa lebih awet. Masyarakat yang beli untuk konsumsi juga lebih berminat,” terang dia.

Sementara itu, Kades Kanigoro, Suroso mengungkapkan hal yang serupa. Pihaknya masih terus berupaya mencari jaringan untuk pemasaran produk lokal itu. Sehingga ke depan diharapkan para petani garam ini mampu meningkatkan pendapatan mereka.

“Kita terkendala di pemasaran, masih belum punya jaringan mau di jual ke siapa,” pungkas dia.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler