fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Kasus Demam Berdarah Tetap Tinggi Meski Musim Kemarau, Dinas Kesehatan Beri Perhatian Khusus

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari, (pidjar.com)–Hingga bulan September 2019 ini, kasus demam berdarah terus terjadi di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Sebuah hal yang cukup ganjil lantaran ketika musim kemarau, korban akibat penyakit berbahaya ini terus berjatuhan. Fenomena ini sendiri saat ini mendapatkan perhatian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mengingat kasus yang terjadi jauh melonjak dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul jumlah kasus demam berdarah mencapai ratusan. Pada semester pertama tahun 2019 ini, kasus demam berdarah total berjumlah 308 kasus. Korban demam berdarah sendiri terus berjatuhan lantaran setiap bulannya, selalu ada kasus yang terjadi. Seiring berjalannya waktu, jumlah ini terus bertambah. Pada bulan Juli terjadi 38 kasus, Agustus sebanyak 26 kasus dan September 10 kasus.

Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka mengakui bahwa kasus DBD di Gunungkidul pada musim kemarau ini memang masih terus terjadi. Setiap bulannya, puluhan warga pergi berobat ke rumah sakit akibat penyakit yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk aides aigepty ini.

“Kami menjadikan kasus demam berdarah ini perhatian khusus karena hujan tidak turun tapi nyamuk masih berkembang biak,” tutur Priyanta kepada pidjar.com, Kamis (03/10/2019).

Menurutnya, salah satu faktor utama penyebab penyakit berbahaya ini merupakan faktor lingkungan. Jentik nyamuk dapat berkembang biak di genangan air. Sehingga menjadi sangat perlu bagi warga untuk menjaga lingkungan sekitar mereka.

Berita Lainnya  Persempit Ruang Gerak Terorisme dan Paham Radikal, Kapolda Minta Masyarakat Aktif Lakukan Deteksi Dini

“Angka bebas jentik di bawah 95%,” jelas dia.

Ia menyebut angka tersebut menunjukan arti bahwa rumah yang ada jentik nyamuknya di ambang batas. Adanya sampah bercampur air yang dibuang di luar rumah menyebabkan nyamuk terus dapat berkembang biak.

“Ada kemungkinan sampah berair di luar rumah digunakan untuk berkembang biak nyamuk,” ujarnya.

Menjelang musim penghujan, pihaknya terus mengupayakan agar petugas kesehatan terus menggencarkan kampanye Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Penggencaran sangat perlu dilakukan mengingat saat musim penghujan, potensi mewabahnya penyakit ini cukup besar. Pihaknya berharap, dengan melibatkan semua pihak serta penyadaran masyarakat, kasus DBD dapat diminimalisir.

“Kampanye tersebut kami canangkan agar saat musim hujan tiba tidak menimbulkan korban yang lebih banyak,” kata Priyanta.

Perlu diketahui, kasus DBD pada tahun ini sampai bulan Oktober total mencapai 423 kasus. Jumlah tersebut tergolong tinggi jika dibanding dengan dua tahun belakang di mana pada tahun 2018 tercatat sebanyak 124 orang terkena DBD. Untuk tahun 2017 sebanyak 228 kasus dengan memakan korban jiwa 1 orang. Jumlah kasus tertinggi sendiri masih terjadi pada tahun 2016 yang mencapai 1.154 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 4 orang.

Berita Lainnya  Raih Podium di Sentul, Pembalap Gunungkidul Lolos ke PON Papua

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler