fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Kasus HIV/AIDS di Gunungkidul Didominasi Perantau

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Gunungkidul dalam tiga tahun terakhir tercatat terus mengalami penurunan. Kasus HIV/AIDS di Gunungkidul sendiri didominasi oleh perantau yang pulang setelah tertular. Meskipun terjadi penurunan, namun bayang-bayang penularan virus HIV dan AIDS masih berpeluang terjadi jika masyarakat tak menjaga gaya hidup yang sehat. Stigma buruk yang melekat pada ODHA menjadi tantangan tersendiri supaya ODHA dapat diterima bersosialisasi dengan masyarakat.

Tenaga Teknis Program HIV, Seksi Penyakit Menular Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ayu Mursidi, menyampaikan, di Gunungkidul, pada tahun 2019 tecatat sebanyak 77 penderita HIV dan 4 penderita AIDS. Kemudian pada tahun 2020 menurun sebanyak 56 penyandang HIV dan 17 penyandang AIDS dan tahun 2021 hingga bulan September ini tercatat 21 penyandang HIV dan 8 Penyandang AIDS.

“Trendnya terus mengalami penurunan,” beber Ayu, Sabtu (30/10/2021) siang.

Ia mengungkapkan, secara keseluruhan, kasus HIV/AID di Gunungkidul sendiri hampir seluruhnya terjadi pada orang yang merantau dan terkena HIV kemudian kembali ke Gunungkidul. Pihaknya terus melakukan pemantauan berkaitan dengan penularan HIV/AIDS di Gunungkidul ini.

“Kalau September kemarin dominannya dari pasangan HIV/AIDS yang cerai terus menikah lagi. Anaknya juga bisa tertular dari masa kehamilan maupun proses persalinan. Tapi hal ini bisa diminimalisir kalau ibunya sering minum obat,” ungkapnya.

Dalam penjangkauan dan pendekatan terhadap ODHA, Dinas Kesehatan sendiri bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus pada isu HIV/AIDS. Menurutnya, penyandang HIV masih dapat berkegiatan seperti biasanya. Namun tak jarang dalam kegiatannya, masih terkendala stigma yang melekat pada ODHA di masyarakat.

“Penularannya kan tidak segampang seperti covid19. Untuk mempertahankan daya tahan tubuhnya itu, biasanya mengkonsumsi obat ARV biar tidak drop,” ucap Ayu.

Lebih lanjut, ia menambahkan, untuk memberikan dukungan dan motivasi terhadap ODHA sudah terdapat komunitas-komunitas khusus untuk ODHA sebagai wadah berbagi cerita. Sehingga ODHA tak merasa sendiri dan dapat beraktifitas seperti biasa.

“Belum banyak yang mengerti tentang penularan HIV/AIDS jadi tantangan tersendiri dalam penanganan ODHA. Kadang bikin takut bersosialisasi. Padahal orang dengan HIV masih bisa bekerja dengan syarat-syarat tertentu. Tapi sayangnya masih banyak diskriminasi yang terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Gunungkidul, Winarto, mengungkapkan jika fenomena ODHA seperti gunung es yang permasalahannya hanya tampak di permukaan. Namun di dalamnya terdapat berbagai permasalahan yang kompleks. Ia menyampaikan, jika di Gunungkidul sendiri belum terdapat panti ataupun tempat khusus untuk menangani ODHA.

“Kalau di Gunungkidul belum ada ya (panti) yang khusus ODHA, tapi kalau ada yang mau buat ya silahkan. Tapi sekarang wewenang panti itu kan sekarang di provinsi,” jelas Winarto.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler