Sosial
Kejadian Sapi Mati Mendadak Melebar ke Kecamatan Tepus dan Rongkop, 2 Sapi Terbujur Kaku di Kandang
Rongkop,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kejadian ternak khususnya sapi yang mati mendadak terus terjadi di Gunungkidul. Hal yang sebelumnya dianggap biasa ini menjadi cukup meresahkan lantaran adanya dugaan temuan penyakit anthraks. Setelah sebelumnya menghantui warga Kecamatan Ponjong, kejadian sapi mati mendadak ini terus melebar. Sejumlah wilayah yang berbatasan dengan Desa Gombang, Kecamatan Ponjong, tempat pertama kali kejadian, mulai bermunculan peristiwa ternak yang mati mendadak.
Dalam beberapa pekan terakhir sejumlah sapi dilaporkan mati mendadak dengan penyebab yang belum diketahui. Pada Selasa (14/01/2020) tadi, dua ekor sapi milik warga dilaporkan ditemukan dalam kondisi mati di dalam kandang. Dua ternak tersebut yakni milik warga Padukuhan Janglot, Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop dan satu di Padukuhan Wunut, Desa Sumberwungu, Kecamatan Tepus.
Camat Rongkop, Agung Danarto mengungkapkan, Selasa siang tadi dirinya mendapatkan laporan dari warga dan perangkat desa Pucanganom mengenai adanya sapi milik petani yang ditemukan mati di dalam kandang. Sontak temuan ini menjadi perhatian khusus dari sejumlah instansi, baik dinas maupun perangkat desa setempat.

Penanganan khusus kemudian dilakukan oleh petugas. Dengan mengambil sampel tanah, darah, dan veses yang ada dikandang telah diambil untuk dilakukan uji laboratorium. Di mana uji lab ini sendiri digunakan untuk mengetahui penyebab matinya ternak tersebut. Terutama pula untuk melihat apakah ternak tersebut mati karena anthraks atau hal lainnya.
“Tadi sudah diambil sejumlah sampel. Di lokasi juga disterilisasi mengunakan cairan fomalin, untuk bangkai sapi dikubur di titik yang sekiranya agak jauh dari jangkauan masyarakat,” kata Agung, Selasa petang saat dikonfirmasi.
Ia mengungkapkan, selain penanganan tersebut, dari petugas juga telah memberikan vaksin antibiotik pada 9 ternak yang berada di sekitar titik tersebut. Selanjutnya penanganan lain pun dimungkinkan akan dilakukab secara berkelanjutan.
“Ada yang diberi vaksin juga ternak di sekitar lokasi itu,” tambahnya.
Menurutnya, sapi mati mendadak ini baru pertama kali terjadi di wilayah Rongkop, khususnya Pucanganom. Jajarannya pun memang agak sedikit waspada sejak beberapa waktu lalu beredar kabar mengenai persebaran penyakit antraks. Pasalnya, Desa Pucanganom sendiri berbatasan langsung dengan Desa Gombang yang memang ada temuan positif antraks maupun suspect penyakit ini.
Sejak merebaknya isu ini, dari pemerintah memang agak sedikit selektif. Di mana peredaran ternak agak dibatasi dan diteliti dengan seksama. Untuk kejadian sapi mati yang terjadi pada Selasa siang tadi, belum diketahui secara pasti penyebabnya. Pasalnya hasil pemeriksaan dan uji laboratorium baru diketahui sekitar 7 hari lamanya.
“Belum tahu penyebabnya apa. Tapi yang jelas sudah ditangani oleh petugas. Untuk antisipasi pasti ada, sejak temuan di Bejiharjo, Kecamatan Karangomojo itu masyarakat sudah diberikan edukasi dan lebih selektif. Apa lagi isu anhtraks saat ini sangat dekat dengan daerah kami, kita upayakan memberikan edukasi untuk pelaporan,” imbuhnya.
Sementara itu, kejadian serupa juga terjadi di Padukuhan Wunut, Desa Sumberungu, Kecamatan Tepus. Selasa pagi tadi, seekor sapi milik Suparman juga ditemukan mati di dalam kandang. Kejadian ini sendiri cukup mengagetkan lantaran pada Senin petang, sapi yang dalam kondisi bunting 2 bulan tersebut masih dalam keadaan sehat dan bahkan diberikan makan.

Camat Tepus, Alsito membenarkan perihal adanya ternak warga yang mati mendadak di Padukuhan Wunut, Desa Sumberwungu, Kecamatan Tepus juga ditemukan sapi mati. Penanganan khusus pun juga telah dilakukan meski hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebabnya karena apa.
“Untuk Kecamatan Tepus sapi mati mendadak ini baru pertama kali di tahun 2020 semoga bukan karena penyakit yang sekiranya berbahaya. Masyarakat sudah diberikan pemahaman, ndak perlu khawatir,” papar Alsito.
Rentetan sapi mati mendadak pun saat ini terus bertambah. Dari Pemkab Gunungkidul sudah mengeluarkan surat edaran, di tingkat bawah para kepala RT/RW pun turun untuk melakukan pendataan jumlah hewan peliharaan mulai dari unggas hingga ternak yang dimiliki warganya.
-
Uncategorized1 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized2 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya1 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized7 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial1 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized1 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized2 hari yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Uncategorized1 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized2 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized4 hari yang laluDua Oknum Kejaksaan di Gunungkidul Diduga Terlibat Skandal Asusila
