fbpx
Connect with us

Sosial

Kisah Karjiyem 31 Tahun Rawat Anak Polio di Tengah Himpitan Ekonomi

Published

on

Saptosari,(pidjar.com)–Menikmati masa tua yang mapan tentu saja menjadi impian banyak orang. Termasuk Karjiyem warga Padukuhan Ngondel Kulon, Kalurahan Krambilsawit, Kapanewon Saptosari. Namun demikian, himpitan ekonomi dirasakan oleh perempuan 63 tahun ini, sehingga harus melakukan berbagai upaya untuk menyambung hidup dan kesehatan anaknya.

Karjiyem adalah seorang janda, sejak suaminya meninggal itu, ia harus berjuang sendirian untuk pemenuhan kebutuhan. Setiap harinya berjualan untuk menopang kebutuhnnya, biasanya mengumpulkan sayur mayur yang ada di pekarangan tetangga, seperti daun melinjo, nangka muda dan lain sebagainya. Sayuran itu kemudian ia bagi-bagi menjadi beberapa plastik dan kemudian dijual lagi di pasar.

“Sehari bisa kumpul 100 ribu, tapi untuk biaya kendaraan Rp. 30.000, sedangkan untuk membeli dagangan sekitar Rp. 60.000, sisanya Rp. 10.000,” ucap dia, saat ditemui pidjar.com, Kamis (01/10/2020).

Bersama tetangganya berjualan di Pasar Playen. Jarak pasar dari rumah Karjiyem cukup jauh, sekitar 35 kilometer. Ini yang membuat Karjiyem harus menyisihkan keuntungan untuk patungan biaya transportasi mobil milik tetangganya. Setiap hari ia harus berangkat dini hari dan pulang pagi pagi menjelang siang.

“Jam 01.00 WIB berangkat, pulang sampai rumah sekitar jam 09.00 WIB,” kata perempuan itu.

Kendati hanya bisa menyisihkan uang Rp. 10.000 setiap harinya dari berjualan sayur, Karjiyem mengaku tak patah arang. Uang yang didapat untuk biaya makan dan kebutuhan lainnya. Sering kali juga dibantu oleh anak-anaknya. Karjiyem memiliki 3 orang anak, anak ketiganya bernama Yatmi (31) menderita sakit polio sejak ia lahir.

Sejak lahir perkembangannya memang berbeda dengan saudara-saudaranya. Saat dicek ternyata Yatmi mengalami lumpuh dan sama sekali tak mampu menggerakan badannya. Bahkan untuk sekedar makan ataupun buang air harus sepenuhnya dibantu oleh ibunya ataupun orang lain.

Yatmi hanya bisa tidur di kasur lusuh di kamarnya, tak ada aktivitas yang dapat dilakukan olehnya. Biasanya, yatmi hanya ditinggal sendirian saat Karjiyem ke pasar untuk berjualan. Setelah sampai rumah baru Karjiyem mengurus putrinya itu. Terkadang dia juga diajak ke depan rumah untuk melihat situasi di luar rumah. Untuk membawa Yatmi ke luar rumah, Kartijem harus membopongnya ke kursi roda.

Kepada pidjar.com, Karjiyem mengaku sudah melakukan berbagai upaya agar anaknya yang sudah tak muda lagi tersebut bisa beraktivitas kembali. Baik pengobatan medis maupun pengobatan tradisional sudah ia jalani. Namun tak juga membuahkan hasil.

“Saya ya cuma pasrah, bantuan juga gak ada. Ya hanya ini kursi roda Yatmi dari Dinas Sosial,” ucapnya sembari menunjuk kursi roda.

Selama ini, keduanya tinggal di rumah sederhana dengan konstruksi semi permanen berukuran 9×12 meter. Beberapa waktu lalu, salah satu bagian rumah ini ada yang nyaris roboh dan dapat membahayakan penghuninya. Beruntung, warga sekitar memiliki kepedulian yang baik sehingga rumah lawas itu sebagian dirobohkan.

“Sementara yang membahayakan sudah dirobohkan tetangga, kalau mau bangun ya sulit untuk makan aja susah,” papar Karjiyem.

Saat dikonfirmasi, ketua RT setempat, Murdiyanto (43) mengaku warganya ini memang sama sekali belum tersentuh bantuan. Pihaknya berharap, kondisi warganya yang jauh dari kata layak ini mendapat perhatian dari pemerintah maupun berbagai lapisan masyarakat.

“Kalau ada kuota bantuan ya kami bantu mengajukan, tapi sejauh ini belum ada. Kondisinya memang kasihan betul,” ujar Murdiyanto.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler