fbpx
Connect with us

Sosial

Kisah Pilu Mary Jane, Temukan Keluarga Baru di Tengah Menunggu Eksekusi Mati

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Di sini, hari demi hari, kulalui dengan rasa sakit yang kualami. Di mana ketenangan hatiku, kedamaian jiwaku, suka cita yang selalu memenuhi hidupku, lenyap. Lenyaplah sudah semuanya saat jeruji besi merebutnya. Namun sepucuk harapan tumbuh, saatku mengenal dirimu. Ketenangan kembali aku rasakan.

Begitulah, sepenggal lirik lagu pilu yang diciptakan oleh Mary Jane Fiesta Veloso (36), warga negara asing asal Filipina yang merupakan terpidana mati kasus narkotika. Lagu tersebut menggambarkan keinginan Mary Jane untuk bebas dari jeruji besi yang selama 11 tahun 6 bulan ini mengurungnya. Bahkan dengan status hukumannya saat ini, situasi bisa memburuk bagi Mary Jane yang seakan tinggal menunggu para eksekutor mencabutnya.

Kepada pidjar.com, ibu dua anak ini memaparkan mulai pasrah dengan takdir hidup yang harus dijalaninya sejak sedekade terakhir. Sejumlah upaya hukum terus ia lakukan untuk bisa mengurangi hukuman yang harus ia terima. Kasus yang mendera Mary Jane sendiri memang tak main-main. Ia divonis mati setelah upaya penyelundupan heroin yang dilakukannya berhasil dibongkar oleh petugas. Namun hingga saat ini, vonisnya memang tak berubah, ia tetap merupakan terpidana mati. Bisa dibilang dengan lamanya masa penahanan yang ia jalani, eksekusi hukuman mati memang semakin dekat.

Kegundahan dan ketakutan diakuinya terus menghantui dirinya selama beberapa waktu terakhir. Namun begitu, di balik kegalauannya tersebut, ia cukup beruntung lantaran seakan menemukan keluarga baru selama menjalani kehidupan penjara. Hari-harinya di Lembaga Permasyarakatan Perempuan Kelas IIB Yogyakarta memang penuh dengan dukungan moril kepadanya. Selama ini, para rekan sesama penghuni Lapas Perempuan maupun petugas Lapas memperlakukannya dengan sangat baik. Hal ini menurutnya menjadi motivasinya untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik.

“Saya terharu dengan perlakuan para petugas maupun rekan sesama warga binaan. Mereka selalu memberikan dukungan luar biasa kepada saya. Seakan saya menemukan keluarga baru di sini,” ucap Mary Jane, Selasa (21/09/2021).

Mary Jane sendiri menghabiskan hari-harinya dengan berbagai kesibukan. Selain itu, keimanannya juga ia rasakan kian bertambah. Dengan kegiatan religius, ia merasakan ketenangan secara psikologis di tengah ketakutan dan kecemasan yang menderanya. Bahkan, Mary Jane sendiri rutin menjalankan Puasa Ester. Puasa Ester sendiri bagi Umat Katholik merupakan puasa dari fajar sampai senja pada malam sebagai upaya bermunajat.

“Hati saya lebih tenang, moodnya sudah tidak lagi naik turun setelah saya semakin dekat dengan Tuhan Yesus,” sambung dia.

Setiap harinya ia bangun pukul 04.30 WIB, ia lantas melakukan doa pagi. Setelah itu, ia kemudian memakan biskuit dan kopi putih kesukaannya sebagai bekal berpuasa.

“Setelah itu setengah tujuh keluar dari blok kamar, apel, terus senam. Sekarang lebih bugar karena rutin olahraga dan menjaga pola makan,” ucap Mary.

Setelah senam selesai, Mary Jane bersama dengan narapidana lainnya kemudian memasuki Balai Latihan Kerja yang berada di dalam Lapas. Di lokasi tersebut ia duduk dengan dua orang temannya dan membatik. Maklum, saat ini, batik Mary Jane laku keras. Bahkan pesanan selalu membludak.

“Saat ini banyak sekali pesanan, makanya saya selalu menjaga mood agar selalu bagus dan bisa menyelesaikan batik ini, Karena ini batik tulis, satu lembar berukuran dua meter dari mulai menggambar hingga finishing biasanya satu bulan baru selesai,” papar Mary.

Berjam-jam ia lakukan tanpa rasa lelah. Menurutnya batik juga menjadi sarana menenangkan jiwanya. Ia mengaku, saat membatik dalam hati bermunajad dengan lagu-lagu pujian.

“Waktunya terasa sangat cepat, tau-tau sudah sore. Setiap sore saya sempatkan ke gereja,” kata dia.

Bangunan gereja sendiri ada di dalam Lapas. Warga binaan dengan bebas melakukan aktivitas di rumah ibadahnya masing-masing. Mary Jane sendiri mengaku intens berkomunikasi dengan Romo yang menjadi penasehat spiritualnya.

“Akhirnya saya bisa menciptakan lagu karena itu isi hati saya. Sepucuk harapan bagi saya untuk bisa pulang dan bertemu anak orangtua dan keluarga besar saya,” ucap Mary Jane sambil menyeka air matanya.

Ia mengaku seperti menemukan keluarga anyar di Lapas Perempuan. Pendampingan dari petugas intens ia terima. Bahkan saat moodnya naik turun pun, ada petugas yang berusaha menenangkannya.

“Baru lima tahun ini saya bisa menerima semuanya, memang kondisinya sangat sulit bagi saya,” ucap dia.

Terbesit harapan, ketrampilannya seperti membatik dan merajut bisa ia tularkan kepada tetangganya di Filipina nanti. Tentunya jika kemudian harapannya untuk mendapatkan pengampunan dan bisa pulang. Mary Jane sendiri terus yakin jika apa yang menjadi harapannya bisa terjadi.

“Kesibukan positif saya di sini, seperti membatik, merajut memainkan alat musik, akan saya ajarkan kepada para tetangga. Saya ingin bermanfaat,” papar dia.

Situasi sendiri semakin sulit bagi Mary Jane di tengah masa pandemi ini. Kerinduannya kepada keluarga semakin berat lantaran sejak pandemi melanda, sudah hampir 2 tahun ini ia tak bisa bertemu dengan kedua anaknya. Biasanya, setahun sekali, kedua anaknya selalu berkunjung untuk melepas rindu. Namun memang akibat pandemi ini, ada pengetatan aturan yang diberlakukan di Lapas. Beruntung, petugas memberikan kesempatan baginya untuk melakukan video call dengan keluarganya. Hal ini menjadi pelipur lara baginya meski tak bisa bertemua langsung dengan keluarganya.

“Anak saya ada dua, yang satu lulus SMA, mau kuliah tapi tidak ada biaya sekarang kerja, satunya SMP,” terang dia.

Sementara itu, Kepala LPP Perempuan Kelas IIB Yogyakarta, Ade Agustina menambahkan, hingga saat ini, Mary Jane sudah melaksanakan masa hukuman selama 11 tahun 6 bulan. Baru 3 tahun 6 bulan ini Mary Jane menjadi warga binaannya. Ia menilai, Mary Jane cenderung patuh dan multitalenta.

“Pembinaan yang kami lakukan direspon dengan baik, kami mengadakan pelatihan penulisan, alat musik, merajut membatik bahkan membaca dan membuat puisi. Semua bisa dia lakukan dengan baik,” tutur Ade.

Ade menyebut, selembar batik tulis ciptaan Mary Jane dijual Rp. 600ribu. Namun, banyak pembeli yang membelinya dengan harga lebih. Uang hasil penjualannya ia berikan dalam wujud e money yang juga tak jarang Mary Jane kirimkan untuk keluarganya di Filipina.

“Di sini juga dia sudah bisa Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Semua buku di perpustakaan sudah selesai dia baca,” ujarnya.

Mary Jane sendiri saat ini berada di blok Medium Security. Ia di dalam kamar bersama lima temannya. Hanya saja, jika proses hukumnya baru banyak dibahas, ia sering mengeluhkan migren hingga sakit pada kaki.

“Sudah dibawa ke dokter, tapi tidak terjadi apa-apa itu pengaruh psikisnya karena memang tekanannya sangat besar,” kata Ade.

Ade menambahkan, tak jarang mood Mary Jane juga mengalami naik turun. Sebelum pindah ke LPP Yogyakarta yang berada di Wonosari, Mary Jane sering berusaha menyakiti diri sendiri.

“Tidak pernah berbuat onar, tapi memang kalau moodnya gak stabil sering berusaha menyakiti diri. Dia bilang, toh juga nanti mati, tapi setelah kami dampingi psikis dan spiritualnya dia tenang lagi,” papar Ade.

Pendamping blok Mary Jane, Sri Kurniasih mengaku, belakangan, jika hati Mary Jane seringkali mengalami kegelisahan. Saat itu terjadi, ia kemduian memilih untuk menyendiri.

“Sejak awal dia bisa dengan cepat melakukan penyesuaian diri, semuanya kami dampingi sekarang dia bisa bermain alat musik, membatik, menari, menulis bahkan menciptakan lagu,” kata Sri.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler