Sosial
Kisah Pilu Pegiat Kanker Ngadiyono, Dua Lengan Diamputasi Hingga Dapati Bayinya Terserang Kanker Ginjal
Patuk,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kanker adalah penyakit yang sangat mengerikan. Saat ini, penyakit kanker menjadi pembunuh paling mematikan. Tak jarang akibat penyakit ini, menyimpan rasa duka dan kenangan pahit yang mendalam.
Seperti yang pernah dirasakan,oleh keluarga pasangan Ngadiyono (43) dan Yuni Waldiyati (42) warga Gluntung, Desa Patuk, Kecamatan Patuk. Lika-liku perjuangan yang penuh dengan kenangan pahit mereka tempuh meski akhirnya kemudian mereka harus kehilangan sang buah hati.
Diungkapkan oleh Ngadiyono, perjuangan melawan kanker yang diderita oleh anaknya yang bernama Alyana Naura Hafisa (4) bukanlah hal yang mudah. Terlebih kondisi ekonomi yang serba pas-pasan membuatnya harus menguatkan diri. Sejumlah pikiran berkecamuk di benaknya di mana di satu sisi, ia harus melihat penderitaan sang anak, sementara di sisi lain ia juga masih harus memikirkan pula mencari biaya pengobatan sang putri tercinta.
Ia bercerita, kabar mengenai sang putri yang divonis menderita kanker ginjal merupakan cobaan berat kedua yang harus ia terima. Sepuluh tahun silam, ia harus mengalami kenyataan mengerikan yang membuat kedua tangannya harus diamputasi. Ngadiyono mengalami kecelakaan kerja tersengat aliran listrik ketika bekerja sebagai buruh bangunan di Jogha.
"Di tengah keterbatasan saya yang tidak punya tangan ini, ibunya harus mencari uang untuk biaya pengobatan. Menyemangati diri sendiri itu butuh mental," kata Ngadiyono, Kamis (14/06/2018).

Sembari tertegun, Ngadiyono menceritakan bagaiamana pengalaman pahit yang harus ia alami selama 2 tahun terakhir ini. Sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa pada 3 bulan silam, Alyana divonis menderita kanker ginjal ketika memasuki usia 2 tahun. Saat itu sang putri seringkali sakit-sakitan. Setelah beberapa kali harus opname, barulah ia diberitahu dokter bahwa sang anak menderita kanker.
Meski sempat shock berat, namun kemudian ia berusaha untuk memberikan kesembuhan bagi putrinya di tengah keterbatasan fisik serta ekonomi yang ia alami. Setiap bulannya, si mungil Alyana harus mendapatkan 4 kali kemoterapi serta menjalani rawat inap selama 5 hari. Ia cukup beruntung sebenarnya lantaran pengobatan sang putri tersebut mendapatkan jaminan kesehatan. Meski demikian, untuk biaya operasional serta obat-obatan yang tak tertanggung BPJS seperti misalnya obat leukimia harus ditanggungnya. Ia sampai harus menjual tanahnya demi pengobatan sang putri.
“Selama 2 tahun, terus seperti itu menjadi rutinitas. Biaya operasional juga cukup berat, tapi kami harus kuat karena saat itu saya sangat berharap pada kesembuhan putri saya,” beber dia.
Ia melanjutkan, sayang, setelah 2 tahun berjuang melawan sakit, Alyana pada akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Kanker telah menjalar ke tubuh mungilnya. Sekitar 3 bulan silam, Alyana berpulang. Hingga saat ini, duka mendalam masih terus menggelayut di benaknya.
“Selama 2 tahun dalam keceriaan, serta 2 tahun dalam perjuangan melawan kanker sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Meski sudah tiada, Alyana tetap tidak akan pernah kami lupakan,” lanjut dia.
Sementara itu, istri Ngadiyono, Yuni mengatakan bahwa, kenangan manis tentang Alyana membuatnya mendapatkan pelajaran penting tentang arti hidup. Alyana mengajarkan kepadanya tentang kepolosan dan keceriaan dalam menjalani hidup. Di tengah penderitaan yang ia rasakan, Alyana tetap bisa menjadi keceriaan bagi keluarga.
"Yang saya salut, anak saya tidak pernah terlihat sakit di depan saya, malah dia selalu tersenyum. Ketika saya menangis dia bilang ibuk kenapa nangis adek aja engak nangis malah senyum," kata Yuni.
Menurut Yuni, sebagai seorang ibu yang melahirkan anaknya itu, perjuangan melawan kanker adalah tentang cinta kasih yang tidak memandang pamrih maupun rasa pengorbanan. Maka dari itu, dirinya akan meneruskan rasa perjuangan dengan sedikit membantu kepada warga Gunungkidul yang juga mengalami kanker. Tekad ini terus ia pupuk agar nantinya bisa menguatkan warga lain atau keluarga penderita kanker di Gunungkidul.
"Saya ikut dalam organisasi Keluarga Peduli Kanker Gunungkidul. Saya akan meneruskan perjuangan anak saya, membantu mencari dana seperti apa yang telah orang lain berikan kepada kami," pungkasnya.
-
Kriminal4 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa4 minggu yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial3 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Sosial7 hari yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized3 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Pemerintahan3 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized1 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Peristiwa4 minggu yang laluDalam Posisi Terduduk, Lansia 81 Tahun Ditemukan Gantung Diri di Belakang Rumah
-
Peristiwa3 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Uncategorized3 hari yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Pemerintahan5 hari yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Peristiwa4 minggu yang laluDiserempet Pemotor Tak Dikenal di Baleharjo, Pemotor Wanita Luka Parah Terjun ke Tegalan
