fbpx
Connect with us

Sosial

Masyarakat Diminta Tak Olok-olok Keluarga Korban Pelaku Bunuh Diri

Published

on

Karangmojo,(pidjar.com)–Hingga pertengahan September 2018 ini, telah tercatat sedikitnya 20 kasus bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul. Empat diantaranya terjadi pada medio kurang dari sebulan terakhir. Sebagian besar dari jumlah tersebut adalah kasus gantung diri. Yang memprihatinkan, kasus bunuh diri seakan menjadi trend lantaran saban tahunnya, tercatat selalu sedikitnya 30 kasus bunuh diri. Faktor depresi diketahui menjadi penyebab utama bunuh diri yang dilakukan oleh warga Gunungkidul.

Merespon hal itu, Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji) menggelar pelatihan lestari asyik dan migunani yang bertajuk Kisah-kisah Inspiratif Ketahanan Jiwa Masyarakat Gunungkidul, di Desa Bejiharjo, Karangmojo pada Sabtu (15/09/2018) kemarin.

Ketua Imaji, Jaka Yanuwidiasta mengatakan, peran pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam menyikapi banyaknya kasus gantung diri saat ini masih belum optimal. Lebih spesifik, Jaka menyebut masyarakat saat ini kesulitan mengakses kesehatan bagi pengidap gangguan jiwa.

“Dari sisi pelayanan pemerintah belum optimal, banyak warga yang mengalami gangguan jiwa masih sulit mengakses kesehatan,” kata Jaka.

Jaka mengatakan, pelayanan kesehatan sendiri dirasa sangat penting mengingat kasus bunuh diri di Gunungkidul hampir semuanya dilatarbelakangi oleh alasan tersebut. Ia juga menyebut, faktor pendorong lainnya yakni dari masalah ekonomi, rumah tangga dan asmara.

“Sampai dengan September ini kami mencatat ada 20 kasus, kebanyakan mereka karena depresi yang didorong berbagai faktor di belakangnya,” ujar Jaka.

Ia menambahkan, kasus bunuh diri tidak hanya berpengaruh pada keluargan korban, namun lebih dari itu juga berdampak kepada tetangga dan lingkungan sekitar. Jaka berharap adanya kepedulian dari masyarakat sekitar untuk tidak mengolok-olok orang yang bunuh diri.

“Kita harapkan pemerintah menjangkau semua elemen, sehingga permasalahan ini dapat diatasi bersama,” imbuh dia.

Sementara itu, Psikiater Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, Ida Rochmawati mengatakan, terkait bunuh diri ini harus disosialisasikan resiko bunuh diri yang penyebabnya gangguan jiwa. Ida menyebut, untuk antisipasi sebenarnya bisa dilakukan deteksi dini untuk pencegahannya.

“Terpenting lihat, dengar, hubungkan. Melihat perilaku seseorang yang berubah drastis atau mencurigakan, dengarkan, dan hubungkan ke pelayanan medis jika diperlukan,” kata Ida.

Ida menegaskan, untuk dapat melakukan upaya pencegahan dibutuhkan sinergitas antar masyarakat dan pemerintah atau dinas terkait. Selain, hal penting lainnya yang harus mendapat perhatian ialah merubah pemikiran negatif menjadi persepsi yang positif.

“Kita ambil contoh tentang mitos pulung gantung. Dengan adanya pulung gantung seolah-olah ada yang melindungi harga diri, ada penghiburan. Namun tidak hanya berhenti di situ saja, orang juga harus belajar tentang kejadian itu,” pungkas Ida.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler