fbpx
Connect with us

Budaya

Menelisik Bangunan Rumah Tradisional Tertua di Gunungkidul

Published

on

Saptosari,(pidjar.com)–Berbicara mengenai rumah tradisional di tanah Jawa, Kabupaten Gunungkidul bisa dibilang gudangnya. Terutama rumah berbentuk joglo yang dari tahun ke tahun tak pernah tergilas peradaban. Bentuknya yang didominasi dengan kayu termasuk penyangga atau akrab disebut soko atau slop tiang penyangga menjadikan rumah joglo kian moncer dari tahun ke tahun.

Di Kabupaten Gunungkidul sendiri, salah satu rumah joglo tertua yang telah mendapat penghargaan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2011 lalu adalah rumah Mujono warga Padukuhan Gebang (16/04), Kalurahan Ngloro Saptosari.

Saat dikunjungi pidjar.com, putri Mujono, Nur Isti (29) mengatakan, rumahnya yang kini ia singgahi berukuran 29×12 meter persegi. Rumah yang diwariskan dari leluhurnya tersebut merupakan gabungan dari lima rumah dengan bentuk dan fungsi berbeda.

“Paling belakang bentuknya limasan, yang tengah juga limasan dan bagian depan joglo. Sisi kiri ada dua rumah berbentuk kampung yang masing-masing berfungsi untuk dapur dan tempat makan,” kata Nur, Sabtu (24/10/2020).

Rumah yang berdiri di atas tanah berukuran 1.191 meter persegi tersebut menghadap ke selatan. Dua kampung dapur dan ruang makan tersebut dikatakan Nur belum lama dibangun.

Berita Lainnya  Pejuang Seni dan Budaya Gunungkidul Terima Penghargaan Dari Pemerintah

“Kalau cerita bapak, rumah paling belakang bentuknya limasan warisan dari Mbah Canggah sekitar tahun 1930,” ujarnya.

Jika ditelisik, Mbah Canggah atau Mbah Buyut Nur, bernama Karyo Seiko mendirikan rumah limasan tahun 1930. Baru kemudian diberikan kepada eyang Nur yang bernama Marto Wiyono pada tahun 1952. Masuk tahun 1980, rumah ini diberikan kepada ayah Nur, Supardi Wiyono.

“Rumah ini sudah turun temurun tiga generasi,” kata paparnya.

Dikatakan Nur, rumah limasan paling belakang memiliki tiang penyangga dengan diameter 14 centimeter. Rumah limasan tersebut berukuran 18×12 meter persegi dengan tiang setinggi 3,10 meter dan sekelilingnya berdinding kayu atau sering disebut gebyok.

“Di bagian belakang ini berfungsi tempat tidur ayah saya Mujono. Di dalamnya kamar ada Gladak atau kotak berukuran 1,5 x2,5×1,25 meter yang berfungsi sebagai tempat menyimpan gabah hasil panen,” papar dia.

Sedangkan rumah paling depan berbentuk Joglo Tumpang 5 dan merupakan warisan yang sama dengan rumah paling belakang. Ukuran soko tiangnya adalah 15 cm, luas 12 x 9 meter persegi dan tinggi 3,5 meter.

Berita Lainnya  Lanjutkan Revitalisasi, Bangsal Sewokoprojo Kembali Diguyur Anggaran Ratusan Juta

“Sebetulnya tidak ada ritual khusus untuk merawat rumah ini, kami hanya rajin membersihkannya jadi awet tidak dirapuhkan rayap,” ucap dia.

Keluarga ini, tiap kali hendak memnerdihkan dinding menggunakan ramuan khusus berupa cengkeh dicampur dengan tembakau. Baru kemduain direndam dalam air bersama batang pisang tiga malam.

“Ramuan kemudian diusapkan kedidinding, gasilnya selain awet dan bersih, dinding kayu yang sudah diusap rendaman tersebut menjadi semakin bersinar,” tutup Nur.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler