fbpx
Connect with us

Sosial

Menelisik Masjid Tiban di Ngawen, Masjid Unik Dengan Berbagai Cerita Mistis Yang Berkembang di Masyarakat

Diterbitkan

pada

Ngawen,(pidjar.com)–Kabupaten Gunungkidul memiliki sejumlah aset bersejarah yang tersebar di beberapa wilayah. Salah satu aset bersejarah dan saat ini keberadaanya terus dilestarikan oleh masyarakat adalah keberadaan Masjid Tiban yang ada di Dusun Gambarsari, Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen. Bangunan yang sekilas layaknya gubuk ini merupakan bangunan lawas dan seringkali digunakan oleh masyarakat setempat atau warga luar daerah untuk beribadah. Ada beragam cerita yang berkembang atas keberadaan Masjid ini.

Masjid Tiban ini memang berbeda dengan tampilan masjid pada umumnya. Pasalnya bangunan ini hanya berukuran kecil sekitar 4×4 meter saja. Konstruksinya pun bukan dari batuan atau tembok namun hanya menggunakan kayu-kayu berusia tua. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan atapnya terbuat dari rumput ilalang. Setiap kali ada yang rusak, masyarakat hanya memperbaiki dengan material yang sama.

Kepada pidjar.ciom, Juru kunci Masjid Tiban, Mantos Suwitnyo (75) mengatakan jika keberadaan Masjid Tiban ini sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Menurutnya Masjid itu tiba-tiba ada di Padukuhan Gambarsari. Konon semula Masjid tersebut berada di Pucuk Menthuk atau sebelah barat posisi sekarang dan kemudian terhempas ke padukuhan yang padat penduduk ini.

“Cerita dari orang-orang terdahulu memang (Masjid Tiban) tiba-tiba ada di pekarangan sini. Makanya dikasih nama Masjid Tiban,” ucap Mantos Suwitnyo, Rabu (15/05/2019).

Lebih lanjut ia memaparkan, Masjid Tiban sendiri berada di sebuah pekarangan yang berada di belakang rumah milik warga. Sekitar lokasi tersebut dikelilingi pepohonan. Saat ini, kebersihannya pun cukup terjaga. Baik juru kunci maupun masyarakat yang berada di sekitar seringkali membersihkan pekarangan tersebut agar telihat lebih rapi dan bersih.

Berita Lainnya  Monumen Perjuangan Jenderal Widodo Riwayatmu Kini

“Kalau untuk bangunan sendiri hanya sebatas kayu yang ditempel-tempel saja. Tidak ada yang pakai pondasi semen layaknya bangunan pada umumnya,” imbuh dia.

Masuk ke bangunan masjid ini, terdapat beberapa kaligrafi yang terpasang di dinding ayaman bambu. Di beberapa sisi pun juga nampak anyaman yang sudah mulai dimakan usia. Untuk alas saat sholat di dalam masjid tiban itu juga sama, terbuat dari anyaman bambu dan kemudian dilapisi karpet hijau.

Terdapat sajadah dan perlengkapan sholat seperti sarung dan mukena. Beberapa warga seringkali sholat berjamaah di Masjid ini. Bahkan beberapa orang dari luar yang memiliki keinginan pun juga sering melakukan ibadah di Masjid Tiban. Bahkan beberapa waktu lalu, ada puluhan pelajar yang datang untuk sholat di masjid ini saat mendekati ujuan nasional.

“Tidak setiap hari ramai dikunjungi. Sepi kalau di sini juga suasananya adem, terlebih berada di dataran tinggi. Dari sini bisa melihat beberapa wilayah di seberang dan bawah,” imbuhnya.

“Beberapa hari lalu ada rombongan dari luar DIY yang datang malam hari untuk salat di Masjid Tiban. Sejumlah orang yang mengaku pejabat juga pernah ke sini,” tambah dia.

Kisah unik lainnya terjadi saat seorang warga Ngawen hendak meminjam padasan atau gentong tanah liat di depan Masjid Tiban untuk dibawa ke Gunung Gambar. Yang mana gentong itu rencananya dipergunakan untuk mengambil air wudhu saat beribadah di Gunung Gambar. Namun saat tempat wudhu tersebut telah dibawa, pagi harinya sudah kembali ke pekarangan Masjid Tiban. Padahal tidak ada orang yang mengembalikan tempat wudhu tersebut ke tempat semula.

Berita Lainnya  Tak Perlu Repot-repot ke Perpustakaan, Baca Buku Bisa Lewat Aplikasi e-Pusda

“Ada beragam cerita sebenarnya, ya kami pun hanya mengartikan jika bangunan dan segala perangkat yang ada di masjid ini tidak mau dipindahkan,” ujar dia.

Sementara itu, Widarsih Kepala Seksi Kepurbakalaan dan Permuseuman, Dinas Kebudayaan Gunungkidul, mengatakan jika Masjid Tiban ini memang merupakan potensi dan warisan yang sangat perlu dilestarikan. Dalam waktu dekat ini, pemerintah akan melakukan penelitian atas bangunan ini. Jika nantinya memenuhi unsur, pemerintah akan menjadikan bangunan ini sebagai cagar budaya.

“Kita sudah tahu bangunan itu, kedepan akan kami lakukan pengujian tidak menutup kemungkinan bisa jadi cagar budaya,” ucapnya.

Klik untuk Komentar

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler