fbpx
Connect with us

Sosial

Menelisik Potensi Rezeki dari Rumput Laut di Pantai Selatan

Published

on

Tepus,(pidjar.com)–Meski tinggal di daerah yang dekat dengan kawasan wisata, tidak seluruh warga masyarakat Kalurahan Tepus dapat merasakan manfaatnya. Banyak dari mereka yang masih menggantungkan hidup sebagai petani di musim penghujan, sedangkan saat kemarau tiba mereka beralih menjadi pemetik rumput laut.

Hasil petikan rumput laut itu biasanya dijual oleh warga sekitar ke para pengepul. Kemudian dari para pengepul ini kembali dijual ke pengusaha yang bergerak dalam bidang pengolahan rumput laut.

Beberapa yang sering kali ditemukan di pantai Gunungkidul dan laku dijual adalah jenis Sargassum yang menjadi digunakan campuran cat, jenis Gelidium yang biasa dijadikan racikan obat maupun kosmetik, jenis Ulva yang biasa digoreng menjadi peyek, dan jenis Gracilaria yang bisa diolah menjadi agar-agar.

Tak banyak memang pengepul rumput laut di Gunungkidul hanya ada beberapa saja. Seperi yang dilakukan oleh Samilah warga Padukuhan Jeruk, Kalurahan Tepus, Kapanewon Tepus tetap berjuang untuk mempertahankan bisnis sebagai pengepul rumput laut selama ini.

Kepada pidjar.com ia mengatakan, usahanya tersebut mulanya milik mertua dia. Namun kemudian beralih ke keluarga kecil Samilah. Menjadi pengepul rumput laut telah ditekuni sejak tahun 1983. Tentu yang namanya usaha ada beragam kendala yang dihadapi mulai dari pemasaran hingga permodalan.

“Modal dan pemasaran menjadi kendala yang sering kali saya hadapi,” kata Samilah, Minggu (13/12/2020).

Kekurangan modal adalah hal yang paling sering ia alami. Dalam sehari ia dapat mengeluarkan uang paling sedikit Rp. 5 juta bahkan bisa sampai Rp. 20 juta saat musim panen, mengingat warga yang menjual rumput laut ke dirinya cukup banyak.

Disisi lain, beberapa jenis rumput laut tergolong tinggi. Sehingga modal yang dikeluarkan untuk membeli dari petani juga besar hingga puluhan juta. Samilah memaparkan harga rumput laut jenis gracilaria ia beli dari petani seharga 5 ribu sampai dengan 7 ribu rupiah. Sargasum dan Glidium sekitar 20 ribu, san jenis Ulfa seharga 3 ribu rupiah.

Terkadang harga tersebut bisa berubah tergantung dengan pasaran dan permintaan. Bisa justru melambung tinggi ataupun anjlok diharga paling rendah.

Pemasaran juga menjadi salah satu permasalahan yang kompleks. Meski ia telah memiliki pelanggan namun yang namanya bisnis ada saja kendala yang dihadapi. Sebagai contohnya, pabrik-pabrik yang menjadi pelanggannya terkadang menunda pengambilan bahan di penampungan Samilah. Mereka beralasan bahwa gudang pabrik mereka sedang overload.

“Paling cepat pabrik itu ngambil dua bulan sekali. Pernah sampai puluhan ton rumput laut numpuk di sini, ngendap 6 bulan. Tapi ya gimana, saya tetap harus beli dari pemetik tapi pabrik tidak ambil-ambil. Kalau ada yang tanya kenapa masih mau nampung ya saya jawab ‘nanti juga laku’ gitu,” ujar Samilah.

Menurut dia, meski sering ada kendala namun usaha yang ia geluti selama bertahun-tahun ini sebenarnya menjanjikan baik untuk dirinya maupun warga sekitar. Sehingga apapun yang dihadapi ia tetap berusaha menampung hasil petikan dari warga tersebut.

Seperti yang diajarkan oleh orang tuanya bahwa menjadi manusia harus dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Selain menjadi pengepul rumput laut, Samilah juga memberdayakan beberapa lansia yang ada di sekitar rumahnya untuk ikut membantu membuat agar-agar kertas dari rumput laut gracilaria.

“Saya juga ada produksi rumahan (agar-agar) bareng lansia di sekitar rumah. Hasil produksi kami ini biasanya dipasarkan ke pelaku wisata dan toko oleh-oleh yang ada di Jogja,” sambungnya.

“Setidaknya saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Mereka dapat penghasilan dari memetik rumput laut atau ikut produksi itu. Setiap hari dapur mereka harus tetep ngepul. Apalagi pas musim kemarau disini susah dapet air bersih. Jadi harus beli air tangki yang harganya mahal. Saya bantu sebisa saya” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler