fbpx
Connect with us

Sosial

Empat Kalurahan Dibidik Kementan Kembangkan Jagung Rendah Aflatoxin

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Menjadi salah satu sentra jagung di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi peluang tersendiri bagi Gunungkidul untuk lebih maju dan menarik investor masuk. Khususnya dalam bidang pengolahan jagung untuk menjadi bahan baku pangan dan pakan ternak. Baru-baru ini, pemerintah pusat (Kementan), pihak swasta dan kelompok tani di Kapanewon Semanu melakukan kerjasama untuk memproduksi jagung rendah aflatoxin.

Dengan adanya kerjasama produksi jagung rendah aflatoxin diharapkan dapat meningkatkan harga jual jagung di daerah yang melakukan kerjasama dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, produksi jagung yang melimpah setiap tahunnya menjadikan pemerintah pusat dan pihak swasta melirik Gunungkidul untuk bekerjasama. Sebagai contohnya, setiap tahun produksi jagung terus surplus. Dari hasil panen hanya sekitar 1,6 kg per tahun jagung yang konsumsi masyarakat. Kemudian sisanya dijual ke pengepul.

“Setiap tahun jagung kita surplus. Tahun 2020 ini saja produksinya 275.000 ton pipil kering, luar biasa,” kata Raharjo Yuwono, Sabtu (12/12/2020).

Lebih lanjut ia menjelaskan, Aflatoxin adalah racun yang dihasilkan oleh jamur tertentu pasca panen. Jamur ini ada karena kadar air yang tinggi, perlu adanya pengolahan tertentu untuk menjadikan jagung rendah aflatoxin.

“Jagung rendah aflatoxin biasanya digunakan untuk bahan pakan ternak. Untuk menekan impor jagung kama pemerintah dan pihak swasta memiliki gagasan untuk mendorong petani agar dapat memproduksi jagung sebanyak mungkin dan nantinya akan diolah oleh pihak swasta,” imbuh dia.

Sementara itu, Kasi Pengolahan Hasil Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Sustiwi mengatakan 4 Kalurahan di Kapanewon Semanu akan menjalin kerjasama dengan PT. Sumber Kamulyan Nusantara dalam pengolahan atau pengeringan jagung agar menjadi komoditi yang rendah aflatoxin. Empat kalurahan tersebut meliputi Candirejo, Dadapayu, Semanu, dan Pacarejo.

Ia menerangkan, jagung hasil pertanian akan dibeli ileh perysahaan kemudian akan dilakukan pemanasan dan proses lain.

“Pemanasan dimaksudkan agar jagung menjadi kering dan rendah aflatoxin,” ucap dia.

Selanjutnya jagung-jagung kering itu akan dilakukan pemrosesan lain sesuai dengan kegunaan pati jagung tersebut. Di daerah lain digunakan sebagai pangan yang berbahan pati jagung atau juga ada yang digunakan sebagai  bahan pakan ternak (sapi) susu perah.

“Ada kerjasama tapi kemungkinan baru mulai di musim tanam kedua. Unit pengelolaannya akan dibuat di Semanu,”sambung dia.

Menurutnya kebutuhan jagung rendah jamur tersebut cukup banyak, berdasarkan survei Gunungkidul cocok lantaran menjadi salah satu sentra penghasil jagung. Berkaitan dengan kerjasama pengembangan jagung rendah aflatoxin tersebut, Pemerintah Daerah mendukung adanya kerjasama ini tetapi dengan syarat  saling menguntungkan ini.

Pasalnya, semua hal diperhatikan mulai dari kualitas, harga yang bagus dan akan membuka peluang pasar jagung. Nantinya diharapkan permintaan jagung semakin meningkat dan kesejahteraan petani juga lebih baik kembali.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler