fbpx
Connect with us

Sosial

Menelusuri PDP Warga Wonosari Yang Meninggal Dunia, Tetangga Sebut Karena Gagal Ginjal

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Keresahan warga Gunungkidul terkait dengan penyebaran covid19 atau virus corona memuncak pada Rabu (25/03/2020) kemarin. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul merilis perihal adanya penetapan satu warga Kecamatan Ponjong yang terkonfirmasi positif Covid19. Tak hanya itu, ada pula satu warga Kecamatan Wonosari yang masuk dalam kategori Pasien Dalam Pantauan (PDP) yang dinyatakan meninggal dunia. pidjar.com berusaha untuk menelusuri riwayat pasien PDP yang meninggal dunia di Kecamatan Wonosari dan riwayat pasien terkonfirmasi positif Covid19.

Data pasien PDP di Kecamatan Wonosari yang meninggal dunia sendiri sempat tersebat luas melalui beraneka macam media sosial atau bahkan pesan beranti di platfom Whatsapp. Bahkan secara gamblang, data pasien baik nama, usia, alamat, serta gejala penyakit yang dialami ada dalam pesan berantai tersebut. Disebutkan, pasien PDP berinisial S (66) warga Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari. Dalam pesan itu pula sempat diungkapkan bahwa pasien ini pernah dikunjungi saudara dari Jakarta, Banten dan Lampung.

S dikabarkan mulai sakit 17 Maret 2020. Adapun gejala yang merujuk pada Covid19 dialami pasien seperti batuk, pilek, nyeri, badan panas, sakit tenggorokan, diare, sesak nafas dan lemas. Warga Wonosari itu sempat dirawat di Rumah Sakit dan dinyatakan meninggal pada Selasa (24/03/2020) lalu.

Viralnya data S di berbagai platform media sosial ini dalam perkembangannya menuai sejumlah kontroversi di kalangan masyarakat. Sejumlah postingan bantahan sendiri mulai beredar di jagat dunia yang membantah S meninggal dunia akibat virus corona.

Wartawan pidjar.com berusaha melakukan konfirmasi ke sejumlah warga di Padukuhan Tawarsari. Warga sendiri membenarkan jika ada tetangganya meninggal dunia. Warga juga mengakui jika kabar yang beredar di luar padukuhan menyebutkan jika tetangga mereka terpapar Covid19.

Berita Lainnya  Kades Jagoan Dilantik, Dua Pemuda Laksanakan Nadzar Jalan Kaki 17 Jam Dari Yogyakarta ke Hargosari

Kendati demikian, sebagai tetangga mereka pun membantah jika S meninggal lantaran Covid19. Sebab, S diketahui memiliki riwayat menderita gagal ginjal dan juga asam lambung akut. Hal ini yang memaksa S sering kali keluar masuk rumah sakit.

Salah seorang tetangga S, Menik membantah jika S meninggal dunia karena terpapar Covid19. Sebab, dari pihak keluarga sendiri menceritakan bahwa S menderita gagal ginjal dan asam lambung akut.

“Benar S adalah tetangga saya yang meninggal dunia, tapi bukan karena corona, beliau ada sakit ginjal dan asam lambung,” jelas dia.

S yang didapati meninggal Selasa sore, malam harinya langsung dikebumikan oleh keluarga. Tak ada upacara pemakaman yang dihadiri oleh tetangga kanan kiri. Warga pun mematuhi anjuran pemerintah umtuk menghindari kerumunan massa.

Dikatakan Menik, beberapa saat setelah sampai di rumah duka, S kemudian langsung diberangkatkan ke lokasi pemakaman. Karena masuk dalam PDP, prosedur pemakaman juga mengikuti prosedur yang ditetapkan pemerintah. Wargapun mematuhinya karena takut disalahkan nantinya

“Jenazah dibungkus plastik karena masuk kategori PDP,” imbuh Menik.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kepala Desa Wonosari, Tumija menegaskan bahwa penyebab salah seorang warganya yang meninggal dunia itu bukan lantaran corona, melainkan karena penyakit yang telah lama dideritanya.

“Bisa ditanyakan Satgas Covid, S hanya dicurigai saja sebab tanpa dites, terus pasien itu mau cuci darah, belum sempat tapi sudah meninggal dunia,” jelas dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty membenarkan perihal adanya satu orang PDP warga Desa Wonosari yang dinyatakan meninggal dunia. Meski dipastikan berstatus pasien dalam pengawasan, namun belum diketahui secara pasti penyebab kematian yang bersangkutan, apakah terkait covid 19 atau faktor lain.

“Kami belum bisa matur banyak atas PDP yang meninggal dunia itu. Karena kaki belum mengambil swabnya di RSPR,” ucap Dewi.

Data terbaru dari dinas kesehatan per tanggal 25 Maret 2020, di Gunungkidul ada 293 orang dalam pantauan (ODP)yang tersebar di seluruh kecamatan, ada 2 diantaranya yang tengah menjalani perawatan di rumah sakit. Selanjutnya untuk PDP ada 8 orang dengan rincian 4 orang dirawat, 3 sudah diambil spesm dan 3 masih dalam proses.

Berita Lainnya  Gula Terus Langka, Dinas Berharap Pasokan Bisa Segera Kembali Normal

Di sisi lain, warga Padukuhan Surubendo, Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong juga tak kalah resah. Hal ini mengacu pada rilis Pemkab Gunungkidul yang mana salah satu warga Surubendo sempat diperbolehkan pulang tersebut ternyata terkonfirmasi positif Covid19.

Kepala Desa Bedoyo, Suminto memaparkan, pada tanggal 14 dan 15 Maret 2020 silam, warganya ada yang menggelar pesta perkawinan. Pasien terkonfirmasi positif Covid19 tersebut terpantau sempat datang ke hajatan itu.

Pada tanggal 16 Maret, warganya itu telah dinyatakan PDP. Ia sempat dirawat, namun kemudian sempat dipulangkan sambil menanti hasil tes laboratorium.

“Sejak dinyatakan PDP, warga saya itu sudah melakukan isolasi mandiri, baru kemarin sore diketahui positif,” beber Suminto.

Ia mengakui, warganya sempat khawatir. Hal ini karena sempat berinteraksi dengan pasien terkonfirmasi tersebut. Namun pihaknya pun berupaya meredam.kekhawatiran warga.

“Ya namanya orang di desa, maklum kalau ada kehawatiran. Tapi sudah diberi edukasi,” jelas Suminto.

Pihaknya pun juga melakukan penyemprotan disinfektan untuk memastikan wilayahnya steril. Hari ini, Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi pun berkunjung ke Desa Bedoyo.

Menurutnya, keluarga dari pasien terkonfirmasi tersebut saat ini tengah menjalani isolasi mandiri. Keluarga juga menjalani skrining lantaran berinteraksi langsung.

“Kami belum ada data apakah warga kami ada yang ODP atau PDP,” tandas dia.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler