Pendidikan
Menengok Bangunan Sekolah Rakyat Pribumi di Masa Penjajahan Belanda
Gedangsari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Sekilas melihat bangunan di SD Negeri Pengguk I, Kalurahan Tegalrejo, Kapanewon Gedangsari memang biasa saja. Seperti pada sekolah dasar pada umumnya terdapat enam kelas berjejer. Namun demikian ternyata, sekolah ini merupakan bangunan yang sudah dibangun sejak masa Belanda berkuasa.
Di pojokan sekolah terdapat ruangan berukiran 12 x 9 meter. Namun sayangnya, ruangan yang terbuat dari kerangka baja ini tak terawat.
Tokoh Masyarakat Padukuhan Prengguk, Ngatijo mengatakan, pada masa itu ada seorang pria yang datang ke Tegalrejo mengaku Ndoro Panji. Dia juga mengaku merupakan utusan dari Kraton Ngayogyakarya Hadiningrat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.
Kala itu Ndoro Panji mendatangi lokasi SD Prengguk, dimana lokasi ini merupakan markas dari Belanda. Kemudian digunakan untuk Sekolah Rakyat bagi masyarakat pribumi. Satu bangunan di paling belakang ini memang tidak pernah dirobohkan.
“Kerangkanya memang dari baja, seperti itu tidak pernah dipugar,” kata Ngatijo, Selasa (17/11/2020).
“Awal tonggak Tegalrejo ini berdiri, yakni keinginan dari Ndoro Panji dimana tegalan atau sawah yang rejo atau makmur,” ujar dia.

Sekilas memang tidak begitu spesial, selain karena bentuknya yang tidak terawat. Di dalamya bisa dikatakan memprihatinkan. Sangat minim perawatan, bahkan debu dan juga sarang laba-laba terlihat jelas.
Penjaga malam SDN Prengguk 1, Sagiran mengungkapkan, sejak puluhan tahun lalu, ruangan ini memang tak pernah digunakan. Bisa dikatakan lokasi ini sebagai gudang sekolah.
“Padahal ini bangku juga asli dari peninggalan Belanda tapi memang dari dulu tidak ada anggaran untuk perawatan,” ucap Sagiran.
Ia mengatakan, selama ia bekerja di lokasi ini, ruanga tersebut baru diperbaiki satu kali. Secara spesifik Sagiran mengatakan, perbaikan sendiri ada pada genting dan lantai yang dirubah menjadi lantai keramik.
“Seinget saya sejak tahun 80an saya kerja disini ya baru sekali diperbaiki,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, Bahron Rasyid mengatakan, saat ini baru ada satu sekolah yang merupakan bangunan cagar budaya. Namun demikian pihaknya bersama Kundha Kabudayan masih menginventaris sekolah yang layak dijadikan bangunan cagar budaya.
“Karena ada beberapa kategori sehingga memang harus diinventaris,” pungkas Bahron.
-
Uncategorized2 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized2 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya2 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized5 hari yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Sosial2 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized2 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized2 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized3 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Pemerintahan4 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized3 hari yang laluDiduga Bermuatan Solar Ilegal, Truk Tangki Berkapasitas Ribuan Liter Diamankan Polisi
-
Uncategorized2 hari yang laluManajer KDKMP Sudah Ditempatkan di Gunungkidul, Beberapa Kalurahan Belum Punya Gerai
