Pemerintahan
Mengenal Mesin Tanam Benih Karya Jayadi Ngunut, Cuma Butuh 3 Jam Untuk Luas Lahan 1000 Meter
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Sebuah alat mesin tanam benih langsung yang kini dikenal atabela tengah diujicoba di sejumlah wilayah. Dengan alat tersebut dapat mempermudah para petani dalam menyebar benih untuk tipe tanam jajar legowo (Tajarwo) di lahan kering atau bukan persawahan.
Kabid Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, alat tersebut pertama kali dibuat oleh Jayadi seorang petugas pengamat hama dan penyakit tanaman merupakan warga asli Gunungkidul yang bertempat tinggal di Ngunut Kidul, Desa Ngunut, Kecamatan Playen. Selain sebagai abdi masyarakat, selepas jam kerja sehari hari Jayadi juga suka berkarya dalam bidang modifikasi alat tepat guna pertanian.
Sudah ada beberapa jenis alat yang diproduksi di bengkel kerjanya antara lain threser dan penggiling tepung pesanan para peternak maupun petani ia buat. Di tahun 2019 dirinya berjumpa dengan Ir.Mahargono, MSc yang merupakan Tim Alsin dari Balitbangtan BPTP Yogyakarta.
“Mereka kemudian bekerjasama dalam memodifikasi atabela yang disesuaikan dengan kondisi lahan kering di Gunungkidul,” ujar Raharjo, Minggu (01/12/2019).
Alat ini dikhususkan untuk tanam jajar legowo di lahan kering. Tajarwo biasa dilaksanakan di sawah basah sedang di lahan kering agak susah sehingga dengan alat ini diharapkan lebih mudah dan efisien. Menurut Raharjo alat ini telah dicobakan di wilayah Semanu Selatan untuk kegiatan Largo Super dan perkiraan lebih efisien tenaga kerja( HOK) sekitar 60%.

“Pada musim tanam 2019/2020 alat atabela dipergunakan di Trengono, Desa Sidorejo, Kecamatan Ponjong dalam kegiatan pengembangan replikasi Largo Super Padi Gogo,” kata dia.
Alat dan mesin Pertanian dimaksudkan untuk meringkas aktifitas petani di Gunungkidul. Sehingga proses pertanian berjalan lebih efisien dan hemat biaya.
“Dengan alat ini dapat memudahkan, memperlancar, mempercepat, dan menghemat tenaga kerja dalam kegiatan bertani,” imbuhnya.
Atabela, lanjut Raharjo, juga bisa mempercepat waktu tanam Padi Gogo dibandingkan sistem ponjo. Untuk sistem ponjo atau tunggal memerlukan tenaga kerja 2 orang selama 2 hari dengan estimasi perkiraan waktu mulai jam 7 pagi sampai jam 4 sore untuk menanam padi seluas 1.000m2.
“Jika menggunakan atabela, petani hanya memerlukan waktu tanam 3 jam saja yang dilakukan oleh 2 tenaga kerja untuk luasan lahan 1.000 meter persegi, ” pungkas dia.
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized4 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized4 minggu yang laluDua SPPG di Gunungkidul Belum Kantongi SLHS
-
Uncategorized2 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized2 hari yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized2 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized2 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
