Connect with us

Sosial

Kementrian PPPA: Satu Dari Tiga Perempuan Pernah Mengalami Kekerasan

Diterbitkan

pada

Playen,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih terus terjadi. Bahkan fenomena tersebut dnilai seperti gunung es, di mana sebenarnya ada cukup banyak kejadian yang mungkin belum terekspose. Hal itu terjadi lantaran masih sedikitnya korban kekerasan yang berani melaporkannya kepada pihak berwajib.

Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof. dr. Vennetia R Danes mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih banyak terjadi di Indonesia, terutama di wilayah Jawa. Saat ini dari data yang ada hampir 1 dari tiga perempuan pernah mengalami kekerasan.

“Angka kekerasan masih sangat tinggi. Makanya kita harus melakukan gerakan serius untuk menurunkan angka itu,” beber Vennetia saat mengikuti acara sosialasisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di GOR Siyono bersama ratusan perempuan dari seluruh kecamatan di Gunungkidul, pada Sabtu (30/11/2019) silam.

Ia menjelaskan, pemerintah, dalam hal ini KemenPPPA, memiliki strategi dalam hal kesetaraan gender terkait dengan pekerja perempuan, yang diberi nama “Three End”. Adapun three end itu ialah end violence against womam and children (akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak), end human trafficing (akhiri perdagangan manusia) dan end barriers to economic justice (akhiri kesenjangan ekonomi).

Berita Lainnya  Pemerintah Resmi Tak Berangkatkan Haji 2021, Ariyanto Pasrah 2 Kali Gagal ke Tanah Suci

“Langkah ini harus didukung oleh seluruh elemen yang ada. Kalau dari Kementrian PPPA saat ini sedang kita gencarkan sosialisasi,” kata dia.

Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof. dr. Vennetia R Danes

Dalam sosialisasi tersebut, pihaknya mendorong perempuan korban kekerasan untuk lebih berani melaporkan kepada pihak berwajib ketika mengalami kekerasan. Sebab selama ini banyak kasus yang ditutupi lantaran mereka ketakutan dan banyak pertimbangan lainnya.

“Fenomena ini seperti gunung es. Terlihatnya sedikit, tetapi di dalamnya banyak yang bobrok. Harus berani melapor jangan hanya diam. Lebih baik berani,” tandasnya.

Ditambahkannya, para korban sendiri kebanyakan berada di lingkungan keluarga. Sehingga jumlah terbanyak yang terpantau pihaknya ialah kasus KDRT.

Berita Lainnya  Ratusan Kasus Dalam 6 Bulan, Korban Demam Berdarah Meningkat Lebih Dari Dua Kali Lipat Tahun Ini

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPMD) Gunungkidul, Sudjoko menambahkan, angka kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya di Gunungkidul memang masih ada. Sampai dengan Oktober 2019 ini pihaknya mendapat laporan puluhan kasus terjadi menimpa perempuan dan anak.

“Sampai Oktober ada 25 kasus yang sudah kita tangani. Angka ini harus kita tekan terus,” tegas Sudjoko.

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka pencegahan kekerasan terhadap perempuan adalah dengan membentuk kelembagaan Forum Perlindungan Korban Kekerasan (FPKK). Selain itu, pihaknya memberikan pelayanan terhadap korban kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak melalui Pusat Pelayanan Terpadu Perhndungan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Berita Lainnya  Gelar Aksi di Titik 0, Bawaslu Gunungkidul Ajak Perempuan Awasi Pemilu

“Saat ini sudah ada 5 orang yang bertugas di pusat layanan kami itu. Kita juga membentuk Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PPTPPO),” imbuh Sudjoko.

Untuk itu pihaknya akan terus mengandeng banyak pihak untuk terlibat dalam penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sebab sosialisasi dianggap berhasil dengan bukti penurunan kasus dalam dua tahun terakhir.

“Tahun lalu kekerasan terhadap perempuan dan anak sampai 30 kasus tahun ini turun 5 kasus menjadi 25,” pungkas dia.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata7 hari yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata1 minggu yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis3 minggu yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Pariwisata3 minggu yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Berita Terpopuler