fbpx
Connect with us

Sosial

Mengenal Sosok Obed, Presiden BEM UGM Yang Jadi Bintang di Mata Najwa dan Hasratnya Pulang Kampung Membangun Gunungkidul

Published

on

Yogyakarta,(pidjar.com)–Nama Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada, Obed Krisna Widyapratistha mendadak tenar. Penampilannya dalam acara Mata Najwa membahas insiden kartu kuning yang dilayangkan oleh Ketua BEM Universitas Indonesia Zaadit Taqwa bersama dengan ketua-ketua BEM sejumlah perguruan tinggi tenar di Indonesia mendapatkan pujian dari banyak pihak. Di usianya yang masih muda, Obed dinilai telah matang dalam berdemokrasi. Ia bahkan dinobatkan sebagai man of the match dalam diskusi panas tersebut.

Saat tampil di acara yang sangat bergengsi itu, Obed yang dimintai tanggapannya oleh Najwa Shihab dengan tenang menjawab bahwa pemerintah patut mendapatkan apresiasi dalam penanganan gizi buruk yang terjadi di Asmat, Papua. Namun ia juga tidak menyalahkan apa yang dilakukan oleh Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa yang memberikan kartu kuning kepada Presiden Jokowi sebagai bentuk kritik kepada pemerintah. Obed berpendapat bahwa kritik pemerintah bukan berarti kalangan itu anti pemerintah, dan sebaliknya, masyarakat yang mendukung pemerintah tak selamanya pro pemerintah.

Siapa sangka jika nama Obed yang tengah dielu-elukan masyarakat Indonesia ini merupakan putra kelahiran Gunungkidul. Obed lahir dan besar di Padukuhan Legundi, Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang pada 24 Mei 1996 silam. Hanya tinggal di Panggang hingga umur 4 tahun, Obed bersama keluarganya lantas hijrah ke Kota Yogyakarta hingga saat ini.

Namun meski lama tinggal di Kota Jogja, hubungan antara Obed dengan Gunungkidul tak sirna. Justru alumnus SMP N 14 Yogyakarta dan SMA N 2 Yogyakarta ini memiliki impian untuk kembali ke tanah kelahiran membantu memajukan Gunungkidul menjadi Kabupaten yang lebih baik.

Ditemui wartawan pidjar.com di kampusnya, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM di Bulaksumur, Obed mengaku telah memiliki impian sejak duduk di bangku SMP untuk ikut andil dalam pembangunan Gunungkidul. Berbekal dari minatnya di bidang politik sejak lama, membuat Obed akhirnya memfokuskan diri belajar mengenai ilmu politik sebagai pintu masuk untuk menceburkan diri ke dalam pembangunan Gunungkidul nantinya.

"Kalau sudah lulus, impianku nggak jauh-jauh. Aku ingin balik ke Gunungkidul, mengembangkan daerah Gunungkidul dan membantu warganya, terlepas dari apakah nanti menjadi pemimpin daerah atau sebagai bagian lainnya," kata mahasiswa angkatan 2014 Jurusan Departemen Politik dan Pemerintahan UGM ini, Selasa (13/02/2018) pagi.

Berbicara mengenai tanah kelahirannya, selama ini yang menjadi perhatian Obed yakni terkait pengembangan daerah apakah akan dibangun dengan konsep kearifan lokal yang melibatkan warga secara utuh atau justru membuka jalan masuk bagi investor. Mengingat selama ini banyak investor yang masuk menawarkan pembelian tanah dengan harga tinggi kepada warga. Sehingga tak sedikit tanah di Gunungkidul, utamanya di wilayah pesisir, dikuasai investor dan bukan warga Gunungkidul sendiri.

"Jika nanti pembangunannya malah membuka jalan kepada investor asing, pada akhirnya keuntungannya tidak langsung dirasakan oleh warga asli Gunungkidul," jelas dia.

Hal semacam ini, menurut Obed perlu dikawal oleh pemuda Gunungkidul, sebab jika mengandalkan pemerintah dinilai cukup sulit dilakukan secara cepat. Misalnya dengan membuat gerakan warga berdaya untuk menciptakan destinasi wisata yang bisa dikelola sendiri hingga tidak direbut oleh investor asing. Selain itu juga turut mengawal kebijakan yang telah dibuat oleh Bupati Badingah.

"Juga penting untuk melakukan literasi ke warga karena mereka seringkali menjual tanahnya ke investor asing. Oke, nanti mereka dapat hasil dari penjualan tanahnya, tapi tidak mendapat keuntungan jangka panjang karena akan habis dalam waktu sebentar," papar Obed.

Potensi wisata disebut Obed harus dikembangkan oleh warganya sendiri. Tidak hanya dalam pengelolaan wisata saja, tapi juga dalam hal penginapan. Pembangunan home stay yang kekeluargaan dinilai lebih baik dibanding pembangunan villa atau hotel yang nantinya bisa menghambat perkembangan bagi warga Gunungkidul.

Ia akui, pemuda Gunungkidul menurutnya sudah menunjukan kehebatan masing-masing. Mereka hanya tinggal mengembangkan apa yang sudah dikerjakan baik yang dilakukan sendiri maupun pemuda lainnya yang sudah melakukan pergerakan.

"Banyak pemuda Gunungkidul yang sudah bergerak di jalan yang benar. Aktif dalam hal sosial dan pembangunan. Tinggal dilanjutkan dan dikembangkan saja," ucap dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler