fbpx
Connect with us

Budaya

Menyimak Parade Joglo Tua di Ngloro, Sedikit Diantara Yang Masih Bertahan di Tengah Godaan Harga Tinggi Dari Para Kolektor

Published

on

Saptosari,(pidjar.com)–Keberadaan rumah Jawa jenis Joglo di Gunungkidul saat ini semakin sulit ditemukan di Gunungkidul. Hal itu lantaran perkembangan jaman yang semakin modern, sehingga mendorong masyarakat membangun rumah dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu juga, banyak pula rumah-rumah joglo yang dibeli oleh warga luar daerah dan akhirnya diboyong pergi dari Gunungkidul. Namun demikian, masih ada beberapa rumah Joglo yang dilestarikan oleh masyarakat dan mendapat perhatian dari pemerintah.

Seperti halnya di Desa Ngloro, Kecematan Saptosari, masih terdapat sekitar 40% rumah Joglo yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat. Bahkan, terdapat 6 unit rumah Joglo yang mendapat penghargaan dari pemerintah serta mendapat dana stimulan dari Dana Keistimewaan. Seperti halnya milik Supardi Wiyono (68) warga Padukuhan Gebang, Desa Ngloro, Kecamatan Saptosari.

Rumah Joglo berukuran 27×18 meter ini, mendapat pengakuan dari pemerintah dengan diberikan predikat sebagai cagar budaya. Hal tersebut dikarenakan, segala macam unsur yang ada pada rumah itu dianggap bahan kuno. Misalnya saja, kayu-kayu jati yang digunakan merupakan kayu dengan usia lebih dari ratusan tahun lamanya. Selain itu, bentuk dari rumah juga tidak pernah berubah dan menjaga keaslian yang ada.

Ketika ditemui pidjar.com, Supardi mengatakan, predikat cagar budaya itu didapatkan pada tahun 2008 silam. Dengan berbagai proses pengecekan yang dilakukan oleh petugas, akhirnya dirinya mendapat piagam dari Gubernur DIY. Segala macam kerusakan dan upaya pelestarian mendapat dana stimulan dari pemerintah. Dana yang diterima kala itu mencapai 5 juta.

“Ada beberapa kali pengecekan dan penelitian. Dari puluhan rumah yang ada, yang pertama kali yang lolos merupakan rumah saya ini,” ujar Supardi Wiyono, Jumat (21/09/2018) kemarin.

Diceritakan Supardi, rumah yang ia huni berdua dengan istrinya tersebut merupakan warisan turun temurun dari orang tuanya dan neneknya. Di mana sekitar tahun 1970 silam rumah Joglo itu dipindahkan dari tempat semula yang jaraknya tidaklah begitu jauh. Kemudian hingga sekarang ini, rumah tersebut masih terus dilestarikan olehnya. Terdapat 2 bangunan rumah Joglo di rumahnya itu. Satu bangunan rumah limasan dan 1 lagi jenis kampung.

“Semua masih asli, kalau menurut saya semakin lama justru kontruksinya semakin kuat. Asal tidak terkena air hujan saja aman tidak akan rapuh atau rusak,” ucap dia.

Untuk merawatnya pun cukup mudah, hanya sesekali dibersihkan dari sawang atau kotoran-kotoran lainnya. Di rumah itu, secara keseluruhan masih asli dan kuno, turunan dari neneknya terdahulu. Bahkan lantainya pun juga tidak pernah diganti, hanya dari bebatuan yang ada. Meski demikian, beberapa bagian rumah ini sudah ada yang rusak. Dari Supardi sendiri telah berupaya melaporkan ke Dinas Kebudayaan. Namun hingga sekarang belum ada tindak lanjut.

“Ada yang rusak, kayu diatasan dan pintu. Tahun 2017 lalu saya sudah ajukan dana renovasi, sekitar 18 jutaan karena memang bahannya langka tapi belum ada tindak lanjut. Kalau saya ya agak keberatan memang untuk membiayai sendiri,” imbuh dia.

Bagian dalam rumah joglo tua milik Supardi yang masih nampak asri (Foto by Arista Putri)

Satu rumah Joglo miliknya pernah ditawar oleh seseorang dengan harga 230 juta. Namun tawaran menggiurkan tersebut tak membuatnya bergeming. Ia tetap bersikeras tak akan menjual peninggalan dari nenek moyangnya tersebut

Pasalnya, rumah itu merupakan warisan, dan ia telah sepakat jika akan melestarikan cagar budaya bersama dengan pemerintah. Menurutnya, di beberapa daerah rumah seperti ini telah habis diperjualbelikan.

“Tetap tidak akan pernah saya jual,” tegas dia.

Terpisah, Kepala Desa Ngloro Heri Yuliyanto mengatakan, di wilayah yang berada di bawah kepemimpinannya itu, beberapa waktu lalu terdapat 6 yang mendapat predikat cagar budaya. Di mana rumah joglo yang ditetapkan sebagai cagar budaya itu tersebar di Padukuhan Gebang, Pringsurat, Karangnongko dan beberapa lainnya. Hal itu disambut baik oleh pemerintah desa, pasalnya dengan demikian tingkat jual beli rumah Joglo dapat ditekan.

“Ini merupakan potensi yang dimiliki, sebagian besar warga sini sudah sadar untuk melestarikannya. Kami sangat mendukung tentunya, ada puluhan yang dinilai, namun baru 6 yang lolos,” ucap dia.

Diketahui, 2 rumah Joglo lainnya yang mendapat predikat cagar budaya merupakan milik Mujono yang tak lain adalah anak dari Supardi Wiyono. Dan satu lainnya merupakan sepupu Supardi. Keluarga besar Supardi memang memiliki banyak rumah Joglo yang masih terus dilestarikan. Walaupun telah ada sedikit renovasi, namun demikian tidak mengurangi nilai keindahan dan keaslian dari bangunan.

“Kami dari pemerintah desa akan berusaha sekuat mungkin untuk ikut serta melestarikan. Karena ini merupakan peninggalan budaya,” tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler