Budaya
Digelar di Bulan Suro, Rasulan Padukuhan Bedalo Tetap Berlangsung Meriah
Saptosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Di bulan-bulan seperti ini, masyarakat di sebagian daerah memiliki kepercayaan tersendiri. Di mana dalam penggalan jawa bulan Suro, identik dengan sejumlah pantangan. Misalnya saja menggelar hajatan pribadi atau hajatan masyarakat umum seperti rasulan.
Namun hal itu nampaknya tidak berlaku untuk warga masyarakat Bedalo, Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari. Masyarakat setempat masih tetap menggelar adat yakni rasulan dengan meriah. Segala macam pertunjukan disuguhkan untuk menghibur warga.
Seakan haus hiburan, acara pada Rabu (26/09/2018) siang kemarin dipadati oleh warga baik dari Padukuhan Bedalo, hingga Desa Krambilsawit. Sejak siang hingga malam hari, masyarakat menikmati pagelaran budaya serta hiburan yang ada.
Perangkat Desa Krambilsawit, Agus Iswanjono mengungkapkan, peringatan rasulan pada bulan Suro sendiri baru pertama kali ini digelar. Tanggal yang dipilih disesuaikan dengan perhitungan Jawa. Adapun kegiatan yang telah digelar dalam menyambut rasul padukuhan Bedalo yakni genduri selayaknya tradisi terdahulu, pentas hiburan dengan menampilkan 3 biduan muda dengan paras yang menawan, pagelaran wayang kulit, serta di bidang olahraga yakni pertandingan bola voli dari desa Kanigoro dengan desa Krambilsawit.
“Tidak ada pantangan apa-apa, meskipun di bulan Suro tetap jalan,” kata Agus kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com.
Agus menambahkan, meski memang agak tidak lazim, akan tetapi perayaan rasulan dengan berbagai pertimbangan tetap dilaksanakan. Selain memberikan hiburan bagi warga setempat yang diakui kurang mendapatkan hiburan lantaran sibuk mengurus lahan pertanian dan pekerjaan lain menjadi seorang nelayan, kegiatan rasulan ini juga untuk mendongkrak perekonomian para pedagang. Pasalnya tak sedikit pula mereka yang meraup pundi-pundi keuangan dari adanya acara ini.
“Soal budaya dan hiburan masyarakat sini animonya masih luar biasa. Perkembangan jaman dan tradisi masih berjalan selaras, segala macam kultur yang masuk sebenarnya tetap diterima namun tetap ada penyaringan dari masyarakat sendiri,” imbuh dia.
Sebagaimana diketahui, padukuhan ini berada di ujung sebelah barat Kecamatan Saptosari. Berada di daerah pesisir tentunya daerah ini memiliki obyek wisata pantai yang tak kalah dengan pantai-bantai besar di wilayah timur. Dengan adanya kegiatan rasulan yang menyuguhkan berbagai potensi itu, diharapkan mampu menarik pengunjung pantai Ngedan yang berada di Desa Krambilsawit.
“Untuk menuju ke obyek wisata tentu wisatawang harus melewati padukuhan ini. Itukan berarti tidak sedikit pula yang ikut menikmati acara, bahkan ada pula sejumlah pengunjung yang rela berhenti untuk mengabadikan momen rasulan kami,” urainya.

Suasana keramaian saat perayaan rasulan di Padukuhan Bedalo, Desa Krambilsawit
Sementara itu, meski berjubel warga, namun acara berlangsung dengan lancar dan nyaris tanpa kendala. Hal ini membuat Bhabinkamtibmas Desa Krambilsawit, Bripka Wahadi merasa bersyukur.
“Meski di emperan berjubel penonton akan tetapi semua berjalan lancar. Tidak ada kekisruhan yang terjadi sebagaimana pada pentas dangdut lainnya. Kalau masyarakat sini unggah ungguhnya masih dijaga betul,” kata Bhabinkamtibmas Desa Krambilsawit, Bripka Wahadi.
Gotong royong dan rasa kekeluargan yang begitu masih kental di masyarakat Bedalo diklaim Wahadi begitu menginspirasi. Keterbukaan warga terhadap pengunjung juga luar biasa, meski berada di daerah pinggiran, namun semangat untuk maju begitu luar biasa. Jika mungkin masyarakat di daerah pesisir atau perbatasan lain sulit menerima hal-hal baru, namun warga Bedalo justru begitu menikmati.
Pola pikir dan perilaku pun tentunya perlahan mulai mengalami perubahan itu dilakukan demi menjadi masyarakat yang maju, mandiri, memiliki keunggulan tersendiri, dan ikut berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat maupun daerah.
“Bersama-sama kita ingin warga sini bisa maju dan sejahtera. Saya yakin dengan kekompakan semacam ini, harapan warga bukanlah sebuah hal yang tidak mungkin,” tutupnya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
