fbpx
Connect with us

Budaya

Kemarau Panjang, Warga Purwosari Gelar Tradisi “Njaluk Udan”

Diterbitkan

pada

BDG

Purwosari,(pidjar.com)– Kabupaten Gunungkidul memiliki banyak sekali adat, budaya dan tradisi yang masih kental dan dilestarikan oleh masyarakat di masing-masing daerah. Salah satu tradisi yang samapi dengan sekarang masih sering dilakukan oleh warga yakni tradisi “njaluk udan” yang dilakukan oleh warga Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul.

Tradisi “njaluk udan” ini sudah sejak lama ada, dilakukan manakala kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan, warga sulit mendapatkan air bersih dan aktifitas pertanian belum bisa dimulai. Tradisi semacam ini hampir sama dengan tradisi pada umumnya, melakukan upacara di Pertapaan Andongsari setiap Jumat Kliwon di bulan September atau Oktober.

Sejak pagi masyarakat setempat ulai sibuk mempersiapkan ubo rampe yang diperlukan untuk melakukan tradisi ini. Siang harinya, warga bersama dengan sejumlah tokoh masyarakat dan sesepuh menuju petapaan Andongsari yang berada di atas bukit membawa beberapa ingkung dan keperluan lainnya.

Berita Lainnya  Ada Gambar Punokawan dan Kain Putih, Juru Kunci Cupu Panjala Sebut Berkaitan Dengan Pemimpin Negeri

Baru kemudian sesepuh di wilayah tersebut atau Rois yang ada kemudian mengajak para warga yang berada di lokasi untuk memanjatkan doa dan ada beberapa teriakan warga “hujan” sebagai pertanda permintaan hujan kepada Allah SWT.

Usai doa bersama dan genduri ini, warga kemudian menyantap 8 ingkung yang telah dibawa termasuk meminum air kelapa yang telah tersedia. Besar harapan para warga ini setelah dilakukan upacara adat hujan akan segera turun di wilayah mereka.

“Ini merupakan adat dan tradisi yang sudah ada sejak dulu. Kami anak cucu berusaha meneruskan dan melestarikan,” ucap Margono, Ketua Panitia upacara adat tradisi tersebut.

“Harapan kami hujan bisa segera turun sehingga masyarakat kami tidak kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan bisa memulai aktifitas pertanian,” jelasnya.

Berita Lainnya  Tabrak Pohon di Jalan Sepi, Pemuda Ditemukan Tewas Penuh Luka

Kondisi di wilayah tersebut, sejak Juni lalu warga setempat sudah kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sumber-sumber air pun juga mulai mengering puncaknya terjadi pada Agustus September Oktober ini, warga tampungan air banyak yang kering dan lahan pertanian mulai mengering juga.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka harus membeli ke tangki swasta Rp 150.000 sampai Rp 200.000 yang bisa digunakan sekitar dua minggu. Selain itu, warga juga sering mendapatkan bantuan pihak-pihak tertentu.

“Yang benar-benar sulit air itu mulai Agustus kemarin sehingga kami harus membeli,” jelas salah seorang warga, Kusno.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler