Budaya
Kemarau Panjang, Warga Purwosari Gelar Tradisi “Njaluk Udan”
Purwosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)– Kabupaten Gunungkidul memiliki banyak sekali adat, budaya dan tradisi yang masih kental dan dilestarikan oleh masyarakat di masing-masing daerah. Salah satu tradisi yang samapi dengan sekarang masih sering dilakukan oleh warga yakni tradisi “njaluk udan” yang dilakukan oleh warga Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul.
Tradisi “njaluk udan” ini sudah sejak lama ada, dilakukan manakala kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan, warga sulit mendapatkan air bersih dan aktifitas pertanian belum bisa dimulai. Tradisi semacam ini hampir sama dengan tradisi pada umumnya, melakukan upacara di Pertapaan Andongsari setiap Jumat Kliwon di bulan September atau Oktober.
Sejak pagi masyarakat setempat ulai sibuk mempersiapkan ubo rampe yang diperlukan untuk melakukan tradisi ini. Siang harinya, warga bersama dengan sejumlah tokoh masyarakat dan sesepuh menuju petapaan Andongsari yang berada di atas bukit membawa beberapa ingkung dan keperluan lainnya.
Baru kemudian sesepuh di wilayah tersebut atau Rois yang ada kemudian mengajak para warga yang berada di lokasi untuk memanjatkan doa dan ada beberapa teriakan warga “hujan” sebagai pertanda permintaan hujan kepada Allah SWT.
Usai doa bersama dan genduri ini, warga kemudian menyantap 8 ingkung yang telah dibawa termasuk meminum air kelapa yang telah tersedia. Besar harapan para warga ini setelah dilakukan upacara adat hujan akan segera turun di wilayah mereka.

“Ini merupakan adat dan tradisi yang sudah ada sejak dulu. Kami anak cucu berusaha meneruskan dan melestarikan,” ucap Margono, Ketua Panitia upacara adat tradisi tersebut.
“Harapan kami hujan bisa segera turun sehingga masyarakat kami tidak kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan bisa memulai aktifitas pertanian,” jelasnya.
Kondisi di wilayah tersebut, sejak Juni lalu warga setempat sudah kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sumber-sumber air pun juga mulai mengering puncaknya terjadi pada Agustus September Oktober ini, warga tampungan air banyak yang kering dan lahan pertanian mulai mengering juga.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka harus membeli ke tangki swasta Rp 150.000 sampai Rp 200.000 yang bisa digunakan sekitar dua minggu. Selain itu, warga juga sering mendapatkan bantuan pihak-pihak tertentu.
“Yang benar-benar sulit air itu mulai Agustus kemarin sehingga kami harus membeli,” jelas salah seorang warga, Kusno.
-
Info Ringan4 minggu yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan3 minggu yang laluResep Soto Tangkar
-
Kriminal1 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa5 hari yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial4 hari yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Peristiwa3 minggu yang laluLaka Maut Dinihari, Pemotor Tewas Dihantam Pick Up
-
Pemerintahan23 jam yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized2 minggu yang laluHeboh Bola Api Berekor Panjang Melintas di Langit Gunungkidul, Warga Kaitkan dengan Pulung Gantung Jelang Bulan Suro
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPrihatinnya Kalangan Dewan, Pelaku Bunuh Diri Mulai Merambah Remaja Hingga Anak
-
Peristiwa3 minggu yang laluPeriode Maut Jalanan Gunungkidul, Ratusan Kecelakaan Puluhan Korban Meninggal Dunia
-
Uncategorized3 minggu yang laluKecelakaan Beruntun di Baleharjo Gunungkidul, Pengendara Vixion Meninggal Dunia
