Sosial
Merananya Kakek Ngadiyono, Hidup Dalam Kegelapan dan Kemiskinan di Hari Tuanya
Panggang,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Ngadiyono namanya. Kakek berusia lebih dari 70 tahun warga Pijenan, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang ini sejak puluhan tahun lalu hidup dalam kegelapan. Bukan karena aliran listrik yang tidak menyalur di rumahnya, melainkan kondisi matanya yang mengalami kebutaan sehingga tidak dapat melihat sama sekali. Hanya gelap yang dapat ia rasakan setiap harinya.
Pria yang telah berambut putih dan berjalan membungkuk ini, sejak berpuluh-puluh tahun lalu memang sudah divonis dokter tidak dapat melihat. Segala aktifitasnya ia lakukan bedasarkan kebiasaan terdahulu. Sulit memang, namun karena kegigihannya ia masih dapat beraktifitas layaknya orang yang dapat melihat.
Namun dengan keterbatasan tersebut, aktifitas Ngadiyono tentunya sangat terbatas. Ia juga tak bisa mencari nafkah sehingga selain kebutaan, ia juga harus mengalami kesulitan ekonomi yang terus menderanya. Alhasil Ngadiyono tak pernah bisa mendapatkan pengobatan yang layak untuk penyakitnya sehingga kondisinya pun semakin memburuk. Keluarga yang juga mengalami keterbatasan ekonomi akhirnya hanya bisa pasrah dengan kondisi tersebut.
"Sudah dari sejak saja menginjak sekolah dasar, kondisi penglihatan bapak bermasalah. Awalnya mendapat pengobatan, tapi karena keterbatasan biaya jadi berhenti pengobatannya dulu," ujar Wasidi (49) anak bungsu Ngadiyono, Selasa (28/08/2018).
Lansia yang akrab dipanggil Diyono ini hidup bersama putra bungsunya selepas istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Kondisi putranya itu pun juga tidak jauh berbeda dengan Diyono, serba pas-pasan karena himpitan ekonomi dan sulitnya mendapat pekerjaan yang layak. Keseharian kakek yang kulitnya telah mengeriput itu dihabiskan di dalam rumah dan sesekali keluar untuk menghirup udara segar.
Selain mengidap penyakit mata yang tidak dapat melihat selama puluhan tahun itu, Diyono juga memiliki penyakit sesak nafas yang seringkali mengganggunya. Diajak berkomunikasi pun begitu susah karena pendengaran dan ingatannya yang sudah mulai berkurang. Faktor usialah yang mempengaruhi kondisi ini. Jangankan tetangganya, putranya pun seringkali kesusahan untuk mengajak berkomunikasi.
Untuk tidur, kakek satu ini hanya beralaskan tikar tipis diatas tempat tidur (dipan) yang sudah begitu reot. Tidak ada perabot atau peralatan yang memadai di dalam rumahnya. Semua serba kekurangan dan sudah tidak layak pakai lagi. Bahkan untuk menutupi tubuhnya yang kurus jika hawa dingin hanya menggunakan selembar kain yang sudah begitu lusuh.
Hidup di zaman yang serba modern dan kucuran bantuan dari pemerintah yang melimpah nampaknya belum begitu dirasakan oleh Diyono sekeluarga. Bagaimana tidak, dengan permasalahan ekonomi dan belum lagi ditambah dengan kondisi fisik yang semakin tua serta sakit-sakitan itu, ia hanya tinggal disebuah rumah dengan tembok batu bata. Namun meski tembok telah berdiri cukup kokoh, untuk atap dan lantai masih belum bisa dikatakan layak.
Lantai masih dalam kondisi tanah, sedangkan atapnya meski dari genteng namun sudah banyak yang pecah dan melorot. Beberapa daun jendela pun juga tidak terpasang kaca. Hanya selembar anyaman bambu atau selembar kain yang menutupi. Di dalam rumah sendiri tidak ada sekat untuk memilah ruangan yang layak. Hanya dengan anyaman bambu yang dimakan rayap disekat sebagai kamar sekaligus dapur bagi Diyono. Sementara di bagian barat digunakan untuk Wasidi beristirahat.
"Listrik sini masih nyantol dengan tetangga. Sebulannya 30-40 ribu," tambah dia.
Gubuk Diyono sendiri tak mempunyai kamar mandi yang memadai dan layak. Hingga kini, ia masih menggunakan WC cemplung yang sangat tidak sehat. Penutup kamar mandi hanya merupakan sebilah ayaman bambu, papan serta kain.
"Rumah ini dibangun dulu ada bantuan PKAK kalau tidak salah, sudah beberapa tahun jaman saya masih sekolah. Tapi untuk sekarang sudah tidak ada program bantuan lain," imbuhnya.
Sehari-harinya, Wasidi sendiri hanya bekerja sebagai tukang pijat panggilan. Per bulan ia hanya mendapatkan penghasilan berkisar di angka Rp750.000. Jumlah yang tentunya sangat tidak mencukupi untuk bisa membahagiakan orang tua di hari tuanya. Dengan penghasilan minim tersebut, ia juga masih harus menyekolahkan anaknya yang tentunya memakan biaya yang tidak sedikit.
“Sebenarnya saya sangat ingin membahagiakan bapak, tapi mau bagaimana lagi keadaan saya juga seperti ini,” ucap dia sembari tertegun.
-
Uncategorized6 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized1 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya5 hari yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized5 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial1 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized6 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized6 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
event4 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized2 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized4 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
