fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Minggu Depan, BPBD Rencanakan Stop Dropping Air

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari,(pidjar.com)–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Gunungkidul akan segera menghentikan program droping air dalam waktu dekat ini. Sebab, dari informasi yang diperoleh pihaknya, minggu depan wilayah Gunungkidul sudah akan memasuki musim penghujan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengungkapkan, untuk saat ini dropping memang masih dilakukan. Dalam sehari setidaknya ada 16 mobil tangki BPBD Gunungkidul yang melakukan droping air. Namun demikian menurut Edi, hal itu diperkirakan hanya akan terjadi dalam minggu ini.

“Kita coba sampai minggu ini, sambil cek lokasi ada permintaan lagi tidak. Semoga minggu depan sudah mulai merata hujannya, sambil assessment teman-teman di lapangan,” kata Edy, Kamis (22/11/2018).

Ia mengatakan, penghentian dropping air ini dilakukan atas dasar pertimbangan jika nantinya sudah memasuki musim penghujan, bak-bak penampungan milik warga akan segara terisi air dan dapat digunakan. Selain itu, sumur yang airnya berkurang akan segera terisi lagi.

Ia menjelaskan, dalam rangka memenuhi dropping air, beberapa waktu terakhir ini BPBD Gunungkidul menggunakan dana tidak terduga. Hal ini lantaran anggaran kekeringan yang sebelumnya dianggarkan telah habis. Dana tersebut sudah digunakan sejak awal November, untuk keperluan membeli BBM serta service dan keperluan suku cadang. Meski begitu Edy belum bisa mengungkapkan berapa dana tidak terduga yang telah terpakai untuk melaksanakan dropping air selama 3 pekan tersebut.

Berita Lainnya  Jelang Akhir Masa Jabatan, Bupati Badingah Minta Seluruh ASN Tingkatkan Integritas

“Pasnya berapa yang sudah dikeluarkan kami belum rekap atau cek lagi, karena mekanismenyakan kami ambil barang dulu baru bayar. Permohonan dari SPBU dan toko atau bengkel belum direkap,” katanya.

Untuk bantuan dropping dari pihak swasta sendiri, Edy mengatakan bisa berkoordinasi dengan pihak BPBD Gunungkidul, agar dapat diarahkan ke mana desa atau daerah yang sangat membutuhkan. Saat ini sendiri dikatakan Edy yang masih meminta bantuan dropping di Kecamatan Ngawen, Nglipar, Semin.

“Untuk yang lain mungkin sudah terisi PAH,” ujarnya.

Sementara itu, anggota DPRD Provinsi DIY, Slamet Spd mengungkapkan bahwa masalah kekeringan merupakan hal yang harus ditanggapi secara serius. Menurutnya, sudah terlalu lama rakyat Gunungkidul berkutat dengan permasalahan semacam ini. Pemerintah harus segera mengambil kebijakan agar ke depan, musim kemarau bukan lagi menjadi sebuah masalah pelik bagi masyarakat.

Caleg DPRD DIY Partai Golkar Dapil 7 Gunungkidul bernomor urut 3 ini menambahkan, dropping air sebenarnya bukan sebagai suatu solusi. Jika hanya mengandalkan hal tersebut, maka permasalahan semacam ini akan terus berulang. Dalam hal ini, pemerintah daerah harus segera melakukan perencanaan pemberantasan kekeringan di Gunungkidul. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memetakan sumber air yang bisa diangkat untuk kebutuhan air bersih.

Berita Lainnya  Dinkes Gunungkidul Siapkan Tenaga Kesehatan untuk Vaksinasi Covid-19

Ia juga mengatakan bahwa ada dua cara yang seharusnya bisa dilakukan oleh pemerintah daerah. Yakni dengan cara membuat waduk dengan cara membendung Kali Oya. Selain itu juga dapat menyuling air laut menjadi air tawar.

“Nanti jika dua cara itu bisa dilakukan kemudian airnya bisa dialirkan ke penampungan atau danau buatan. Kemudian disalurkan ke pipa-pipa yang sekarang sudah terpasang,” kata Slamet.

Namun demikian, tidak dipungkiri pula bahwa proyek tersebut akan menelan anggaran yang tidak sedikit. Sehingga, menurutnya pemerintah harus menggunakan skema pembiayaan multiyears.

“Jika kajian dah matang pemda bisa mencari sponsor pendanaan melalui skema hibah maupun pinjaman,” kata dia.

Selama ini, Slamet memang sangat concern dalam ikut serta mengatasi permasalahan kekeringan di Gunungkidul. Sejumlah program ia gagas baik yang melibatkan pemerintah maupun pribadi. Yang terbaru, ia menggelar kegiatan penggalangan dana dari masyarakat untuk melakukan dropping air bersih. Dalam program tersebut, masyarakat umum hanya perlu menyumbang sebesar 100 ribu per tangki air. Sementara untuk masyarakat yang membutuhkan air bagi dirinya sendiri, hanya perlu membayar Rp 50.000 per tangki. Sisa dana yang diperlukan kemudian ia tambahkan dari kantong pribadinya.

Berita Lainnya  Diduga Epilepsi Mendadak Kambuh, Kakek Renta Ditemukan Tewas di Kolam

Dalam prakteknya, gerakan sedekah air yang digagas Slamet ini mendapatkan sambutan baik dari masyarakat. Hanya dalam waktu singkat, puluhan tangki air berhasil didistribusikan ke sejumlah wilayah. Ia memaparkan bahwa selama program tersebut digelar, sudah sekitar 50 titik yang mendapatkan bantuan air.

“Saya ingin turut membantu masyarakat Gunungkidul yang kekurangan air. Air adalah kebutuhan utama bagi manusia yang harus mendapatkan perhatian penuh,” tutupnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler