fbpx
Connect with us

bisnis

Miniatur Kapal Pesiar Buatan Ponjong Bernilai Belasan Juta

Published

on

Ponjong,(pidjar.com)–Banyak produk kerajinan karya warga Gunungkidul telah menembus pasar nasional. Salah satunya adalah miniatur kapal pesiar buatan Pradana Famila Sholikhin warga Padukuhan Tanggulangin, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong. Sejak empat tahun terakhir ini, ia mengaku banyak mendapat permintaan dalam negeri.

Kepada pidjar.com, Pradana mengaku bahwa sudah sejak 2016 lalu dirinya membuat miniatur kapal pesiar dengan menggunakan bahan baku bambu. Kreatifitasnya itu muncul usai dirinya ia melihat bambu di sekitar rumahnya sangat banyak. Ia juga juga melihat miniatur kapal yang terbuat dari bahan fiber. Kemudian dirinya berusaha mengkombinasikan antara bahan baku yang ada dengan ide di kepalanya.

Layaknya sebuah usaha yang baru ditekuni, beberapa kali ia mengalami kegagalan dalam merakit miniatur kapal. Namun dari itu justru memecut semangatnya untuk belajar dengan mencari bagaimana memanfaatkan bahan baku bambu. Gambar kapal pesiar yang ia inginkan kemudian dipajang sebagai contoh untuk dirinya membuat miniatur kapal pesiar dari bambu.

“Awalnya hanya iseng-iseng saja, beberapa kali buat tapi gagal. Saya cetak gambar yang saya inginkan kemudian saya contoh untuk membuatnya dari media bambu,” kata Pradana, Selasa (24/11/2020).

Sampai dengan sekarang ini sudah lebih dari 10 karya miniatur kapal pesiar ia produksi. Dari jumlah tersebut sudah laku terjual dan diangkut oleh pemilik anyarnya. Menurutnya untuk membuat satu miniatur kapal pesiar membutuhkan ketelitian dan ketelatenan tersendiri sehingga harus sabar dan konsentrasi.

Satu buah miniatur kapal tersebut paling tidak bisa menghabiskan waktu pembuatan sekitar 1 bulan lamanya. Tergantung dengan tingkat kerumitan dan detail dari masing-masing jenis. Lama pembuatan, ukuran miniatur kapal, menjadi bahan pertimbangan dalam membandrol harga pula.

“Kalau seni itu kan harganya tidak terpatok sebenarnya. Tapi ya disesuaikan dengan ukuran serta tingkat kerumitan dalam pembuatannya,” jelas dia.

Pembuatan kerajinan miniatur kapal pesiar ini sekarang menjadi mata pencaharian pria 28 tahun tersebut. Dulunya ia bekerja di beberapa tempat dan sering kali berpindah-indah lantaran berbagai hal, kemudian beralih dalam pembuatan miniatur kapal pesiar.

Adapun jenis-jenis kapal pesiar yang sudah ia buat adalah symphony of the seas, freedom of the seas, oasis of the seas dari Royal Caribbean. Costa Smeralda, Carnival Liberty, Nieuw Statendam, Nieuw Amsterdam, Koningsdam dari Holland America Line.

“Saya bandrol dari harga Rp 2,5 juta sampai ada yang Rp 12 juta. Kalau pembelinya itu dari beragam daerah Kalimantan, Jakarta, luar Jawa lainnya, satu dari Gunungkidul. Mereka mayoritas adalah pelayar, pekerja perhotelan, pekerja kapal dan lainnya,” imbuhnya.

Dulunya untuk memenuhi bahan (bambu) ia mengandalkan bambu yang ada di sekitar rumahnya. Akan tetapi semakin kesini pesanan mulai lumayan meningkat ia kemudian juga mencari bambu dari luar lingkungannya.

“Ya ada kriteria tertentu tidak bisa sembarangan agar kualitasnya terjaga dan bagus. Biasanya saya cari yang setengah tua, jadi nanti saya kira-kira pemotongan bambu itu kapan,” tambahnya.

Ia berharap kedepannya hasil karyanya dapat dikenal dan diakui baik di wilayah sendiri bahkan di Internasional. Pasalnya untuk miniatur kapal pesiar dengan bahan bambu sendiri sangat jarang ditemui di Gunungkidul ataupun DIY.

“Mudah-mudahan dapat berkembang dengan baik sehingga saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi teman-teman yang belum memiliki pekerjaan. Untuk sementara ini masih saya kerjakan sendiri,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler