fbpx
Connect with us

Sosial

Monumen Perjuangan Jenderal Widodo Riwayatmu Kini

Diterbitkan

pada

BDG

Patuk,(pidjar.com)–Momumen Perjuangan Jenderal Widodo di Desa Putat, Patuk, Gunungkidul terlihat rusak parah dan tidak terawat. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama selama 12 tahun sejak gempa mengguncang Yogyakarta pada 2006 lalu.

Pantauan pidjar.com, Rabu (16/01/2018) siang tadi, monumen yang terletak di pinggir jalan Desa Putat, Jalan Wonosari-Jogja ini nampak tak terurus. Cat pada bangunan monumen sangat kusam, mengelupas, serta dipenuhi lumut. Monumen yang terdiri dari patung dan bangunan lainnya pun bahkan hampir tak terlihat lagi karena tertutup oleh rumput-rumput liar yang semakin meninggi.

Tidak hanya itu saja, akibat gempa yang terjadi, beberapa patung yang awalnya dibangun berbentuk tentara pun patah di bagian badan hingga terpisah menjadi dua. Dari tiga patung tentara yang ada, hanya satu patung yang masih tegap berdiri namun hilang di bagian tangannya.

Berita Lainnya  Wacana Pemda DIY Buat Perda Covid19 Yang Berisi Sanksi Pidana Ringan Untuk Pelanggar Protokol Kesehatan

Jika dicermati, monumen ini terdiri dari tiga buah tentara yang berdiri tegap menghadap tiga arah mata angin. Masing-masing patung membawa senjata berbeda, yakni bambu runcing, senjata otomatis, dan pistol. Tepat di belakang mereka, ada semacam gunungan wayang yang berdampingan dengan relief-relief pahlawan. Tentu saja, relief tersebut kini sudah tak terlihat lagi karena usang tak terawat.

Salah satu tokoh di Desa Putat, Bambang Wahyu mengatakan, monumen tersebut dibangun untuk mengenang jasa Jenderal Widodo yang merupakan salah satu toko pejuang. Pada masanya, ia begerilya di bagian tenggara Kota Yogyakarta, yaitu di daerah SWK 105 wilayah Gunungkidul di bawah pimpinan Mayor Soedjono.

Monumen tersebut dibangun sendiri oleh masyarakat dengan yayasan ’45. Namun sayang, sejak gempa mengguncang Yogyakarta 12 tahun silam, monumen ini rusak. Hingga saat ini kondisi museum terbengkalai tanpa pernah ada renovasi sekali pun.

Berita Lainnya  Terapkan e-Voting, Pemilihan Ketua OSIS di SMP N 1 Tepus Berlangsung Cepat dan Hemat

“Padahal Monumen itu erat kaitannya dengan SDN Bunder II yang ada di seberang jalan tak jauh dari lokasi sekitar 75 meter. SD tersebut adalah hadiah Jenderal Widodo tahun 1970-an,” ujarnya saat dihubungi wartawan.

Bambang merasa, kepedulian pemerintah baik tingkat desa maupun kabupaten nihil dalam hal ini. Pemerintah tak pernah menjalin kerja sama sekalipun dalam pembangunannya. Bambang menilai, rasa kepedulian terhadap sejarah sudah hilang seolah tak pernah tahu adanya monumen yang begitu bersejarah bagi masyarakat Gunungkidul.

“Nggak ada kerja sama apapun dengan pemerintah baik untuk perawatan ataupun pembangunan. Pemerintah belagak pilon (red:pura-pura nggak tahu),” ungkapnya.

Ketika disinggung mengenai harapannya terhadap nasib monumen ke depan, ia mengaku tak ada lagi harapan. Hal ini lantaran mengingat monumen tersebut sudah dibiarkan terbengkalai belasan tahun lamanya tanpa ada perhatian pemerintah.

Berita Lainnya  Sejumlah Tanki Milik BPBD Alami Kerusakan, Droping Air Tersendat

 “Nggak ada harapan. Alasannya sederhana. Pemerintah nggak peduli sejarah. DPRD juga begitu,” tandasnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler