Pemerintahan
Musim Kemarau, Warga Gunungkidul Tetap Diminta Waspada Leptospirosis
Wonosari,(pidjar.com)–Masyarakat Gunungkidul tetap diminta mewaspadai penyakit leptospirosis selama musim kemarau ini. Pasalnya, penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira tersebut tidak hanya berpotensi menyebar saat musim penghujan, tetapi juga dapat menular melalui aktivitas masyarakat yang bersentuhan dengan tanah, air maupun lingkungan yang terkontaminasi urine hewan pembawa, terutama tikus.
Programmer Penyakit Menular Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Eko Mujiarto mengatakan, berdasarkan data Dinkes Gunungkidul, sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat 32 kasus leptospirosis. Kasus tertinggi terjadi pada Maret dengan 16 kasus, kemudian Februari sebanyak 9 kasus dan Mei 5 kasus. Sementara Januari terdapat 2 kasus.
Kemudian April, Juni, Juli, Agustus hingga September tidak ditemukan kasus baru. Dari jumlah kasus, kematian akibat penyakit ini sebanyak 7 orang. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan lantaran sumber penularan leptospirosis masih dapat ditemukan di lingkungan masyarakat.
Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira yang dapat menular ketika seseorang melakukan kontak dengan air, tanah atau lingkungan yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa, terutama tikus. Karena itu, risiko paparan tidak serta-merta hilang ketika musim hujan berakhir.
“Leptospirosis memang lebih banyak diwaspadai saat musim penghujan, tetapi pada musim kemarau juga tetap ada potensi paparan,” jelas Eko.
Menurutnya, aktivitas masyarakat selama musim kemarau justru dapat membuka peluang terjadinya kontak dengan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi. Aktivitas pertanian di Gunungkidul memang relatif berkurang, tetapi sebagian masyarakat mencari pakan ternak hingga ke luar daerah. Ada pula warga yang bekerja di sektor pertanian di luar Gunungkidul.
Selain itu, aktivitas sebagai pemungut barang bekas atau rosok juga perlu menjadi perhatian. Kegiatan tersebut memungkinkan seseorang bersentuhan langsung dengan tanah, air, benda maupun lingkungan yang tidak diketahui tingkat kebersihannya dan berpotensi terkontaminasi urine tikus.
“Penularannya kan bisa dari mana saja yang terkontaminasi urine tikus yang mengandung bakteri leptospira ini. Apalagi kalau warga ini memiliki luka terbuka maka penularannya sangat cepat,” tandasnya.
Masyarakat diminta mengenali sejumlah gejala leptospirosis, di antaranya demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot terutama pada betis dan punggung, mata kemerahan, mual serta muntah. Pada kondisi berat, penyakit ini dapat menyebabkan kulit dan mata menguning, gangguan ginjal, pendarahan hingga gangguan fungsi hati.
“Kalau mengalami gejala-gejala ini maka segerakan untuk periksa agar dapat tertangani. Semakin cepat penanganan medis maka tingkat kesembuhannya tinggi,” jelasnya.
Eko mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama dengan mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di luar rumah atau berada di lingkungan yang berpotensi terkontaminasi.
Luka terbuka juga harus segera dibersihkan dan diobati serta sebisa mungkin tidak terkena air maupun tanah yang berpotensi tercemar. Selain itu, kebersihan lingkungan perlu dijaga dan pengendalian populasi tikus dilakukan di sekitar rumah maupun lokasi aktivitas masyarakat.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized6 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
-
Uncategorized4 minggu yang laluMulai Oktober, Tujuh TPR Wisata Gunungkidul Terapkan Pembayaran Retribusi Cashless
