fbpx
Connect with us

Budaya

Ngalap Berkah dan Kirab Pusaka di Pengkol Saat Malam 1 Suronan

Published

on

Nglipar,(pidjar.com)–Tradisi malam 1 Suro atau 1 Muharam masih banyak diselenggarakan oleh masyarakat Gunungkidul sebagai bentuk pelestarian tradisi dan budaya. Seperti halnya yang dilakukan oleh warga Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar. Pada Senin (09/08/2021) malam tadi, masyarakat setempat menggelar kirab pusaka. Namun lantaran masih dalam kondisi pandemi, kirab pusaka sendiri dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Adapun kegiatan semacam ini telah diselenggarakan sejak dulu dan masih dilestarikan hingga sekarang. Malam 1 Suro dijadikan masyarakat sebagai sebuah momen untuk membersihkan pusaka, melakukan doa bersama, dan tirakatan yang wajib dilaksanakan agar terhindar dari hal-hal negatif.

Kirab budaya yang dilakukan dimulai dari Rumah Budaya Kalurahan Pengkol diikuti dengan puluhan orang yang semula berdoa bersama terlebih dahulu. Kemudian empat pusaka yaitu Pusaka Tombak Korowelang, Tombak Kyai Umbul Katon, Pusaka Cemeti Pamuk dan Pusaka Payung Agung diarak menuju pemakaman Ki Ageng Damarjati yang diikuti oleh puluhan warga Pengkol. Di makam ini kemudian dilakukan jamasan pusaka serta kembali dilakukan doa bersama.

Setelah dijamas, pusaka ini dikembalikan ke Rumah Budaya dengan arak-arakan tersebut. Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi kuras gentong Kyai Sobo yang berada di halaman Rumah Budaya Pengkol.

Para abdi dalem dari Kasultanan Kraton Ngayogyakarta mendekati Gentong Kyai Sobo. Ki Joko Narendro memulai prosesi nguras Gentong Kyai Sobo. Usai memanjatkan doa, air dari gayung pertama digunakan untuk membasuh tangan dan muka. Kemudian air dari gayung kedua dipakai membasuh tangan Ki Joko Narendro.

Tak sedikit pula masyarakat yang ikut mengambil air dari gentong tersebut. Tujuannya yaitu untuk ngalap berkah dari air yang berada di dalam gentong. Setelah semua masyarakat kebagian air dari gentong tersebut, sedikit demi sedikit gentong kembali diisi air yang diambil dari tujuh curug dan tujuh tempur sungai yang ada di Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Air dari gentong tersebut tidak ada khasiat apa apa. Tapi memang sejak dulu sudah menjadi sebuah tradisi. Masyarakat sini sendiri memang masih kental dengan budaya dan tradisi,” kata Ngadiman, salah seorang panitia.

Selain warga Pengkol, ternyata kegiatan di Kalurahan Pengkol tersebut juga dihadiri oleh sejumlah warga dari kota Jogja dan sekitarnya. Karena di masa pandemi, maka panitia memutuskan bahwa kegiatan ini hanya bisa dihadiri secara terbatas. Biasanya, kegiatan kirab pusaka di Pengkol ini diikuti oleh banyak warga.

Ketua panitia, Joko Narendro menambahkan, kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan bentuk melestarikan budaya dan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat. Selama ini, kegiatan kirab pusaka rutin dilakukan saat malam 1 Suro.

“Gunungkidul masih sangat kental dengan tradisi dan budayanya. Sebisa mungkin kita melestarikan apa yang dulu dilakukan oleh leluhur kita,” ucap Joko Narendro.

Ia menjelaskan, empat pusaka yang diarak tersebut menunjukkan kekayaan budaya di DIY. Di mana setiap pusaka memiliki dan menggambarkan makna tersendiri.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler