Sosial
Panen Ubi Kayu di Gunungkidul Melimpah Ruah, Pemerintah Waspadai Jatuhnya Harga
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Mendekati bulan Agustus 2019, sejumlah petani di Kabupaten Gunungkidul mulai melakukan panen ubi kayu. Pemerintah kabupaten sendiri menargetkan pada tahun ini, sektor pertanian umbi mampu memanen sekitar 780.000 ton ubi kayu basah. Adanya varietas Darowati yang telah dikembangkan di sejumlah daerah diperkirakan mampu mengenjot hasil panen lantaran ukurannya yang cukup besar. Namun di tengah hasil yang melimpah ini, patut diwaspadai jatuhnya harga ubi kayu di masa panen raya seperti sekarang ini.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Raharjo Yuwono mengatakan, Gunungkidul memiliki 45.816 hektar lahan yang ditanami ubi kayu. Dari jumlah ini, wilayah Kecamatan Saptosari memiliki lahan terluas dengan 5.826 hektar.
“Selanjutnya di Ponjong ada 3.512 hektar, Semanu ada 3.488 hektar dan Panggang ada 3.376 hektar. Yang lain kisaran 2.500 hektar. Kalau paling sedikit di wilayah Ngawen hanya 417 hektar,” terang Raharjo, Rabu (17/07/2019).

Dijelaskannya, untuk panen tahun ini diperkirakan akan lebih bagus dibanding dengan tahun lalu. Pasalnya, pada tahun ini hujan turun tidak terlalu panjang sehingga ubi kayu bisa tumbuh maksimal.

“Hasil tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Ubinan 170 sampai dengan 220 kuintal per hektar, penyebabnya tidak ada pethatan hujan,” ucapnya.
Pada tahun kemarin, pihaknya juga mengembangkan perluasan tanaman ubi kayu varietas Darowati. Varietas tersebut memiliki keistimewaan di mana ukuran umbinya yang cukup besar.
“Di Ngepung, Kemadang, Tanjungsari ada yang tumbuh sangat besar. Varietas itu memang unggulan,” terang dia.
Menurutnya, harga ubi kayu untuk ubi kayu basah di pasaran saat ini sebesar Rp 1.500 per kilogram. Sedangkan untuk harga gaplek di kisaran harga Rp 2.500 sampai dengan Rp 3.000 per kilogramnya.
Terpisah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Johan Eko Sudarto mengatakan, pihak dinas saat ini mewaspadai trend turunnya harga ubi kayu pada masa panen raya ini. Sesuai dengan hukum pasar, semakin banyak pasokan bahan baku di tengah permintaan turun, maka harga ubi kayu akan rendah. Pun demikian sebaliknya. Pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak dalam pengendalian harga ubi kayu di pasaran lantaran hasil pertanian tersebut bukan merupakan 9 bahan pokok.
“Maka pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat sulit untuk mengendalikan pasar,” kata dia.
Ia menghimbau kepada masyarakat untuk kreatif dalam menyikapi turunnya harga ubi kayu tersebut. Ia berharap masyarakat mampu untuk peningkatan nilai tambah.
“Seyogya gaplek jangan hanya dijadikan end products tapi sebagai pasokan bahan baku produk lainnya. Misal jadi tepung mocaf ataupun pathilo dan lain-lain,” pungkasnya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized3 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu7 Hektare Lahan Jati di Bodoyo Terbakar
-
Uncategorized4 minggu yang laluVaksin PMK Gunungkidul Tersisa 22.975 Dosis, Dikejar hingga Ternak Sasaran Terpenuhi
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized4 minggu yang laluABK Asal Riau Meninggal Saat Melaut di Perairan Kawasan Sadeng
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Serentak Gunungkidul, 2 Kalurahan Ajukan Seleksi Tambahan
