fbpx
Connect with us

Sosial

Para Petani Yang Terancam Merugi Akibat Udan Salah Mongso

Published

on

Ngawen,(pidjar.com)–Hujan yang sejak beberapa hari terakhir terjadi di Gunungkidul ini memang cukup mengagetkan. Hal ini lantaran, hujan terjadi manakala telah memasuki musim kemarau. Turunnya hujan sendiri membuat para petani tembakau di Gunungkidul kalang kabut. Pasalnya air hujan membuat lahan pertanian menjadi tergenang yang membuat tanaman tembakau layu atau digerogoti hama.

Seperti yang dialami oleh kelompok tani Ngudi Makmur Dusun Cikal, Kalurahan Watusigar, Kapanewon Ngawen. Menurut pendamping peserta petani Ngudi Makmur, Tri Budianto, para petani saat ini tengah terancam merugi setelah beberapa hari ini lahan pertanian milik mereka diguyur hujan cukup deras. Saat ini proses penanaman musim tanam pertama tembakau kelompoknya telah mencapai 70%. Namun sayangnya, banyak tanaman tembakau yang layu karena diguyur hujan beberapa hari ini.

“Sebelumnya para petani mengira kemarau akan panjang, sehingga nantinya harga jual tembakau akan mahal,” tutur Tri, Selasa (22/06/2021) siang.

Tri melanjutkan, banyaknya tanaman tembakau yang layu ini membuat para petani sangat was-was. Panen yang harusnya bisa menjadi nikmat petani kini berbanding terbalik. Kekhawatiran akan kerugian terngiang-ngiang di benak para petani. Ia beserta kelompoknya hanya berharap, kondisi segera membaik sehingga mereka masih bisa mengambil keuntungan dari apa yang ditanamnya.

Tak hanya itu, turunnya hujan yang di luar perkiraan para petani ini juga mengundang permasalahan lainnya. Pasalnya, tanaman sayur mayur milik petani juga menjadi sangat rentan diserang hama. Kelompok Tani Ngudi Makmur sendiri menggarap lahan seluas 28 Hektar yang tak hanya ditanami tembakau saja. Para petani juga memanfaatkan lahan untuk menanam holtikultura dan buah-buahan.

“Kami perkirakan kerugiannya mencapai 90% pada musim tanam pertama ini, untuk nominalnya kami belum bisa menghitung. Sekarang banyak tembakau mati karena terendam, kemudian tanaman sayur-mayur banyak diserang hama,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi gagal panen, kini kelompoknya mulai mengoptimalkan tanaman holtikultura yang masa panennya tergolong pendek, lahan seluas tiga hektar ia siapkan bersama kelompoknya untuk segera ditanami holtikultura.

“Kalau seperti ini terus tentu akan mengganggu ekonomi saya dan kelompok, jika sudah menanam 5-6 bulan kemudian tidak ada hasil tidak ada pemasukan, namanya pagebluk,” terang Tri.

Hal serupa juga dialami oleh Mulat (27), petani bawang merah warga Padukuhan Plumbungan, Kapanewon Karangmojo. Saat ini Mulat mengalami ancaman yang sama karena hujan tak beraturan ini.

Mulat menceritakan, ia menanam 60 kilogram bibit bawang merah di lahan seluas 800 meter persegi miliknya. Saat ini usia tanamannya masih 34 hari.

“Akibat guyuran hujan belakangan ini, cukup mempengaruhi tanaman saya. Yang pasti ada jamur, ada hama yang nyerang daun, ada yang nyerang batangnya,” keluh Mulat.

Ia menambahkan, sekarang dirinya harus memberikan perhatian lebih terhadap tanamannya karena hama-hama yang menyerang. Jika tidak segera diantisipasi, tanaman akan rusak dan berdampak pada kualitas bawang merah yang dihasilkan.

“Sekarang lebih sering mengontrol tanaman, menyemprot insektisida, ya karena jamur yang mulai muncul,” pungkasnya. (Roni)

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler