fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Pemenang Lelang Hanya Itu-itu Saja, Perparkiran di Gunungkidul Dikuasai Mafia?

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Sektor perparkiran menjadi salah satu sumber pendapatan Pemkab Gunungkidul. Setiap tahunnya, sektor ini yang terbagi dari kawasan umum dan khusus ini menyumbang pendapatan hingga mencapai miliaran rupiah. Pada prakteknya, jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dihasilkan dari sektor perparkiran bergantung pada hasil lelang yang diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Gunungkidul. Namun seiring berjalannya waktu, PAD dari sektor ini dinilai masih kurang maksimal. Kurang terbukanya proses lelang parkir yang diselenggarakan oleh Dishub Gunungkidul disebut sebagai penyebab utama kurang maksimalnya sektor perparkiran Gunungkidul.

Rumor yang beredar di lapangan sendiri cukup beragam. Banyak yang beranggapan dunia parkir dikuasai oleh orang-orang tertentu saja. Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemenang lelang hanya seputaran itu saja (pemenang lama). Belum lagi, lelang juga dianggap terlalu singkat dan seolah tertutup. Pasalnya tak sedikit dari masyarakat umum yang mulanya ingin mengikuti proses lelang namun tidak mengetahui informasi penyelenggaraannya. Informasi yang diberikan Dinas Perhubungan sangat terbatas dan dianggap sangat singkat sehingga dikuasai oleh kalangan tertentu.

Kepala Bidang Penerangan Jalan Umum dan Perparkiran, Dinas Perhubungan Gunungkidul, Ely Siswanta menuturkan, untuk tahun 2020 ini, proses lelang dimulai pada 16 November 2020 lalu. Terhitung mulai 16 sampai 18 November 2020 merupakan hari pendaftaran, kemudian tanggal 19 November 2020 digunakan untuk penyerahan berkas dan tanggal 23 November langsung dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lelang.

“Seminggu prosesnya, ini sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kita terbuka, untuk lelangnya sesuai dengan aturan. Pengumuman pembukaan pendaftaran kita tempelkan di kantor Dishub Gunungkidul, di Disperindag Gunungkidul, dan di web Dinas Perhubungan Gunungkidul, begitu pula dengan hasilnya,” papar Ely Siswanto, Senin (30/11/2020) siang.

Disinggung mengenai penetapan harga (potensi harga) lelang sendiri dilakukan melalui koordinasi oleh Dishub dengan sejumlah organisasi perangkat daerah lainnya. Pihaknya hanya menyodorkan data terkait dengan potensi yang ada kemudian dihitung bersama-sama.

Beberapa penggal jalan di pusat kota dipaparkan Eli menjadi sumber pendapatan utama lantaran harganya yang cukup tinggi. Sejumlah penggal jalan yang memiliki nilai tinggi diantaranya adalah Jalan Sumarwi, Brigjen Katamso, Taman Parkir, Taman Kuliner, dan Agus Salim.

“Setiap tahun meningkat tergantung dengan potensi yang ada. Begitu pula dengan tahun ini, karena sedang dalam kondisi seperti ini tidak ada kenaikan signifikan. Jadi normal lah,” ujar dia.

Tahun ini, hasil lelang tak mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan penawaran awal yang dilayangkan oleh dinas. Hanya taman parkir yang mulanya 120 juta rupiah dan laku terjual 224 juta rupiah. Sementara untuk Taman Kuliner Wonosari yang dipatok pada harga 108 juta rupiah laku sama 108 juta rupiah. Untuk Brigjen Katamso masing-masing penggal 100 juta rupiah. Untuk Jalan Sumarwi yang ditawarkan 80 juta rupiah per penggal jalan, laku sama dengan penawaran yaitu 80 juta. Selanjutnya jalan Agus Salim sampai batas kota dipatok sekitar 80 juta rupiah laku sekitar 99 juta lebih dengan 3 pengelola.

“Kenaikannya tidak signifikan. Untuk pesertanya sendiri sekarang sedikit, hanya satu di setiap titik dan ada yang lebih dari 1 itu hanya di dua titik. Mayoritas pengelola lama karena mungkin pertimbangannya tidak ada orang baru yang tertairk. Jadi kalau hanya satu itu kita mereka ada waktu jawab sepakat atau tidak,” jelasnya.

“Itu upah pungutnya 35 persen dari harga yang ditentukan. Kalau selama ini memang kenaikannya signifikan hanya karena ini pandemi jadi ya tidak tinggi, kemarin kan ada pemangkasan target juga. Terus tahun 2021 menyesuaikan saja,” imbuh Ely didampingi Achid Bustomi, Kepala Seksi Perparkiran.

Disinggung mengenai pemenang lelang yang seakan hanya orang-orang yang sama, Ely mengungkapkan enggan memaparkan lebih lanjut. Ia menjelaskan, sesuai dengan aturan yang berlaku jika hanya satu peserta maka kemudian hanya itu pemenangnya. Namun, jika dalam lelang itu terdapat lebih dari satu tentu diambil mana yang dokumennya lengkap (sesuai aturan) dan nilai tawarnya tinggi sehingga dapat menguntungkan pemerintah.

“Mayoritas memang pemenangnya sama (pemenang lama). Selama saya di sini 3 tahun memang lelang untuk tahun 2018 lalu agak ramai peminatnya,” kata dia.

Hingga saat ini, pidjar.com masih berusaha untuk mencari data berkaitan dengan pemenang lelang parkir di Gunungkidul pada 5 tahun terakhir. Baik data berkaitan pemenang lelang maupun kenaikan PAD Perparkiran Gunungkidul selama kurun waktu tersebut.

“Saya baru 3 tahun di sini dan pak Achid baru 2 tahun,” pungkas dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler