Pemerintahan
Penanganan Zona Merah Anthraks Hingga 10 Tahun dan Wacana Pembelian Hewan Ternak Yang Sakit
Wonosari, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Munculnya kasus antraks di dua Kapanewon beberapa waktu lalu menjadi pekerjaan panjang ke depannya bagi jajaran pemerintah. Adanya zona merah yang ditetapkan sejak beberapa waktu lalu akan berlangsung selama sepuluh tahun ke depan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widyastuti, menyampaikan, secara kasus saat ini sudah tidak terjadi penambahan lagi baik penularan anthraks ke manusia ataupun ke hewan ternak lainnya. Namun demikian, bakteri anthraks yang dapat bertahan selama sepuluh tahun menjadikan penanganannya juga memakan waktu yang lama. Saat ini, pihaknya pun tengah menyelesaikan penyuntikan antibiotik dan vitamin bagi hewan ternak yang berada di zona merah.
“Sekarang baru selesai antibiotik, dan divitamin dulu baru divaksin, karena disitu zona tertular. Antibiotik dan vitamin itu kan obat, jadi biar tahan karena asumsi kita tanah di sana kan sudah ada bakterinya,” ucap Retno, Selasa (08/03/2022).
Ia menambahkan, sekitar 3.500 hewan ternak di zona tertular telah di suntik antibiotik. Rencananya, minggu depan akan dimulai suntik vaksin bagi hewan ternak. Menurut Retno, idealnya vaksin diberikan kepada hewan ternak di seluruh kabupaten. Namun karena keterbatasan sumber daya manusia, maka untuk sementara kemudian difokuskan pada zona tertular.
“Kita melihat kemampuan baik tenaga, waktu, dan dana. Tim kita ada sekitar 89 orang yang dibagi ke dua titik setiap hari jalan door to door, lebih baik lebih sempit tapi covernya maksimal,” imbuhnya.
Pihaknya menargetkan, bulan Maret ini proses vaksin ke hewan ternak dapat selesai dilaksanakan. Dalam pelaksanaan vaksin sendiri setiap hewan ternak akan menerima dua kali suntikan dalam setahun. Proses ini nantinya akan berjalan selama sepuluh tahun.
“Zona itu kan dipetakan, selama sepuluh tahun ke depan akan seperti itu. Kalau nanti muncul lagi maka dihitung lagi sepuluh ke depan,” beber dia.
Terkait dengan wacana program pembelian hewan ternak yang sakit oleh Pemerintah Kabupaten, ia berharap agar segera ada regulasi yang mengatur program tersebut. Ia berharap agar masyarakat lebih sadar terkait isu antraks ini. Terlebih ketika ada hewan ternak yang sakit agar tidak disembelih sendiri.
“Kami himbau ke masyarakat ketika ada ternak sakit laporkan ke kami dan jangan disembelih sendiri,” tutupnya.
-
Uncategorized2 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized6 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya1 hari yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized1 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial3 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized2 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized2 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
event4 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized4 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Sosial3 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
