fbpx
Connect with us

Sosial

Penyembelihan Hewan Kurban Yang Ramah Lingkungan, Begini Himbauan Kemenag

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari, (pidjar.com)–Banyak hal yang perlu diperhatikan saat penyembelihan hewan kurban. Salah satunya dalam pembuangan limbah dari hewan kurban seperti kambing dan sapi. Jika tidak diperhatikan secara seksama, limbah-limbah penyembelihan hewan kurban tersebut justru akan mencemari lingkungan.

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul mengimbau masyarakat untuk tidak membuang limbah sisa pemotongan hewan kurban sembarangan. Limbah hewan kurban seperti darah dan isi perut jika tidak dikelola dengan baik tentu saja akan menimbulkan pencemaran lingkungan.

“Jangan sampai isi perut berceceran karena akan menimbulkan bau dan membahayakan kesehatan. Selain itu darah hewan juga jangan sampai dibuang ke saluran air. Sebaiknya ditampung dengan lubang,” ujar Bagian Pengelolaan data, Seksi Binmas Kantor Kemenag Gunungkidul, Syawal Rusmanto kepada pidjar.com, Kamis (08/08/2019) siang.

Menurutnya, lubang untuk menampung limbah hewan kurban pun harus terletak jauh dari saluran air. Dikhawatirkan keberadaan limbah yang memiliki bau yang cukup menyengat akan mengganggu masyarakat selain mencemari lingkungan.

Berita Lainnya  Ramai Kabar Stok Buku Nikah Menipis di Berbagai Daerah, Gunungkidul Masih Aman

“Itupun dalam pembuatan lubang antara darah dan kotoran seharusnya dipisahkan, jangan sampai jadi satu,” jelasnya.

Di titik penyembelihan, lanjut Syawal, para penyembelih dan masyarakat hendaknya menyiapkan lubang sedalam setengah meter untuk limbah darah. Sehingga begitu hewan disembelih, darah dari leher hewan kurban akan segera masuk pada lubang.

“Sedangkan untuk limbah isi perut dibuatkan lubang minimal sedalam satu meter, karena baunya lebih menyengat dikhawatirkan akan dicabik-cabik hewan liar,” tandas Syawal.

Terpisah, Kepala Seksi Binmas Kantor Kemenag Gunungkidul, Supriyanto menambahkan, satu bulan lalu jajarannya bersama Dinas Peternakan dan Pangan Gunungkidul sudah melakukan sosialisasi kepada seluruh penyuluh KUA di 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Sosialisasi tersebut berupa penjelasan tata cara melakukan penyembelihan hewan kurban.

“Teknik sendiri semakin tahun semakin detail dan menyempurnakan misalnya dalam menjagal sapi kalau masjid di kota mungkin sudah permanen disiapkan tiang pengikat, kalau di desa biasanya kan kondisional nah kalau bisa diikatkan di pohon yang masih hidup dan akarnya kuat,” jelas Supri.

Jika terikat kuat, maka saat sapi mengalami sakarotul maut dan bergerak kencang, tiang ataupun pohon pengikatnya tidak jebol. Sehingga, darahnya pun akan mengalir mengucur ke lubang yang sudah dipersiapkan.

Berita Lainnya  Geopark Gunungkidul Divalidasi Ulang Oleh Tim Unesco

“Istilahnya tidak muncrat kemana-mana karena akan mempengaruhi rasa dari daging sapi itu sendiri, kalau darah mengalir ke bawah rasanya akan lebih enak dan tidak bau,” imbuhnya.

Pihaknya sendiri saat ini belum menerima jumlah secara pasti hewan kurban yang akan disembelih di Kabupaten Gunungkidul. Menurutnya, data pasti mengenai jumlah hewan kurban akan terkumpul hingga hari tasyrik.

“Biasanya takmir masjid mulai melaporkan saat malam menjelang Idul Adha,” tandasnya.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler