fbpx
Connect with us

Sosial

Ditargetkan Rampung Desember 2018, Proyek Pembangunan Jembatan Wonolagi Justru Mangkrak

Diterbitkan

pada tanggal

Playen,(pidjar.com)–Sudah sekitar 2 tahun ini warga Padukuhan Wonolagi, Desa Ngleri, Kecamatan Playen harus direpotkan dengan ketiadaan jembatan. Jembatan Wonolagi yang menjadi penunjang aktifitas mereka hancur akibat banjir Siklon Cempaka yang terjadi pada akhir 2017 silam.

Beberapa waktu lalu, warga Wonolagi sempat memiliki harapan besar untuk kembali memiliki jembatan. Bahkan, dalam perkembangannya, bahkan di wilayah tersebut, sempat akan dibangun 2 jembatan yakni jembatan gantung dan permanen pasca anggaran dari pemerintah pusat berangsur-angsur turun setahun silam. Namun begitu, harapan ini akhirnya bisa dibilang pupus. Satu per satu rencana pembangunan tak kunjung terealisasi. Untuk pembangunan jembatan permanen yang digagas oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada akhirnya batal dilaksanakan oleh pemerintah. Apesnya lagi, proyek pembangunan jembatan gantung yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga diketahui terhenti sejak bulan Desember 2018 lalu.

Kepala Dusun Wonolagi, Tawikan menceritakan, semula masyarakat memiliki jembatan gantung yang dibangun dari dana swadaya masyarakat. Jembatan ini sebagai akses utama masyarakat menghubungkan Padukuhan Wonolagi, Desa Ngleri dengan Padukuhan Nampu, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk. Tetapi, pada 2017 lalu jembatan tersebut hanyut terbawa banjir akibat siklon Cempaka. Beberapa waktu akses masyarakat terputus hingga akhirnya ada bantuan dari kementerian terkait pembangunan jembatan gantung melalui anggota DPR RI.

Angin segar kembali didapat oleh masyarakat, di mana dari BNPB juga memberikan dana sekitar 22 miliar rupiah untuk pembangunan jembatan permanen. Lantaran ada dua proyek pembangunan dalam satu tempat, maka bantuan dari BNPB itu pun akhirnya gagal didapat oleh masyarakat. Jembatan permanen justru urung dibangun lantaran dialihkan ke wilayah lainnya.

“Pas dana BNPB cair itu, sudah ada pembangunan, maka dari itu terpaksa dialihkan dananya tidak jadi untuk bangun jembatan permanen,” terang Tawikan, Kamis (08/08/2019).

Lebih lanjut ia menuturkan, sekitar bulan November 2018 pembangunan jembatan gantung mulai dilakukan dengan dana senilai dari 2,9 miliar. Ditargetkan, pembangunan bisa dirampungkan pada bulan Desember 2018 sehingga di bulan Januari 2019 dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun yang terjadi ternyata di akhir tahun 2018, kontruksi pondasi yang belum selesai itu telah ditinggal oleh para pekerja. Alhasil, proyek jembatan gantung anyar Desa Wonolagi justru mangkrak.

Berita Lainnya  Hidup Penuh Kekhawatiran, Dua Janda Ini Jadi Potret Buram Kemiskinan Yang Dialami Sebagian Warga Gunungkidul

“Ndak tau alasannya apa. Saya kira 50 persen saja belum ada yang digarap. Wong pondasi saja masih sebagian,” kata dia.

Tak kunjung selesainya pembangunan jembatan ini membuat masyarakat Wonolagi dan sekitarnya kecewa. Pasalnya, akses tersebut merupakan akses jalan satu-satunya bagi warga. Ketiadaan jembatan membuat jika hendak bepergian atau mendapatkan layanan kesehatan, sekolah atau bahkan ada kepentingan, saat ini masyarakat harus memutar rute mereka sejauh 12 km. Padahal jika pembangunan jembatan cepat selesai, akses masyarakat sampai pusat Kecamatan Patuk hanya sekitar 10 menit saja.

“Saat ini karena harus memutar, butuh waktu sampai 30 menit. Tentu saja kecewa pasti ada. Seolah dipermainkan, proyek justru terhenti atau mangkrak dari Januari sampai Agustus. Untuk kelanjutannya sendiri saya masih belum paham,” imbuhnya.

Tak banyak yang dapat dilakukan oleh masyarakat selain menerima kekecewaan atas mimpi mereka yang tak terwujud itu. Padahal status jalan yang melintas tersebut adalah jalan kabupaten. Menurut Tawikan hal ini adalah ironi yang perlu dipecahkan. Status jalan kabupaten namun untuk penanganan masih sangat lemah belum lagi tidak memiliki jembatan penghubung sehingga harus mencari jalan lain untuk melakukan aktifitas.

“Kalau mau ke Jogja ya muter lewat Jelok, Desa Beji atau kalau tidak ya lewat Playen, 12 kilometer muternya. Harapan kami cukup besar dengan adanya jembatan yang tersedia, tapi seolah pupus karena proyek tidak berlanjut,” tambah Tawikan.

Menurut Tawikan, dulunya saat peletakan batu pertama pembangunan jembatan gantung sendiri didesain untuk pejalan kaki, sepeda, sepeda motor atau kendaraan roda tiga. Untuk mobil atau kendaraan lain memang tidak bisa melewati jalur ini. Panjang jembatan diproyeksikan sekitar 96 meter dengan lebar sekitar 1,6 meter dengan proses penggarapan rampung pada 88 hari kalender.

“Beberapa waktu lalu kita selalu bahas baik dengan pemdes, kecamatan atau pun kabupaten. Karena ini memang prioritas bagi kami, tapi belum ada kejelasan yang pasti,” jelasnya.

Pantauan pidjar.com di lokasi, memang jembatan gantung Wonolagi belum terhubung sama sekali. Untuk kerangka atau pondasi sendiri baru berdiri beberapa meter. Tak ada aktifitas pembangunan sama sekali di lokasi tersebut. Di lokasi tersebut, juga terdapat sebuah bangunan layaknya ruangan yang digunakan untuk menyimpan peralatan. Jalur menuju titik ini pun juga agak ekstrem, pasalnya jalanan menurun curam dan untuk cor blok baru satu sisi, sedangkan sisi lain masih terjal. Plakat Akrilik pembangunan sendiri hanya ditaruh bawah tepatnya di pinggir jalan.

Berita Lainnya  Ribuan Anak Terlantar Jadi Catatan Dalam Perayaan Hari Anak Nasional di Gunungkidul

Sementara itu, Kepala Bidang Binamarga, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Kabupaten Gunungkidul, Setyo Koordijanto menjelaskan, pembangunan Jembatan Wonolagi berdasarkan identifikasi sebelumnya termasuk prioritas penanganan menggunakan dana pemerintah pusat, dalam hal ini adalah Balai Besar yang melakukan penanganan. Namun demikian ia tidak bisa mengutarakan secata gamblang lantaran bukan kapasitasnya terkait mangkraknya proyek tersebut.

“Yang menangani adalah pusat. Informasi dari teman di satker P2JN sekarang tahapan melanjutkan pembangunan, dengan pemasangan rangka jembatan dan tengah memasuki tahapan kontrak,” ujar Setyo.

Disinggung mengenai sempat terhenti atau mangkraknya prmbangunan jembatan tersebut ia juga tidak dapat mengungkapkan lebih detail. Ia hanya mendapatkan laporan mengenai proses pembangunan sempat terkendala ketersediaan kerangka jembatan sehingga kemudian terhenti.

“Kalau lebih jelasnya bisa hubungi teman-teman satker,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki membenarkan jika pembangunan jembatan permanen di Padukuhan Wonolagi oleh BNPB terpaksa gagal. Hal ini lantaran sesuai aturan yang berlaku, dalam satu lokasi tidak diperbolehkan adanya pembangunan dari dua program yang berbeda. Maka demikian, pembangunan jembatan permanen dari BNPB terpaksa dialihkan.

“Dulu sudah jadi bahasan bersama. Untuk anggaran 22 miliar yang seharusnya dimanfaatkan untuk pembangunan jembatan permanen dialihkan untuk relokasi dan rehabilitasi sekolah di Kecamatan Saptosari,” ungkapnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler