Budaya
Peringati 1 Suro, Warga Pengkol Arak dan Jamas Pusaka
Nglipar,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Tradisi Kejawen masih sangat melekat erat di kehidupan warga Gunungkidul. Seperti rangkaian acara dalam menyambut tahun baru islam 1440 atau 1 Suro. Di pesisir selatan, masyarakat menggelar sedekah laut atau labuhan untuk mengungkapkan wujud syukur mereka kepada Tuhan atas berkah yang selama ini didapatkan. Kini di bagian utara, tepatnya di Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, masyarakat berbondong-bondong melaksanakan kirab pusaka serta jamasan.
Ketua penyelenggara kirab dan jamasan pusaka Desa Pengkol, Puryanto mengatakan, kirab serta jamasan pusaka telah menjadi agenda rutin selama enam tahun terakhir ini pada setiap peringatan 1 Suro. Ia mengatakan, ada empat pusaka milik warga serta satu pusaka milik Desa Pengkol yang diarak dan dijamas dalam upacara tersebut.
“Pusaka tersebut berupa dua Tumbak Roro Welang, Tumbak Kyai Umbul Katon, Payung Agung dan Cemethi Pamuk yang diambil dari rumah budaya kemudian dipegang oleh Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta dan dikirab ke sebuah tempat bernama Plipah Ki Damar Jati,” kata Puryanto, Selasa (11/09/2018) siang.
Ia mengatakan, sesampainya di lokasi, sesepuh desa lalu menggelar doa bersama masyarakat. Setelah pusaka didoakan, kemudian dilakukan prosesi jamasan yang dilakukan oleh sesepuh desa serta masyarakat umum yang menyukai benda-benda pusaka.
“Tujuan dari jamasan sendiri sebenarnya untuk menjaga kesucian pusaka serta penghormatan kepada leluhur. Selain itu jamasan juga untuk menjaga kebersihan pusaka dari kotoran,” imbuh dia.

Adapun dalam rangkaian acara, turut dipertontonkan sejumlah kesenian tradisional diantaranya gejog lesung, jathilan, reog, serta atraksi silat. Panitia berharap dengan adanya tontonan atau hiburan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerukan atau melestarikan budaya dari nenek moyang.
“Kalau ada hiburannya masyarakat juga senang, banyak yang datang dan menyaksikan setiap prosesi. Sehingga mereka paham dan harapannya nanti kita punya generasi penerus yang akan melanjutkan tradisi ini,” pungkas dia.
Sementara itu, anggota DPRD Provinsi DIY, Slamet Spd mengatakan, tradisi semacam ini adalah budaya yang harus terus dilestarikan oleh masyarakat. Masyarakat juga percaya bahwa dengan melaksanakan prosesi semacam ini, akan mendatangkan berkah sekaligus juga menjauhkan dari bala.
Slamet yang juga merupakan warga Kecamatan Nglipar menambahkan, di sisi lain, pemerintah juga punya kewajiban untuk memperhatikan pembinaan berbagai jenis budaya yang dimiliki masyarakat salah satu contohnya Kirab Pusaka Desa Pengkol. Peran budaya menurut Slamet juga sangat penting dalam membangun daerah.
“Budaya merupakan sesuatu yang sangat mendasar karena menyangkut nilai-nilai kehidupan yang melandasi sebuah tatanan kehidupan bermasyarakat,” kata Slamet.
Slamet mengambil contoh, kemajuan Korea Selatan adalah merupakan contoh nyata bagaimana kebudayaan mereka berhasil dikapitalisasi menjadi produk-produk industri kreatif. Hal ini hanya dimungkinkan jika nilai-nilai budaya mereka telah mengakar kuat sebagai sendi masyarakat.
“Kegiatan semacam ini harus bisa didorong lebih ke arah satu kegiatan yang memiliki fungsi budaya, memiliki fungsi pendidikan dan fungsi menggerakkan ekonomi masyarakat, utamanya rakyat Pengkol,” urai dia.
Slamet mengatakan, adanya Danais sendiri bisa dimanfaakan untuk membiayai kegiatan kebudayaan. Sehingga nantinya, kegiatan kebudayaan bisa semakin sering digelar dan secara langsung bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Ia menambahkan, pentingnya pendidikan kebudayaan adalah pembangunan karakter suatu masyarakat. Hal itu disebut menjadi sesuatu yang mendasar dalam pendidikan kebudayaan dalam keseluruhan program pembangunan yang harus dicanangkan pemerintah daerah.
Saat ini, ada indikasi terjadinya krisis karakter di masyarakat yang telah kehilangan rasa kebudayaan. Terutama krisis karakter semacam ini terjadi pada kalangan generasi muda. Ini harus diantisipasi oleh semua pihak dengan menggencarkan kegiatan budaya yang bisa dijadikan pegangan identitas bagi para kawula muda.
“Peran budaya dalam membangun dan memajukan daerah adalah membentuk karakter dan moral generasi muda. Krisis karakter, generasi muda yang tidak punya prinsip dan integritas adalah indikasi kegagalan pembangunan kebudayaan,” tutupnya.
-
Uncategorized2 hari yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Sosial4 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Sosial2 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized4 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Pemerintahan4 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized2 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized6 hari yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized1 minggu yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Uncategorized3 jam yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Peristiwa4 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Pemerintahan1 minggu yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Uncategorized4 hari yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
