Sosial
Petani Gunungkidul Mulai Kembangkan Pupuk Kohe
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Petani di Kabupaten Gunungkidul sebagian bergantung pada penggunaan pupuk kimia. Jika hal semacam ini terus dilakukan justru dapat merusak kondisi kesuburan tanah pertanian. Belakangan, para petani di Bumi Handayani mulai didorong untuk memanfaatkan pupuk organik yang sekiranya lebih ramah dan hasilnya juga tak kalah baik.
Dalam pemanfaatan pupuk, para petani beranggapan harus mengeluarkan uang yang banyak. Padahal untuk menekan biaya, pupuk organik sangatlah mudah dibuat. Seperti yang dilakukan oleh Budi Wibowo (46) warga Kapanewon Semin yang membagikan cara pembyagan pupuk organik dengan bahan sederhana dan biaya yang cukup murah.
Bahan yang digunakan untuk pembuatan pupuk ini adalah kotoran hewan (kohe) seperti kotoran sapi, kambing atau kotoran ayam yang dipelihara sendiri. Kemudian bahan lainnya bekatul, sekam padi, dan EM4. Caranya, sekam dengan kotoran hewan dicampur, kemudian disiram dengan cairan EM4 yang telah disiapkan sebelumnya. Baru selanjutnya ditaburi dengan bekatul dan ditutup rapat terpal.
“Ditunggu selama 4 hari, setelah itu bisa dicek tumbuh jamur atau tidak, jika sudah tumbuh jamur pupuk itu dapat dimanfaatkan untuk segala tanaman yang kita miliki,” kata Budi.
Untuk biayanya pembuatan pupuk ini sangatlah murah, hanya bermodalkan sekitar Rp 20 ribu saja untuk pembelian EM4 per botol. Jika ingin menekan biaya lagi juga bisa dilakukan. EM4 yang merupakan bakteri mati jika diberi pemanis maka akan hidup dan berkembang. Caranya untuk mengembangkan air 1 botol mineral dicampur dengan 1 sendok makan EM4 kemudian dicampur dengan 3 sendok tetes tebu.

“Itu nanti bisa menjadi cairan aktif yang juga bisa menjadi bahan pembuatan pupuk organik. Meski dengan biaya yang kecil, tapi manfaatnya pada tumbuhan luar biasa,” sambungnya.
Pembuatan dan pemanfaatan pupuk organik ini diharapakan bisa menggugah kesadaran petani untuk lebih ramah lagi dengan lingkungan. Mengembangkan tamaman berkualitas dan sehat. Pasalnya saat ini, makanan organik juga sangat diminati oleh pasaran.
Upaya ini juga untuk melestarokan alam yang ada. Juga tidak menggantungkan diri dengan produk-produk kimia. Terlebih permasalahan sekarang, petani agak kesulitan dalam membeli pupuk kimia.
-
Pemerintahan2 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized2 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Peristiwa2 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized3 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized5 hari yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized7 hari yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized6 hari yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang laluLaka Beruntun Maut 4 Kendaraan di Selang, Seorang Remaja Tewas
