fbpx
Connect with us

bisnis

Petani Tak Jual Beras ke Pasar, Pedagang Gunungkidul Datangkan dari Jawa Tengah

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Produksi beras di Bumi Handayani setiap tahunnya memang cukup baik. Dari segi kualitas maupun kuantitas, padi Gunungkidul sebetulnya tidak kalah saing. Kendati demikian, untuk memenuhi kebutuhan pasar, banyak beras dari wilayah Jawa Tengah masuk ke Bumi Handayani ini.

Salah satu pedagang beras di Kapanewon Ngawen, Suparna mengaku selama ini mengambil beras dari luar maupun dalam Gunungkidul. Namun dari segi kualitas, ia tak menampik, beras dari luar Gunungkidul lebih bagus.

“Dari sisi penjemuran beras dari Gunungkidul ini kurang, jadi gabahnya tidak sebagus dari luar. Saya biasanya ambil dari Jawa Tengah,” kata Suparna.

Suparna menambahkan, dalam satu bulan ia mampu menjual 40 ton beras. Dari jumlah tersebut 20 ton ia ambil dari petani lokal, sedangkan 20 ton sisanya dari Jawa Tengah.

“Karena warung saya di Ngawen yang  beli banyak dari Klaten, harga beras yang saya beli dari petani tergantung kualitas. Mulai dari Rp. 8.500,- hingga Rp. 11ribu per kilogram,” papar Suparna.

Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Gunungkidul, Yuniarti Ekoningsih mengatakan, beras yang beredar di pasar memang diambil dari Delanggu dan Klaten. Meskipun surplus ratusan ribu ton, menurutnya beras di Gunungkidul memang jarang ditemui di pasar.

“Memang sudah ada yang kualitasnya gak jauh beda sama yang dari Delanggu atau Klaten, tapi baru ada satu produksi Ponjong itu sudah dipack dan bagus berasnya,” kata Yuni.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono menyebut, tahun 2021 ini luas lahan produktif di Gunungkidul terdapat 48.491 hektare. Dari jumlah tersebut area persawahan memiliki luas lahan 7.864 hektare. Sedangkan untuk area ladang tadah hujan yang menghasilkan padi gogo ada 40.627 hektare.

“Kami di tahun ini masih optimis, kebutuhan beras di Gunungkidul tetap surplus, karena di musim tanam saja sudah menghasilkan 284.270 ton beras,” ungkap Raharjo, Selasa (30/03/2021).

Raharjo menambahkan, di tahun 2020 lalu penduduk di Gunungkidul berjumlah 782.095 jiwa. Rerata dalam setahun, kebutuhan beras per kapita per tahun yakni 79,6 kilogram.

“Hasil panen pada 2020 terdapat 291.791 ton gabah, dikonveksikan menjadi beras sebanyak 184.003 ton beras. Jika dihitung surplus beras sekitar 122.848 ton pada tahun 2020,” jelas Raharjo.

Kendati demikian, Raharjo tak menampik jika beras produksi petani lokal ini tidak bisa memenuhi kebutuhan beras seluruh warga Gunungkidul. Hal ini lantaran hampir dari 90% petani Gunungkidul lebih memilih memyimpan beras dari pada di jual.

“Sehingga mereka yang tidak bertani membeli beras yang bukan produksi Gunungkidul,” tutur Raharjo.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler