fbpx
Connect with us

Sosial

Peternak dan Pemerintah Panen Pedhet di Pasar Hewan Siyonoharjo

Published

on

Playen,(pidjar.com)–Sebagai langkah untuk terus menambah populasi sapi di Gunungkidul, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus menggenjot program Upaya Khusus Indukan Sapi Wajib Bunting (UPSUS SIWAB). Sejauh ini, program yang dijalankan sejak tahun 2017 silam berupa inseminasi buatan, pemeriksaan kebuntingan dan penanganan gangguan reproduksi ini dinilai telah on the track dan berhasil menambah populasi sapi Gunungkidul.

Pada Senin (07/05/2018) siang tadi, pemerintah memamerkan pedhet-pedhet (anak sapi) yang dihasilkan dari program tersebut. Kegiatan panen pedhet di Pasar Hewan Siyonoharjo sendiri juga diselenggarakan sekaligus sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah atas berjalannya program pada setahun terakhir ini.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto memaparkan, pedhet-pedhet yang dipamerkan ini merupakan anakan hasil inseminasi buatan yang diambil secara random dari seluruh peternak di Gunungkidul yang berhasil membuntingkan ternak miliknya. Selain pameran, pihaknya juga pada kesempatan ini memberikan layanan penyuntikan gratis serta pemberian obat cacing. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan bisa menambah motivasi para peternak di Gunungkidul untuk terus mengikuti program ini.

“Sehingga pada akhirnya populasi sapi di Gunungkidul bisa terus kita tingkatkan,” tandas Bambang di sela-sela kegiatan, Senin siang.

Sejauh ini, program UPSUS SIWAB sudah berjalan cukup baik dan dirasa hampir memenuhi target. Pada tahun 2017 lalu, realisasi yang telah tercapai adalah untuk inseminasi buatan telah mencapai angka 42.097 ekor sapi yang berarti telah 93,55% dari target yang ditetapkan sebanyak 45.000 ekor. Sementara untuk penanganan gangguan reproduksi justru melebihi target yakni sebanyak 3.188 ekor dari target yang hanya ditetapkan sebanyak 2.930 ekor. Meski demikian, untuk tingkat kebuntingan sendiri masih cukup rendah yaitu hanya menyentuh angka 3.297 ekor atau hanya 8,69% dari target sebanyak 38.000 ekor.

Sementara untuk Hijauan Pakan Ternak (HPT) untuk mendukung program tersebut, pada 77 kelompok atau 160 Hektare. Realisasi HPT, Kaliandra 11.900 bibit, Indigofera 21.500 bibit, rumput gajah 883.500 dan rumpu odot 716.000 bibit.

“Semua penanaman HPTsudah dilakukan dan didistribusikan sejak Juli 2017 silam,” urainya.

Adapun pada tahun 2018 ini, dinas menargetkan bisa menyentuh akseptor sebanyak 45.000 ekor, target penanganan reproduksi 2.000 ekor, target kebuntingan 38.000 ekor, dan target kelahiran 26.543. Hingga pertengahan tahun 2018 ini, telah direalisasikan sebanyak PKB 6.477 ekor, IB 19.836 (44,08%), Bunting 3.961 (12,47%), kelahiran jantan 1.169, betina 1.064 ekor, penanganan gangguan reproduksi 506 ekor (25,3%).

“Akan terus kita dorong hingga bisa berjalan maksimal,” tandas dia.

Sementara Bupati Gunungkidul, Badingah dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Gunungkidul, Asman Latif mengapresiasi kerja keras dari seluruh instansi maupun peternak dalam menyukseskan program UPSUS SIWAB ini. Capaian ini merupakan buah kerja keras dari seluruh pihak dalam bersama-sama memajukan populasi sapi di Gunungkidul.

“Semangat peternak adalah pertanda positif untuk mendukung misi pemerintah mempercepat target pemenuhan sapi potong,” ujarnya.

Badingah sendiri tidak mempermasalahkan masih belum tercapainya target yang ditetapkan. Ke depan, ia meminta semua pihak untuk bekerja lebih keras lagi sehingga target-target yang dicanangkan tersebut bisa secepatnya tercapai. Ia sangat berharap Gunungkidul nantinya bisa menjadi daerah yang menjadi sentra produksi sapi potong dan memenuhi kebutuhan tak hanya di dalam daerah saja namun juga berbicara banyak di tingkat nasional.

“Keberhasilan program ini akan menjadikan masyarakat Gunungkidul, khususnya peternak mampu berdaya saing dan tentu menjadi lebih sejahtera,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler