fbpx
Connect with us

Politik

Pilkada Gunungkidul, Tokoh Muhammadiyah Siap Kembali Berseberangan Dengan PAN

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Mendekati pelaksanaan Pilkada Gunungkidul pada 9 Desember 2020, suhu politik saat ini mulai panas. Adanya pencalonan Immawan Wahyudi dengan Martanty Soenar Dewi dan Sutrisno Wibowo dengan Mahmud Ardi Widianto dapat menjadikan perpecahan antara PAN dan Muhammadiyah. Pasalnya Immawan sendiri merupakan mantan kader PAN dan merupakan pentolan Muhammadiyah, sehingga membuat potensi perpecahan di arus bawah dengan pilihan yang berbeda itu.

Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammdiyah (PDPM) Gunungkidul, Arif Darmawan mengungkapkan, perpecahan PAN dan Muhammadiyah sudah terjadi sejak Pileg 2019 lalu. Pasalnya Muhammadiyah seolah dikooptasi oleh partai. Sebagai contohnya, pada pemilihan DPD kemarin, Muhammadiyah memiliki kecenduruangan mendukung Afnan Hadikusumo dan bersebrangan dengan PAN.

“Ada perbedaan pendapat dan dukungan,”kata Arif Darmawan.

“Arahnya kemana kami sulit untuk menganalisa karena tidak ada instruksi secara langsung. Sehingga arus bawah terpecah, ada yang ke pasangan lain dan ada yang ke pasangan Immawan Martanty,” imbuhnya.

Namun demikian, para petinggi dan pemimpin wilayah Muhammadiyah (PWM) tersirat untuk mendukung Immawan Wahyudi dengan alasan sudah teruji memberikan dampak positif selama kepemimpiananya.

Berita Lainnya  JCW: Politik Uang Lahirkan Pemimpin Korup

“Kami harapkan semua masyarakat Muhammadiyah satu suara dengan yang lain, dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan keunggulan yang ada,” jelasnya.

Lembaga Hikmah Dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Yogyakarta Muhammad Saleh Tjan meminta warga Muhammadiyah untuk mengawal kader persyarikatan dalam Pilkada Gunungkidul tahun 2020. Menurutnya sangat penting kader dalam mengawal terselenggaranya Pilkada agar mendapatkan pemimpin yang sesuai, amanah dan memiliki bobot dalam pengetahuan dan pengalamannya.

“Penting bagi Muhammadiyah untuk terus mengawal kader tulen persyarikatan yang berikhtiar di jalur politik. Sebab ada jalur pengkaderan yang harus dibangun oleh Muhammadiyah untuk berusaha meluruskan kiblat bangsa,”ujarnya, Muhammad Saleh Tjan.

Ia menegaskan, organisasi Muhammadiyah bukanlah partai politik, namun demikian walaupun tidak terikat pada partai politik, masyarakat harus mengawal dan memberikan akses para kader terbaik itu harus mengisi ruang-ruang Politik.

“Kedepan PWM akan membuka sekolah kader politik, “imbuhnya.

Minggu kemarin, dilakukan kegiatan reses oleh anggota DPD RI Afnan Hadikusumo membagikan werles ke sejumlah 90 cabang dan ranting Muhammadiyah yang tersebar di Kabupaten Gunungkidul.

Berita Lainnya  Mengenal Sepak Terjang Suharno di Partai Nasdem dan Ambisinya Birukan Gunungkidul

Dalam sambutannya Afnan mengatakan, kegiatan reses ke beberapa Ranting dan Cabang di Kabupaten Gunungkidul tersebut tidak lain hanya untuk bersilaturahmi dengan para kader Muhammadiyah. Anggota DPD RI bidang Sumber Daya Alam (SDA) serta Sumber Daya Ekenomi itu disambut oleh para tokoh dan sesepuh Muhammadiyah.

“Sebagai kegiatan silaturahmi saja. Di Cabang maupun ranting wilayah Gunungkidul, “ujar Afnan.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler