Sosial
PPKM Terus Diperpanjang, Jadi Ujian Kemampuan dan Kemauan Pemkab Selamatkan Perekonomian Warganya
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pemerintah Republik Indonesia kembali memperpanjang Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2 3 dan 4 untuk wilayah Pulau Jawa dan Bali. Perpanjangan sendiri dimulai pada 24 Agustus hingga 30 Agustus 2021 mendatang. Pemerintah sendiri telah beberapa kali memperpanjang kebijakan PPKM ini yang mulai berlaku sejak 3 Juli 2021 silam.
Untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, PPKM ditetapkan masih menduduki Level 4. Di mana konsekuensi dari kebijakan ini adalah penutupan seluruh lokasi wisata selama penerapan kebijakan masa PPKM Level 4 ini.
Tentu perpanjangan PPKM ini kian mebuat sejumlah masyarakat menjerit. Tak hanya pelaku usaha jasa wisata saja, sejumlah seniman juga tertampar dengan kembali diperpanjangnya PPKM Level 4. Pertunjukan pagelaran kesenian dan juga hajatan yang sebelumnya menjadi gantungan hidup para seniman memang juga dilarang untuk dilaksanakan.
Salah seorang seniman yang kalang kabut dengan kebijakan PPKM ini adalah Subardi, dalang asal Padukuhan Timunsari, Kalurahan Hargosari, Kapanewon Tanjungsari. Selama hampir dua tahun, ia mengaku tidak mendapatkan job. Untuk bertahan hidup, ia bahkan harus menjual sejumlah asetnya lantaran uang tabungan pun juga sudah habis untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Saya itu dulu sempat punya 6 sapi, sekarang tinggal dua. Ya gimana, harus tetap makan, anak-anak juga harus tetap sekolah,” ungkap Subardi, Selasa (24/08/2021) siang.

Subardi mengaku, dua sapi sisa yang belum jual pun juga renacananya akan dijual tidak lama lagi. Ia semakin kembang kempis di ambang ketidakpastian kapan penerapan PPKM Level 4 berakhir.
“Saya kemarin sempat dapat job wayangan di Ngleri meski kemudian dibubarkan petugas, untung sudah dibayar full. Jadi bisa bayar kru dan soundsystem,” lanjut dia.
Ia berharap ke depan pemerintah dapat lebih memperhatikan para pelaku seni. Selama ini, para pelaku seni hanya berkutat pada larangan saja tanpa adanya solusi dari pemerintah. Ia merasa, para pelaku seni seperti dirinya tidak diberi kesempatan untuk pentas.
“Tolonglah ayomi para seniman dan seniwati supaya bisa tetap hidup,” pintanya.
Sementara itu, Sosiolog Universitas Gadjah Mada AB Widyanta menilai, PPKM berlevel yang menjadi kebijakan pemerintah ini diterapkan untuk mendesentralisasi otoritas dan kewenangan pemerintah kabupaten agar memiliki Art to Govern. Di mana berbagai persoalan publik dan ketidakberesan sosial di wilayahnya masing-masing harus segera diselesaikan.
“Pemkab dituntut untuk lebih peka atau sensitif terhadap persoalan masyarakatnya. Pejabat publik di daerah sekarang diuji untuk mengerahkan segala daya upaya terbaik mereka untuk kepentingan publik,” ujar pria asal Kapanewon Paliyan tersebut.
Utamanya, Pemkab perlu menyadari bahwa pariwisata dan seni merupakan sektor paling terhantam dalam pandemi Covid19. Menurutnya, pelu perencanaan strategi dan kontinjensi agar perekonomian lokal tetap menggeliat. Ini menjadi penting untuk mengantisipasi gejolak dan permasalahan sosial di masyarakat.
“Kecerdasan, kepekaan kreativitas dan resiliensi Pemkab diuji selama masa PPKM ini. Sektor-sektor pertanian yang selama ini diabaikan sesungguhnya bisa menjadi jaring pengaman sosial bagi daerah untuk survive atau bahkan menggeliatkan perekonomian lokal,” papar AB.
Seharusnya, PPKM juga memberi pelajaran berharga bagi Pemkab Gunungkidul dan masyarakat untuk tidak dengan mudah mengabaikan sektor pertanian sebagai soko guru pangan dan perekonomian lokal. Menurutnya, refocusing anggaran bisa dioptimalkan untuk menghidupkan kembali sumber ekonomi produktif lokal terutama yang berkaitan dengan sumber pangan bagi masyarakat.
“Waktunya kita menyiapkan perpaduan antara kekuatan sumber-sumber pangan dan transformasi pengolahannya agar menarik untuk dipasarkan dan dikonsumsi bila saatnya nanti pariwisata akan kembali hidup paska pandemi selesai,” ujarnya.
Dari situlah, masyarakat dan pemerintah bisa menyiapkan kantong-kantong kalurahan yang kaya dengan biodiversitas pangannya. Sehingga diharapakan semua lapisan masyarakat bisa merintis sistem gastronomi untuk memperkuat pariwisata masa depan.
“Cita-citanya para petani bisa berkarya dan hidup secara bemartabat, pelaku sektor pariwisata juga akan berlimpah rejeki dengan itu semua. Sehingga kemaslahatan perekonomian lokal akan bisa dinikmati oleh masyarakat di seluruh wilayah, itulah konsep ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya,” tandas AB.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized3 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu7 Hektare Lahan Jati di Bodoyo Terbakar
-
Uncategorized4 minggu yang laluVaksin PMK Gunungkidul Tersisa 22.975 Dosis, Dikejar hingga Ternak Sasaran Terpenuhi
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized4 minggu yang laluABK Asal Riau Meninggal Saat Melaut di Perairan Kawasan Sadeng
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Serentak Gunungkidul, 2 Kalurahan Ajukan Seleksi Tambahan
