fbpx
Connect with us

Sosial

Memori TV Hadiah Sultan Untuk Warga Gari, Pengganti Kayu Jati Yang Digunakan Pembangunan Masjid Kauman

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Pernah datang ke Masjid Kauman, Yogyakarta? Bangunan masjid yang sangat dikenal oleh masyarakat DIY bahkan dari luar DIY dan sering dikunjungi untuk beribadah ini ternyata salah satu bagian pokok bangunannya menggunakan kayu jati yang berasal dari Kabupaten Gunungkidul. Yang menarik, pohon jati berukuran besar yang tumbuh di Sumber Gari, Kalurahan Gari, Kapanewon Wonosari sempat diminta langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Kayu jati berukuran besar tersebut kemudian ditukar dengan sebuah TV oleh Ngarsa Dalem.

Salah seorang warga Gari, Sugeng (60) menceritakan, di perbatasan Padukuhan Gari dan Jamburejo terdapat tanah sultan ground yang cukup luas. Di lokasi itu, ada 2 buah mata air yang sering disebut Sumber Gari oleh warga setempat. Pada masa itu, di sekitaran sumber terdapat sebatang pohon jati yang ukurannya besar dan sudah cukup tua. Kebetulan pada masa itu, dari pihak Kraton sedang mencari kayu jati untuk bangunan Masjid Kauman.

Mengetahui adanya jati berkualitas bagus di Sumber Gari, Sri Sultan Hamengkubuwono IX berkenan menggunakan kayu tersebut. Sebagai gantinya, pihak kraton kemudian memberikan sebuah TV hitam putih merk National untuk warga masyarakat Kalurahan Gari sebagai gantinya. Kala itu pada tahun 1982an, televisi memang menjadi barang mewah yang istimewa. Tak banyak orang yang mempunyai barang satu ini.

“Pada saat itu yang datang ke sini adalah putra Ngarsa Dalem yaitu KGPH Mangkubumi yang sekarang menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X. Beliau memberikan TV tersebut sebagai hadiah dan pengganti kayu jati yang diminta kraton tersebut untuk masyarakat Gari,” kata Mbah Sugeng, Selasa (24/08/2021).

TV pemberian Ngarsa Dalem ini kemudian ditempatkan di rumah Dukuh setempat. Saat ada acara-acara tertentu seperti tayangan kethoprak, warga berduyun-duyun datang untuk menonton tv tersebut. Karena pada saat itu belum ada listrik maka untuk menghidupkannya hanya menggunakan aki.

“Kalau dulu masih gayeng pas mau nonton warga kumpul jadi satu. TV ini dijaga betul oleh warga, jadi tidak setiap hari dihidupkan, hanya waktu tertentu saja,” ucap mbah Sugeng.

Puluhan tahun berlalu, TV pemberian Raja Mataram tersebut hingga sekarang masih ada dan tersimpan ruang kerja Lurah Gari. Menurut warga, barang mewah pada masanya tersebut memang dianggap sebagai kenang-kenangan masyarakat dengan raja mereka.

Sementara itu, Lurah Gari, Widodo menambahkan, televisi hitam putih hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX itu saat ini tidak digunakan lagi. TV itu juga sudah dalam kondisi rusak. Namun begitu, keberadaan TV ini menjadi sebuah kenang-kenangan yang berharga bagi warga Gari.

“Kami simpan di Kalurahan, karena kondisinya rusak tidak kami masukkan dalam aset kalurahan. Ya disimpan dan dirawat saja sebagai kenang-kenangan,” imbuhnya.

Pihaknya memutuskan, barang itu akan terus dirawat oleh Pemerintah Kalurahan. Jikapun pada kemudian hari ada yang menawar, pihaknya tidak akan menjual dengan harga berapapun.

Di Sumber Gari dulunya juga ditanam pohon Keben akan tetapi sudah mati. Kemudian tumbuh Beringin tua dan satu pohon Jaranan. Saat ini, sumber ini sudah tidak berfungsi lagi. Ada keprihatinan tersendiri mengingat dulunya sumber air tersebut dapat menghidupi dan memenuhi kebutuhan air warga Gari.

Karang Taruna setempat kemudian berupaya untuk melakukan pengembangan dan berusaha menghidupkan kembali sumber mata air ini. Program karang taruna yang digagas dan segera akan dieralisasikan adalah menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang publik yang asri.

“Sudah mulai mempersiapkan realisasi program yang kami gagas. Yaitu nanti kawasan sumber yang ditumbuhi pohon besar (resan) akan dilengkapi dengan berbagai jenis tanaman lain sehingga menjadi ruang publik terbuka yang bisa dijadikan lokasi berbagai kegiatan,” ucap tokoh pemuda setempat, Septian Nurmansyah.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler